Catatan Relawan Aceh di Lombok: Merayakan Iduladha Bersama Korban Gempa

Oleh: Muhammad Iqbal*

Detak jarum jam terus berputar, aku masih duduk di bawah pohon trembesi dekat lapangan bola kaki Lawata, di Kota Mataram. Lapangan tempat Lalu Muhammad zohri biasa berlatih. Tak terasa sudah pukul 22.00 WIT. Aku belum salat Isya rupanya. Padahal masjid di depan mata. Ada satu hal yang membuatku mengurungkan niat untuk berjamaah, hanya masalah khilafiah, tapi aku sangat menjaga hal yang seperti itu.

Selesai berwudu, kucari tiang sebagai batasan agar tak ada yang melangkahi saat salat di dalam masjid. Baru dua rakaat tiba-tiba listrik padam, dari yang setengah gelap kini menjadi gelap gulita. Hanya pantulan rembulan dari ventilasi jendela yang menerangi tempatku bersujud. Pikiranku mulai kacau, firasat batin mengatakan sepertinya akan terjadi suatu hal, apakah itu gempa atau bukan, aku tetap melanjutkan salat sampai selesai. Andai pun gempa terjadi, tsunami sekalipun utang tetap harus dibayar, aku tak mau mati di bawah reruntuhan masjid dalam keadaan tak salat.

Dalam gelap malam, keheningan berubah menjadi kegelisahan para pengungsi di tenda depan masjid. Aku tetap bermunajat meminta keampunan dan keselamatan untuk warga Lombok. Tak ada doa yang lebih aku pinta selain itu.

Anta a’lamu halana, ya Allah. Berikan rasa aman dalam jiwa kami, tabahkan kami, kokohkan iman kami dalam menghadapi cobaan ini, tambahkan kesabaran kami. Amin.”

Selawat kepada Rasul menutup doa malam sebelum ke luar masjid. Saat beberapa orang sudah berkumpul di jalan sambil menunjuk ke arah laut, kata mereka ada bintang jatuh tadi.

“Ya sudah Bik Nur, gak usah dipikirin. Mending kita tidur aja. Dari pada mati stres mikirin yang gituan,” ajakku kepada Bik Nur sambil masuk ke dalam mobil box. Aku hanya mencairkan ketegangan. Aku punya prinsip sesuai ajaran dari guruku. Ke mana pun kamu pergi kalau sudah waktunya mati ya mati. Semua sudah tersurat.

Angin pun semakin berembus kencang, bagi yang sistem imun lemah, tidur dalam keadaan seperti ini akan mudah sakit. Semakin berembus, dinginnya semakin menembus kulit dan menusuk tulang.

Kutarik selimut sampai menutup muka, cahaya layar smartphone sedikit kukecilkan, agar tak mengganggu Farhan yang tidur di sampingku. Kedua jempolku saling mencari letak huruf untuk menyusun kata demi kata sebelum tulisan ini nantinya dibaca. Aku tak peduli lagi keadaan di luar, sekalipun di seberang jalanan sana suara kendaraan sudah penuh, suara klason saling berbalas, seperti balasan pantun orang Betawi.

Hari ini adalah lebaran kedua, di hari pertama aku dan keluarga Bang Is salat di halaman parkir Mal Epicentral Lombok. Pulang dari sana kami sekeluarga ke rumah Ninik, ibu mertua Bang Iskandar. Opor ayam dan lontong menjadi menu utama di rumah keluarga besar Buk Parman. Untuk pertama kalinya aku makan opor ayam, di Lombok. Biasanya chef Rudi Khoiruddin selalu membuatku lapar saat beliau masak opor di program memasak salah satu televisi swasta. Tentu berbeda dengan menu lontong di Aceh yang lazimnya dengan menu lontong sayur dan mi caluek.

“Apa program selanjutnya?” tanya Bang Zam.

“Insyasllah, selanjutnya kami akan mengantarkan kurban amanah donatur Yayasan Tetesan Zamzam yang kemarin.”

Saat kambing tiba, anak-anak di pengungsian berlari kencang melihat kambing hitam besar diturunkan. Kambing kurban ini kambing batangan kalau orang Lombok menyebutnya. Berbeda dengan kambing etawa yang tingginya hampir sebesar anak sapi.

“Bismillahirahmanirrahim.” Doa yang dibaca Pak Ustad sebelum memotong leher hewan kurban. Golok yang digunakan itu menyayat putus urat halqum. Darah merah yang mengalir deras itu kelak menjadi saksi di akhirat dan ternak yang dipotong itu menjadi kendaraan bagi yang berkurban.

Ibu-ibu di pinggir jalan melihat proses pemotongan, anak-anak mengerumuni kambing yang digantung di bawah pohon nangka untuk dikuliti. Untuk kali ini, kurban dimasak dan dimakan bersama-sama. Kalau pun dibagi-bagi, tidak akan cukup untuk 100 orang pengungsi di sawah yang tak seberapa luas itu. Setidaknya ada kebersamaan dalam menikmati beberapa potong daging kambing yang kami beli di Lombok Tengah.

Foto-foto kebersamaan saat proses penyembelihan kukirimkan kepada donatur sebagai pertanggungjawaban kalau kurban telah disalurkan. Semoga Allah membalas kebaikan teman-teman yang telah membantu saudara-saudara kita di Lombok.[]

Lapangan Lawata,Lombok 23 Agustus 2018

*Muhammad Iqbal ialah Koordinator Lapangan Yayasan Tetesan Zamzam. Saat ini sedang menjadi relawan di Lombok.

Editor: Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK