Semua Kita Adalah “Ibrahim”

Oleh Muhammad Syawal Djamil *)

Dalam kurun waktu setahun, umat Islam memiliki lima hari raya. Hari yang dalam persepsi umat Islam sebagai hari sakral dan menjadi momentum untuk mengumpulkan pahala sesuai dengan anjuran Allah. Satu hari di awal bulan Syawal, yang dinamakan dengan hari raya idul Fitri, dan empat hari lagi di bulan Zulhijjah (10,11,12, dan 13) yang dinamakan dengan hari raya Iduladha. Kelima hari ini merupakan hari yang disambut dengan suka cita oleh semua umat Islam di dunia.
Pekan ini, umat Islam di manapun keberadaanya, dipastikan sedang dalam gembira merayakan hari raya Idul Adha.

Nah, jika dipahami hari raya Iduladha, yang sedang dirayakan ini, memiliki makna historis dan makna sosial. Secara historis, hari raya Iduladha berawal dari sejarah Nabi Ibrahim AS yang ingin mengurbankan putra pertamanya dari Siti Sarah yang bernama Ismail AS –meskipun ada juga yang mengatakan yang ingin diqurbankannya adalah Nabi Ishaq AS putra dari Siti Hajar. Karena ketangguhan imannya dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah yang bisa dikatakan “dilematis” bagi Ibrahim, lalu Allah menggantikannya dengan seekor domba.

Allah hanya menguji sejauh mana level keimanan Nabi Ibrahim AS. Konon, proses lahirnya perintah ini didasari oleh adanya nazar dari Nabi Ibrahim, yang sangat menginginkan adanya karunia seorang anak. Lantas, dalam banyak riwayat disebutkan, Nabi Ibrahim berdialog dalam dalam doanya bahwa jika seandainya Nabi Ibrahim AS dikarunia seorang anak maka Nabi Ibrahim akan melaksanakan apapun yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Makanya, bagi Nabi Ibrahim AS, mengurbankan anaknya adalah perintah Allah yang mesti diterima dengan ikhlas dan ditunaikan. Meskipun beliau sudah menunggu dengan durasi waktu yang lama untuk kehadiran putra pertamanya. Tentu adanya perintah untuk mengurbankan anaknya merupakan sebuah ujian yang sangat berat bagi Nabi Ibrahim AS.

Sebagai generasi Islam di penghujung umur dunia, kita harus memahami, bahwa proses Nabi Ibrahim AS yang bersedia dalam mengurbankan anaknya merupakan sebuah ibrah pendidikan yang mau tidak mau, harus dijadikan sebagai suri teladan (role model) bagi kita dalam menjalani kehidupan ini, yang sifatnya adalah sementara.

Kita harus sadar, semua kita adalah “Ibrahim”. Allah menitipkan “Ismail” pada kita semua. Keluarga yang harmonis, kekayaan, dan jabatan merupakan Ismail yang selalu kita cintai dan kita sayangi. Sebagai “Ibrahim” kita juga harus siap jika Allah menginginkan untuk “menyembelih” Ismail yang kita punya.
Karena, dengan menilik makna historis qurban tersebut, serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS itu tidak semata-mata hanya persoalan menyembelih hewan di waktu hari Iduladha. Tetapi menjadi sebuah misi yang berkorelasi dengan keteguhan iman dalam menerima setiap ujian dan menjalankan perintah Allah SWT.

Sedangkan secara sosialnya, proses kesediaan Nabi Ismail AS untuk diqurbankan oleh ayahnya Nabi Ibrahim AS menunjukkan adanya komunikasi yang baik antara seorang ayah sebagai pimpinan keluarga dengan anaknya sebagai anggota atau bawahan dalam keluarganya.
Sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim AS mendahulukan musyawarah dan dialog dengan anaknya untuk menjalankan perintah Allah SWT. Nabi Ismail AS pun bersedia untuk dijadikan sebagai jalan perintis predikat mulia di hadapan Allah SWT setelah mendengar penuturan dari Ayahnya tersebut.

Karena itu, berkaca dari Nabi Ibrahim, sebagai seorang ayah (tentunya yang sudah berkeluarga) harus mendahulukan sikap musyawarah dengan anak. Setiap kebijakan dan keputusan dalam keluarga juga harus melalui proses dialog dengan anggota keluarga yang lain. Jangan hanya karena status sebagai pimpinan dalam keluarga, bersikap dengan otoriter terhadap anggota keluarganya. Sebab, semua kita adalah “Ibrahim”. Itu yang mesti dijadikan sebagai pijakan dalam menjalani aktivitas dunia yang fana ini. Wallahua’alam.

*Penulis sehari-hari beraktivitas sebagai Guru di Sekolah Sukma Bangsa Pidie.

KOMENTAR FACEBOOK