Cu’ak Ashabiyah

KETIKA perang dingin berkecamuk dahsyat antara blok Barat yang dikomandoi Amerika Serikat dengan blok Timur yang dikepalai Uni Soviet, beragam jenis perang berlangsung. Perang olahraga, saling boikot olimpiade, perang dagang, perang senjata di negara lain seperti Afghanistan, dan sebagainya. Dari semua itu, yang terus berlangsung ialah perang spionase.

Akibat dari perang spionase itu, seringkali kita mendengar penangkapan-penangkapan yang tidak diduga dan saling tukar tahanan antarnegara yang bertikai.

Salah satu jenis spionase yang paling lihai ialah menanamkan orang ke negara target atau organisasi yang hendak dimata-matai. Istilah kerennya adalah sleeper agent, atau agen senyap, yang “ditidurkan” di negara atau organisasi musuh.

Ribuan orang yang pro Soviet saat itu dari berbagai negara dikirim ke Amerika Serikat. Sekolah atau tinggal bekerja, kemudian hidup seperti orang biasa berpuluh-puluh tahun. Mereka tidak mempunyai kontak apa pun dengan negara asal atau komandan yang memberikan tugas. Hanya hidup biasa, jika suatu saat diperlukan, maka mereka akan bekerja sesuai dengan perintah untuk kepentingan negaranya.

Setelah peristiwa 9/11 di Amerika Serikat, banyak yang menduga pelaku dari terorisme itu orang biasa yang sudah lama bermukim dan bekerja di sana. Mereka aktif saat digerakkan.

Dalam konteks Aceh, sleeper agent ini agak mirip dengan cu’ak atau kibus di masa konflik. Polanya berjualan di kampung-kampung sambil mengumpulkan informasi, ada yang masuk menjadi aktivis pergerakan, bahkan ada yang sebagian kuliah di universitas di Aceh dan menikah dengan gadis Aceh.

Sebagian ada orang Aceh, sebagian lagi orang luar yang tinggal di Aceh dan kerap memperlihatkan jiwa keacehannya melebihi orang Aceh sendiri. Pascakonflik, mereka tetap ada dengan cara kerja yang berbeda.

Pascadamai, mereka yang sewaktu konflik membenci GAM, masuk ke berbagai organisasi atau partai yang dibentuk oleh GAM. Kelompok sleeper agent anti-GAM ini, saat ini ada di semua partai politik di Aceh. Di partai lokal mereka menjadi tokoh, di partai nasional juga menjadi tokoh. Perseteruan antarpartai mereka gosok-gosok, tapi di ujung minggu, istri-istri mereka bermain julo-julo.

Kapan diperlukan, mereka akan membuka informasi penting yang diketahui dari orang-orang yang telah memercayai mereka. Ada yang menjadi ring satu, menyaru sebagai wartawan, aktivis, serta profesi lainnya.

***

Motivasi seseorang menjadi cuak dilatarbelakangi oleh berbagai faktor pendorong yang satu dan lainnya berkemungkinan tidak memiliki kaitan. Secara garis besar cuak dapat dibagi dua kategori, pertama cu’ak ashabiyah, dan kedua cuak pasar bebas.

Ketika konflik masih berlangsung di Aceh, saya menemukan dua jenis ini di lapangan, sehingga sempat menganggu jalan pikir saya ketika menilai yang mereka lakukan, apakah sebagai bentuk pengkhianatan, tanggung jawab ataukah sekadar bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.

Khusus terkait cu’ak ashabiyah, ini adalah kelompok spionase bercabang dan terkadang memiliki garis komando, tapi tidak saling berhubungan langsung, secara gamblang kelompok ini biasanya memiliki garis ideologi tentang sebuah imajinasi kebangsaan, sehingga motivasi mereka menjadi “pengintai” merupakan bentuk pengabdian terhadap nilai yang ia bela.

Dulu saya pernah menemukan seseorang yang hidup di basis GAM, tapi justru bekerja untuk kepentingan TNI, secara logika tentu itu senewen, bila alat ukurnya karena motif ekonomi, justru ia tidak mendapatkan apa pun dari pekerjaaannya sebagai spionase, ekonomi keluarganya tetap morat-marit serta banyak pula familinya yang merupakan anggota GAM.

Setelah damai, tanpa sengaja ketika diskusi informal dengan salah seorang putranya tentang fenomena mata-mata pemerintah, akhirnya saya menemukan jawaban. “Almarhum Bapak tidak menyukai GAM.” Tentu itu sesuatu yang tidak bisa disampaikan di era konflik secara terbuka. Sesuatu yang bila diketahui umum bukan saja membahayakan si cu’ak ashabiyah, tapi juga membuat seluruh keluarganya berkemungkinan akan dibantai.

Untuk itu, khusus cu’ak ashabiyah, baik dan buruknya sangat tergantung dari sudut pandang ideologi, bagi kelompok yang ia bela, sang kibus akan dianggap pahlawan, dan bagi yang dikhianati atau dikerjai, dia akan menjadi musuh yang tidak bisa dimaafkan. Ia akan menjadi nasionalis cum brutus dalam waktu yang bersamaan.

Lalu, bagaimana dengan cu’ak pasar bebas? Kibus jenis ini adalah “pedagang” sekaligus agen isu, mungkin ia serupa dengan agen ganda, yang mengambil keuntungan dari siapa pun, agar bisa hidup makmur. Ia bergerak bukan karena kesadaran nasionalisme, tapi murni karena itu jalan paling mudah baginya mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Burukkah cu’ak pasar bebas? Lagi-lagi itu sangat tergantung pada sudut pandang. Orang-orang yang “dirugikan” tentu akan mengumpat mereka, tapi yang merasa diuntungkan, akan memuji mereka sebagai orang yang patriotik, terlepaa apakah pujian itu tulus atas sekedar basa- basi.[]

Sumber foto ilustrasi: outseen wordpress.

KOMENTAR FACEBOOK