Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail

Jemaah salat Iduladha di Mesjid Baitul Istiqamah Teupin Raya. @Ihan Nurdin/aceHTrend

ACEHTREND.COM, SIGLI – Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh, Teungku H. Muhammad Hatta, mengingatkan masyarakat Aceh khususnya jemaah salat Iduladha di Mesjid Baitul Istiqamah, Teupin Raya, Pidie agar senantiasa meneladani sifat-sifat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam hal ketaatan kepada Allah Swt.

Berkaca dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kata Teungku Muhammad Hatta, ada hal-hal yang bisa dijadikan pedoman oleh umat Islam. Contohnya meneladani ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah Swt. Karena kecintaannya kepada Allah, Nabi Ibrahim bahkan rela mengurbankan putra tercintanya Nabi Ibrahim.

“Disebutkan ketika Nabi Ismail sudah bisa berlari, sudah bisa membantu orang tuanya, Nabi Ibrahim bermimpi untuk menyembelih anaknya yang sudah lama tidak ia temui,” ujar Teungku Muhammad Hatta menceritakan penggalan kisah tersebut.

Tiga malam berturut-turut Nabi Ibrahim memimpikan hal yang sama, yakni pada tanggal 7, 8, dan 9 Zulhijah. Pada malam kedua ia masih ragu-ragu apakah mimpi tersebut datangnya dari Allah sehingga pada 8 Zulhijah itu disebut dengan hari Tarwiyah atau keragu-raguan. Barulah setelah mimpi pada malam berikutnya Nabi Ibrahim mendapat keyakinan dan hari tersebut disebut dengan hari Arafah. Pada 10 Zulhijah prosesi kurban dilakukan diiringi dengan takbir kepada Allah.

Nabi Ibrahim lantas menceritakan perihal mimpinya kepada Nabi Ismail dan meminta pendapat putranya. Nabi Ismail menjawab agar ayahnya melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah.

“Ini bukti kepatuhan anak pada orang tuanya, ketaatan kepada Allah. Kita wajib menjunjung perintah Allah. Semoga di hari istimewa ini kita semua mendapat maaf dari orang tua kita. Sudah sepatutnya kita mengingat hadis Rasul tentang keutamaan berbakti kepada kedua orang tua,” katanya.

Dalam kisah ini juga perlu diteladani bagaimana kepatuhan Siti Hajar kepada suaminya. Seorang istri wajib menaati suaminya selama tidak melanggan syariat Islam.

Kepatuhan Siti Hajar kepada suaminya dan ketaatannya kepada Allah terbukti pada sikap patuhnya yang tidak komplain ketika ditempatkan di lembah tandus di Mekah Al Mukarramah oleh Nabi Ibrahim. Ia rela berpisah dari suaminya dan tinggal di lembah padang pasir yang tandus dengan bekal makanan seadanya. Namun karena kasih sayang Allah di lokasi tempat mereka tinggal tersebut muncul mata air dari bawah kaki Nabi Ismail yang dikenal sebagai sumur zamzam.

Teungku Muhammad Hatta kemudian menceritakan, saat Nabi Ibrahim hendak menyembelih putranya, pisau yang telah berada di leher Nabi Ismail tidak mampu menembus lehernya karena tidak ada izin dari Allah.

“Pendidikan yang bisa kita ambil semua itu bisa terjadi karena kekuasaan dan izin Allah. Allah lantas menggantikannya dengan seekor kibas dari surga. Diriwayatkan kibas ini merupakan kibas yang disembeli Kabil dan Habi yang ditempatkan oleh Allah di surga.”

Anjuran berkurban ini katanya telah disyariatkan kepada umat Islam hingga akhir zaman nanti.

Teungku Muhammad Hatta juga menjelaskan tentang keistimewaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah ini. Selama hari tersebut orang-orang Islam mempunyai kesempatan untuk melaksanakan kelima rukun Islam sekaligus. “Bagi kita yang tidak bisa berhaji bisa dengan berkurban,” katanya.[]