#14Munir: Sesaknya Hati Suciwati

Suciwati, istri almarhum pejuang HAM, Munir. @tribunnews

Suciwati tidak mungkin lagi berharap suaminya, Munir Said Thalib, kembali. Pemufakatan jahat yang terjadi 14 tahun lalu telah merenggut nyawa ayah bagi dua orang anaknya, jelang mendarat di Bandara Den Haaq, tepatnya tanggal 7 September 2004.

Kini, dada Suciwati kembali sesak, bukan lantaran rindu pada suaminya, melainkan karena menyaksikan salah satu terpidana pembunuh Munir, bebas murni.

Terpidana kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, Pollycarpus, dinyatakan bebas murni, Rabu (29/8/2018). Pollycarpus bebas murni setelah tahun 2014 menjalani bebas bersyarat. 

Pollycarpus tampak sumringah ketika mengambil surat bebas murni di Bapas Bandung, kemarin. “Senang sekali, sudah nggak ada beban lagi,” ujar Pollycarpus didampingi istrinya, Yosepha Hera. 

Sementara itu, Suciwati yang telah direbut paksa pasangan hidupnya merasa sesak melihat pembebasan salah satu terpidana. “Ini menyesakkan. Sejak dia mendapatkan remisi dan bebas bersyarat, itu menjadi tanda tanya bagi keluarga, terutama aku sebagai istri,” tuturnya kepada media.

Bagi Suciwati, Pollycarpus tak layak bebas lebih cepat dari masa pemidanaan. Sebab, Pollycarpus bagian dari pembunuhan berencana terhadap Munir. 

Pollycarpus hanya menjalani delapan tahun dari 14 tahun masa tahanan. Selama mendekam di Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, dia mendapat beragam remisi atau potongan masa pemidanaan.

Suci bilang, pemerintah tidak seharusnya mengumbar remisi kepada penjahat teroganisir, termasuk yang menghalangi penegakan HAM. Apalagi, kata Suciwati, kasus pembunuhan Munir selama ini dipantau dunia internasional dan dianggap parameter penegakan HAM di Indonesia.  

Meski lelah dan sesak, Suciwati masih terus terjaga dan terus bersuara lantang. Suciwati tidak ingin menyerah. Bersama-sama LSM yang mendukung penegakan HAM, mereka terus menuntut penyelesaian kasus Munir.

Tidak mudah, sudah dua presiden ternyata kasus Munir belum juga diselesaikan padahal keduanya memiliki janji yang sama. Lebih pedih lagi, Jokowi yang diharapkan karena bagian dari pemimpin sipil, juga tidak kunjung membuka dokumen TPF Munir. Kini, pemerintah malah fokus ada dokumen yang hilang, sementara beberapa nama terduga pelaku yang terus menghilang dari jangkauan hukum, tidak dicari dan diadili.

“Ternyata Jokowi itu ambigu juga ya, kalau kita lihat karakter Presiden Jokowi sering blusukan ke masyarakat. Tapi berbeda ketika kita masuk, kita dihadang dilarang untuk menyerahkan surat. Hanya boleh diwakili dan banyak pertanyaan. Kita jadi berpikir, loh kok seperti ini istana hari ini,” tutur aktivis KontraS, Feri Kusuma, kepada aceHTrend saat mengisahkan kejadian yang mereka alami saat mengantar Surat ke Istana pada Kamis (23/8/2018) lalu.[]

KOMENTAR FACEBOOK