Berziarah ke Makam Teungku Muhammad Khatib, Ulama Aceh Pengarang Kitab 8

Makam Teungku Muhammad bin Khatib Langgien @Akbar Rafsanjani

POHON-POHON tegak menjulang tinggi menyambut kedatangan saya ke makam Teungku Muhammad bin Khatib Langgien siang hari itu. Saat angin bertiup pohon-pohon itu ikut bergoyang. Melahirkan suara gerisik yang mampir ke telinga. Lumayan untuk menghalau lengang yang dibungkus guyuran sinar matahari melimpah. Langit cerah. Udara terasa kering. Khas musim kemarau.

Lebih dari itu, pohon-pohon itu seolah mempunyai tugas yang lebih berarti dan mulia, yakni ‘menjaga’ makam yang di dalamnya terbujur jasad seorang ulama Aceh yang hidup pada abad ke-18. Seperti yang telah disebut di atas, ulama tersebut bernama Teungku Muhammad bin Khatib, pengarang kitab Dawaul Qulub yang terdapat dalam kitab Jam Jam’u Jawami’ al Mussannifat. Kitab ini juga populer dengan sebutan ‘kitab lapan’ karena berisi delapan karangan kitab yang ditulis oleh beberapa ulama sekaligus. Ada juga yang menyebutnya dengan kitab kuning, karena dicetak pada kertas berwarna kuning.

Saya tiba di makam ketika jam digital di ponsel saya menunjukkan angka pada pukul 14.50 WIB, Minggu, 26 Agustus 2018. Saya tidak sendirian, bersama saya turut serta Akbar Rafsanjani dan Zia. Dua anak muda Pidie yang punya ketertarikan pada isu-isu sosial budaya di Aceh. Rencana menziarahi makam Teungku Muhammad bin Khatib ini berawal dari obrolan mengenai kitab lapan bersama Akbar dua hari sebelumnya saat kami duduk di salah satu kedai kopi di Kota Sigli. Sebagai santri sekaligus teungku rangkang, Akbar sedikit banyak memahami kandungan kitab lapan.

“Disebut kitab lapan karena kitab ini majemuk atau isinya berupa kumpulan karangan ulama-ulama Aceh terdahulu. Umumnya dayah atau balai pengajian di Aceh berpedoman pada kitab lapan atau Siyarussalikin karangan Syekh Abdussamad Al Falimbangi dari Palembang merupakan terjemahan intisari dari kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali,” kata Akbar. “Kitab lapan ini ditulis oleh ulama Aceh di antaranya Teungku Syekh Abdurrauf Fansuri atau dikenal dengan Syiah Kuala dan Syekh Muhammad Khatib. Ini makamnya di Langgien,” lanjutnya.

“Oh ya? Ayuk kita ke sana.” Saya menanggapi pernyataan Akbar dengan antusias. “tak jauh dari rumah nenek saya di Teupin Raya itu,” kata saya lagi.

Makam Teungku Muhammad bin Khatib Langgien @Akbar Rafsanjani

Pembicaraan di kedai kopi itulah yang membawa kami ke makam Teungku Muhammad bin Khatib di Langgien Dayah, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya siang hari itu. Akses ke makam ini sangat mudah. Tak sampai sepuluh menit bila menggunakan kendaraan roda dua dari simpang Luengputu-Langgien di sisi Jalan Banda Aceh-Medan. Petunjuk utamanya berupa masjid di tengah sawah yang ada di Gampong Langgien Sagoe. “Di keu masjid nyan na jalan, neuikot aju sampe trok u aki gle (di depan masjid ada jalan, ikuti saja sampai ke kaki bukit),” ujar salah satu warga yang kami tanyai di perjalanan.

Ternyata ‘glee’ yang dimaksud di luar perkiraan kami. Saat mendengar kata ‘glee’ atau gunung yang terbayang di benak kami lokasinya sangat jauh dan berada di kawasan hutan. Ternyata tidak. Makam ini berada di kaki bukit di persimpangan di ujung Gampong Langgien Dayah menuju arah Blang Gapu. Tak jauh dari rumah warga.

Di kaki bukit itu terdapat sebuah bangunan berkonstruksi kayu berukuran sekitar 9×7 hasta berdiri kokoh. Seluruhnya dicat hijau. Bagian atasnya diberi tutupan berupa seng genting merah yang di sisi bawahnya juga dicat hijau. Di dalam bangunan tanpa dinding itulah makam Teungku Muhammad bin Khatib berada. Panjangnya sekitar 2,5 meter dan dipasang keramik di sekelilingnya. Makam itu berpagar terali besi. Tanpa nisan.

“Dulu nisannya ada, bentuknya bulat. Beberapa tahun belakangan sudah tenggelam di dalam tanah, kami tak berani mengangkatnya, makam ulama tidak berani kita sembarangan,” ujar Mahdi, mantan sekretaris Gampong Langgien Dayah yang selama ini berinisiatif merawat dan menjaga makam ulama tersebut.

Makam itu kata Mahdi, baru dipugar beberapa tahun terakhir melalui dana aspirasi anggota DPRK Pidie Jaya. Di samping makam terdapat dua balai yang berfungsi sebagai tempat mengaji anak-anak di malam hari. Mahdi juga berinisiatif menaruh sajadah di lokasi makam. “Supaya bisa dipakai para peziarah yang ingin salat di sana,” ujar pegawai kantor camat Bandar Baru itu. Ia juga menaruh sebuah kotak amal untuk menampung sedekah dari para peziarah.

