Mitologi Setan Botak

Oleh Khairil Miswar

Berita mengejutkan kembali menyentak tanoh endatu. Seperti dikabarkan media, seorang anggota polisi tewas dibunuh oleh segerombolan penjahat bersenjata di kawasan Pantai Bantayan Seuneudon, Aceh Utara. Anggota polisi bernama Bripka Faisal yang sedang menjalankan tugas itu pun tewas akibat tikaman senjata tajam dari para pelaku. Informasi pembunuhan ini kemudian beredar luas melalui media sosial.

Kabar baiknya, masih menurut media, para pelaku pembunuhan berhasil diringkus oleh pihak kepolisian dalam kurun waktu 18 jam pasca kejadian. Salah seorang pelaku dikabarkan tewas terkena tembakan polisi akibat melakukan perlawanan saat ditangkap. Kabar baik sekaligus memilukan juga datang dari keluarga Bripka Faisal, bahwa istrinya melahirkan dua hari pasca kematiannya.

Dari informasi yang berkembang disebut-sebut bahwa kelompok kriminal bersenjata yang telah menewaskan Bripka Faisal dikenal dengan nama “Setan Botak Peureulak.” Terlepas apakah penamaan ini berasal dari pihak kepolisian, masyarakat atau pun dari kelompok itu sendiri, yang jelas nama ini memberi kesan angker dan menakutkan.

Ada dua keangkeran yang tergambar dari nama gerombolan ini; pertama, setan dan kedua, botak. Yang sering menonton film-film fiksi tentu telah akrab dengan visualisasi “setan” yang tampak menyeramkan. Setan di sini tentunya tidak bisa secara otomatis dikaitkan dengan Syaithan dalam terminologi agama, tapi hanya sebatas simbol kejahatan yang menakutkan. Film-film fiksi menggambarkan setan dalam bentuk monster berwajah seram, berambut panjang dan bertanduk dengan mata berwarna merah.

Bagaimana dengan botak? Dalam dunia anak-anak, sosok botak justru menghadirkan dua rasa; pertama, rasa lucu dan kedua, rasa takut. Aspek kelucuan dalam sosok botak tentunya sudah sering kita saksikan di pentas-pentas komedi, di mana sosok ini kerap digunakan untuk memantik tawa penonton, tentunya dengan skenario yang sudah diatur sutradara. Seperti telah kita singgung, botak juga menyajikan aspek ketakutan. Di masa kecil, sebagian kita mungkin pernah ditakuti dengan sosok botak. Ka iem ju, nyan geu u’eut le si gam botak (cepat diam, nanti ditelan sama si botak), kira-kira demikian “teror” yang pernah kita terima di masa kecil.

Setan dan botak adalah dua bentuk teror yang menebarkan ketakutan. Dengan demikian, penggunaan frasa “setan botak” tentunya akan semakin mempertegas ketakutan yang tiada tara. Sudah setan, botak lagi. Dengan demikian patutlah kelompok ini ditakuti oleh masyarakat atau mungkin oleh aparat hukum sendiri.

Pola “mitologi” sebagaimana terjadi terhadap Setan Botak dan kelompok-kelompok penjahat lainnya sudah semestinya dihentikan. Membangun mitos tentang keangkeran para penjahat akan semakin mempertegas eksistensi mereka sehingga mereka pun terus berleha-leha dalam kejahatan. Di belahan dunia mana pun, penggawa kebenaran haruslah tampak lebih gagah daripada gerombolan anak-anak nakal seperti Setan Botak dan kelompok mafia narkoba lainnya.

Mitologi yang tidak pada tempatnya akan semakin membuat masyarakat menjadi kecut menghadapi kekacauan-kekacauan yang dimainkan adik-adik manis yang kebetulan memiliki senjata api. Sudah waktunya mitos yang membuat penjahat semakin eumbong segera diakhiri agar mereka dapat dengan mudah menemukan kepunahanannya yang dimulai dari kepunahan eksistensi. Jika tidak, maka besok lusa akan muncul pula kelompok kriminal baru dengan nama pasukan burong tujoh, brigade musang pri’ek atau batalion manok keumarom. Akhirnya ketakutan pun menyebar luas sehingga para penjahat terus leluasa beraksi.

Cara pandang terhadap pelaku kejahatan harus segera diubah. Jangan berikan mereka kesempatan untuk hidup di alam mitos yang secara psikologis akan berdampak pada ketakutan massal di kalangan masyarakat. Para penjahat hanyalah kaum minoritas yang tak layak disegani, apalagi sampai ditakuti.

Pada prinsipnya para penjahat, perampok, perompak dan mafia narkoba di Aceh hanyalah adik-adik manis yang kurang akal. Mereka terus menari-nari di atas ketakutan masyarakat dan “kelalaian” penegak hukum. Padahal, keangkeran, kejahatan dan kekejaman yang mereka mainkan hanyalah sandiwara belaka. Buktinya, ketika tertangkap, mereka akan tetap menangis, merengek dan memelas. Mari hentikan mitologi!

*)Penulis adalah aktivis literasi Aceh dan bermukim di Bireuen. Seorang guru yang sudah menulis buku dan mengajar di salah satu sekolah rendah di Aceh Jeumpa.