14Munir: Nur Djuli Mengenang Jasa Munir untuk Aceh

Saya diperkenalkan kepada almarhum Munir oleh almarhum Jafar Siddiq Hamzah, ketika kami ke Jakarta di pertengahan tahun 1999 dalam usaha mencari dana untuk mengadakan Acehnese World Brotherly Conference di Bangkok. Dalam waktu luang, kami menemui beberapa orang kawan aktivis HAM dan juga anak-anak muda Aceh yang mulai lari ke Jakarta menghindari kekejaman aparat dalam masa DOM di Aceh.

Kami datang ke kantor KontraS dan langsung dibawa masuk ke kamar kerja Munir. Melihat kami, dia bangun dari kursi kerjanya dan menyalami kami sambil terus bicara di telefon dalam bahasa Indonesia campur bahasa Jawa yang medok dialek Surabaya : “…lha edhan … kok orang dipukuli sampai pecah kepala, mbok kalau mukul, tumbuk-tumbuk aja …”.

Setelah memberi beberapa instruksi apa yang mesti dilakukan, dia meletakkan telefon. Sambil tertawa dan geleng-geleng kepala dia datang duduk bersama kami dan memberi tahu kami bahwa kantor cabang KontraS di Surabaya didatangi beberapa orang aparat dan terjadi pertengkaran dengan aktivis-aktivis muda yang sedang berkumpul di situ. Terjadi perkelahian dan entah ada yang melempar batu, atau jatuh dan terantuk kepala di lantai semen, salah seorang dari aparat luka di kepala dan berdarah cukup parah. Munir memberi tahu mereka supaya tenang, jangan keluar dari kantor, dan kemudian menyuruh seorang pengacara advokasi segera menangani insiden tersebut.

“Ada-ada aja,” katanya. Saya komentar : “Wah, kalau di Aceh, balasannya pasti beberapa orang aktivis akan menjadi umpan peluru.”

Saya memberi tahu dia bahwa saya melihat pamflet ditempel di dinding Mesjid Istiqlal, di samping pintu masuk utama, yang menyatakan Munir adalah keturunan Yahudi dan bertugas sebagai penyalur senjata gelap ke Indonesia. Saya bertanya kenapa dia tidak menuntut penyebar pamflet tersebut ke pengadilan, karena bukan pamflet gelap, tetapi ada nama NGO penerbitnya tertulis jelas.

Munir memberi tahu kami dia sedang menulis pledoi suatu perkara yang sedang dihadapinya di pengadilan yang akan berlangsung dua hari lagi. Katanya berbagai insiden sering ditimbulkan aparat TNI dan Polri untuk membuatnya sibuk. Dia mengatakan bahwa memang itu tujuan tuduhan-tuduhan gila begitu dan mengadakan insiden-insiden bentrokan kecil-kecil supaya dia sibuk menanganginya dan tidak punya waktu untuk aktivitas-aktivitas lain KontraS yang lebih penting. Saya diberi tahu bahwa NGO penyebar pamflet tersebut adalah underbouwnya Kopassus.

Karena jelas dia sangat sibuk, kami mengatakan akan pergi menjumpai aktivis-aktivis Aceh di gedung itu dan membiarkannya meneruskan pekerjaannya. Dia meminta kami tunggu sebentar. “Saya ingin bicara soal Aceh. Kesempatan begini sangat jarang terjadi,” katanya. Dia menelepon istrinya dan mengatakan kami akan makan siang di rumahnya. Kami berjanji akan menjumpainya kembali sekitar tengah hari, karena waktu itu baru jam 10 pagi.

Di bagian belakang kantor KontraS ada dua baris bangunan dua tingkat dengan beberapa kamar digunakan untuk kamar tidur aktivis yang memerlukan. Saya menjumpai beberapa anak muda Aceh di situ. Seorang di antaranya sedang dimarahi oleh seorang senior Kontras, yang lain-lainnya mentertawakannya. Pemuda itu ketawa-ketawa saja dimarahi. “Maaf deh Bang, aku betul-betul lupa.” Rupanya dia tinggal di Bogor tetapi sehari-harinya berada di kantor KontraS membantu apa saja yang bisa, yang juga berarti makan gratis. Semalam sebuah toilet yang sekaligus kamar mandi tidak bisa digunakan karena terkunci dan tidak ada yang tau siapa yang pegang kuncinya. Jadinya semua yang tidak di situ tidak mandi sekak tadi malam. Rupanya kuncinya terbawa ke Bogor oleh pemuda Aceh itu.

Sejam kemudian kami menerima telefon dari Munir mengatakan bahwa dia tidak bisa pulang dan meminta kami makan siang dengan istrinya saja. Kami merasa canggung dan memberi tahunya supaya jamuan makan siang itu lain kali saja. Kawan-kawan di KontraS memberi tahu kami istrinya juga super sibuk.

Di kemudian hari saya bertemu dengan Munir secara kebetulan di berbagai seminar internasional yang sama-sama kami hadiri. Kami selalu menggunakan kesempatan tersebut untuk bicara soal-soal pelanggaran HAM berat di Aceh. Munir mempunyai karisma yang membuat orang merasa sebagai kawan lama yang rapat, walaupun baru kenal. Pertemuan-pertemuan singkat saya dengannya di berbagai forum dan konferensi internasional itu berlangsung hingga saya menerima kabar yang mengejutkan tentang pembunuhannya dalam kapal terbang Garuda dalam perjalanan ke Negri Belanda, kasus yang hingga kini belum dituntaskan oleh Pemerintah RI.

Legasi yang ditinggalkan Munir di Aceh sangat luas dan mendalam. Kerjasama saya secara pribadi dan sebagai aktivis International Forum for Aceh (IFA) dan kemudian sebagai anggota pimpinan GAM di Malaysia dengan KontraS Aceh sangat rapat. KontraS merupakan pengumpul fakta insiden-insiden pelanggaran HAM di Aceh yang akurat dan independen. Fakta-fakta peristiwa di Aceh yang disampaikan GAM kepada Kontras mendapat saringan ketat dari Kontras. Kalau saya menyampaikan laporan ada warga sipil yang terkorban dalam sesuatu insiden, KontraS akan membuat verifikasi sendiri dan hanya merekod kematian tersebut kalau ada bukti dijumpai mayat yang disaksikan oleh staffnya sendiri atau pengesahan dari rumah sakit.

Presiden Jokowi baru-baru ini telah memberi instruksi kepada Jaksa Agung untuk mulai menangani peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM berat di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Aceh. Saya mengambil kesempatan ini untuk menganjurkan supaya Pemerintah menggunakan fakta-fakta yang ada dalam khasanah Kontras, baik di kantor pusatnya di Jakarta, maupun di kantor-kantor cabangnya, terutama di Aceh, sebagai salah satu sumber referensinya.

Ditulis oleh M.Nur Djuli, juru runding GAM di Helsinki, seorang putra Aceh yang aktif berjuang membela tanah airnya.

KOMENTAR FACEBOOK