Pria kepala empat itu mengaku prihatin karena sama sekali tidak ada perhatian pemerintah untuk merawat makam ulama Aceh tersebut. Padahal makam itu potensial dipromosikan sebagai destinasi wisata religi atau sejarah bahkan hingga ke mancanegara. Selama ini memang ada peziarah yang datang ke sana, tapi masih dari kalangan tertentu saja seperti rombongan para santri. “Mereka datang untuk peuphon atau memulai pengajian kitab,” kata Mahdi.

Keprihatinannya cukup beralasan, ia tak ingin generasi muda Aceh malah tidak mengetahui kalau kitab lapan yang mereka pelajari di dayah itu ditulis oleh ulama-ulama Aceh. Beberapa peziarah yang ingin mengetahui lebih banyak cerita mengenai Teungku Muhammad bin Khatib ada kalanya menemui Mahdi. Memang tidak ada penjaga makam secara khusus. Hari itu misalnya, ketika kami menyinggahi sebuah balai di pinggir jalan desa, beberapa pria yang ada di sana mengarahkan kami untuk bertemu dengan Mahdi. “Dia yang tahu lebih banyak. Ada dia di rumah, kalian ke sana saja,” ucap seorang pria sambil menunjukkan arah rumah Mahdi.

Kami lantas singgah di rumah Mahdi yang berjarak beberapa puluh meter saja dari makam. Mahdi dan istrinya menyambut kami dengan ramah. Kami mendengarkan ceritanya sambil menikmati suguhan minuman dan camilan sisa hari raya. “Itu baru saya cat ulang sehingga tampak baru.”

Mahdi berkisah, sebelum ia mengecat ulang makam tersebut, ada seseorang dari Langsa yang lebih dulu hendak mengecatnya. Namun ketika ia baru memulai pekerjaannya orang itu jatuh sakit sehingga tak bisa menyelesaikan pekerjaannya. Keganjilan lain juga pernah terjadi, ketika mereka meminta seorang fotografer untuk memotret makam sebagai pelengkap lampiran proposal yang mereka buat, hasil jepretannya malah tidak bisa dicetak. Belakangan, fotografer tersebut datang kembali dengan melakukan tata cara atau memperhatikan adab berkunjung ke makam. “Setelah itu foto yang sebelumnya dia ambil bisa dicetak. Kita memang tidak bisa memercayai secara berlebihan tetapi itulah beberapa keganjilan yang pernah terjadi. Kadang-kadang, orang yang tidur di makam juga melihat seperti penampakan ada teungku yang sedang mengajar mengaji bersama murid-muridnya.”

Makam Teungku Muhammad bin Khatib Langgien @Akbar Rafsanjani

Di lokasi makam, tidak ada plang yang bisa menjadi petunjuk informasi keberadaan makam tersebut. Satu-satunya petunjuk yang menerangkan keberadaan makam itu ialah selembar spanduk berukuran mini yang dibuat oleh mahasiswa KKN Unsyiah pada 2015 lalu. Di spanduk itu dijelaskan bahwa Teungku Muhammad bin Khatib atau Ahmad Khatib adalah salah seorang ulama karismatik Aceh. Dawaul Qulub, kitab karangannya masih dibaca sampai sekarang di pesantren-pesantren di Aceh, bahkan hingga ke Asia Tenggara. Kitab ini diselesaikan pada tahun Jim, hari Sabtu, pada bulan Rabiu Awal tahun 1237 Hijriah atau 1821 Masehi. Merupakan kitab ketujuh dalam Jam Jam’u Jawami’ al Mussannifat. Karya lain yang ia tulis ialah kitab Asrarud Din Lil Ahlil Yaqin yang telah dicetak berulang-ulang.

Kolektor manuskrip Aceh Tarmizi A. Hamid atau Cek Midi menjelaskan, tahun Jim merupakan siklus dari tahun Hijriah. Selain tahun Jim, juga ada tahun Zal, Ha, dan Waw.

Nama Dawaul Qulub yang bisa diterjemahkan sebagai obat segala hati daripada segala aib ini diambil dari nama dayah atau pesantren yang dulu dibangun oleh Teungku Muhammad bin Khatib. Lokasinya kini berada di Gampong Langgien Sagoe, tetangga Langgien Dayah. Masih satu kompleks dengan masjid Gampong Langgien Sagoe. Dayah itu sekarang sudah tidak ada lagi. Namun jejaknya masih bisa dilihat sampai sekarang. Di sebuah tanah kosong yang tak jauh dari masjid, ada sebuah balai kecil yang kondisinya sudah lapuk dan miring. Bekas properti dayah di masa lalu.

Bertahun-tahun setelah Teungku Muhammad Khatib tiada, dayah itu masih beroperasi, salah satu pengajarnya yaitu nenek buyut Mahdi. Salah satu Alquran hasil tulisan tangan yang dulu digunakan buyut Mahdi saat mengajar di dayah masih ia simpan. Kondisinya sangat lapuk. Mahdi membungkusnya dengan plastik. “Sebagai kenang-kenangan,” kata Mahdi.

Sore itu, usai azan Asar menggema dari pelantang suara masjid kami pun berpamitan. Mahdi mengantar hingga ke halaman rumah. Mengamini pernyataan Akbar, saya merasa ada kebahagiaan lain yang merayap di dalam hati. Seolah menegaskan pernyataan Mahdi, bahwa orang dengan gangguan jiwa sekalipun akan merasa tenang bila datang ke makam tersebut. “Nah, itu dia sudah datang lagi. Mungkin dia mau cari ketenangan di sana,” kata Mahdi menunjukkan seseorang yang mengalami gangguan jiwa di dekat makam.[]

KOMENTAR FACEBOOK