Tradisi Peusijuek pun Diperlakukan Pada Hewan Kurban

ACEHTREND.COM, SINGKIL–Tradisi peusijuek atau tepung tawar di Aceh bukan saja dilakukan pada saat terjadinya perselisihan, saat mulai menanam padi, menempati rumah baru, saat pernikahan, dan prosesi ritual sakral lainnya.

Melainkan juga, diperlakukan dalam prosesi penyembelian hewan kurban (peusijuek keurubeuen) pada setiap tibanya hari raya Idul Adha.

Paling tidak praktik tradisi ini AceHTrend saksikan begitu kental dan sakral di beberapa daerah belahan Barat-Selatan Aceh, seperti Aceh Selatan, Subulussalam, dan Aceh Singkil.

Berdasarkan pengamatan dan laporan sumber AceHTrend di tiga daerah itu, hari raya Idul Adha 1439 H tahun ini, sebelum binatang kurban disembelih terlebih dahulu dilakukan peusijuek terhadap hewan tersebut.

Sebanyak tujuh orang yang berkurban, secara bergiliran menyerak atau menabur beras yang telah dilumuri kunyit dan memercikkan air pada tubuh hewan kurban.

Menariknya, air yang dipercikan menggunakan berbagai jenis rumput seraya mulut yang berkurban komat-kamit, membaca takbir, ayat-ayat tayyibah, dan doa-doa khusus.

“Rasanya kurang afdhal, jika pelaksanaan kurban tidak dilengkapi dengan peusijuek. Ini sudah tradisi turun temurun,” ucap Latifah seorang warga Gosong Telaga Selatan, Aceh Singkil.

Menurut keterangan Latifah kepada AceHTrend, Rabu (23/8/2018), dalam budaya masyarakat Aceh, tradisi peusijuek atau tepung tawar berfungsi untuk memohon keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan.

“Jadi, fungsi peusijuek pada hewan kurban berupa bentuk permohonan keselamatan dan kebahagian agar hewan kurban nanti bisa berperan sebagaimana yang telah dipermaklumkan dalam ajaran Islam,” tutur Latifah.

Kemudian orang yang berkurban, tambah Latifah, dikuatkan iman dan ikhlas dalam menunaikan ibadah kurban.

Pokoknya, bagi masyarakat, setiap prosesi peusijuek yang dilakukan pada hewan kurban memiliki filosofi dan arti khusus.

Karena itu, peusijuek sudah menjadi tradisi yang sakral dan masyarakat selalu melakukannya setiap tiba hari raya Haji.

Begitu juga di Kota Subulussalam, menurut keterangan Nukman Suryadi, sebelum penyembelian kerbau, sapi atau hewan kurban lainnya, terlebih dahulu hewan tadi diserak dengan beras kuning dan dipercikan air oleh si pemilik kurban secara bergantian.

Setelah itu, baru hewannya disembelih tukang jagal. “Jika peusijuek belum dilakukan, rasanya penyembelian hewan kurban kurang sempurna dan si penyembelih mempertanyakan apakah kurban telah dipeusijuk,” ungkap Nukman.

Hasrul seorang warga Sawang, Aceh Selatan menimpali, di daerahnya Aceh Selatan, selain dipeusijuek, hewan kurban tadi dimandikan dengan air sabun dan shampoo. Setelah dimandikan. Lalu, tubuhnya dilap dengan menggunakan handuk.

Kemudian hewan kurban tadi disisir, disolek, dilumuri bedak, dan dipercikkan parfum yang beraroma wangi. Malah, ada yang dicerminkan dengan cermin yang telah disediakan.

Setelah itu, tambah Hasrul, hewan korban dikenakan kain putih. Biasa ukurannya, sepanjang dan selebar badan hewan.

“Makna dan pilosofinya ingin meniru kecantikan buraq, kendaraan yang digunakan Rasulullah saat melaksanakan Israq Mikraj,” ungkap Hasrul.

Alat dan perlengkapan peusijuek itu, terang Hasrul, disediakan dan dibawa dari rumah oleh orang yang berkurban dengan menaruhnya di wadah sejenis talam.[]