Indahnya Desa Ini, Punya Tujuh Telaga tapi Sampah Masih Dibuang ke Sungai

Salah satu telaga yang ada di Desa Air Sialang Hilir, Samadua, Aceh Selatan. @Yelli Sustarina/aceHTrend

ACEHTREND.COM, Tapaktuan – Bila masyarakat kota dipusingkan dengan air PDAM yang sering macet dan tagihan air tiap bulannya, hal itu tidak berlaku bagi masyarakat Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan. Desa yang menjadi sentra kerajinan kasab sulam benang emas ini memiliki sumber mata air yang melimpah.

Namun hal itu sepertinya belum disadari oleh masyarakat setempat sehingga keberadaan sumber air bersih tersebut belum mendapat perlakuan sebagaimana mestinya.

Warga Air Sialang Hilir tidak perlu berlangganan air PDAM karena di rumah mereka terdapat sumur yang mempunyai mata air yang jernih. Bahkan warga sering mengonsumsi air sumur tanpa memasaknya terlebih dahulu.

“Kami sekeluarga terbiasa minum air sumur, rasa segarnya langsung bisa menghilangkan dahaga,” kata Yessi, seorang mahasiswi yang dari lahir tinggal di kampung ini kepada aceHTrend, Sabtu, 1 September 2018.

Selain sumur-sumur yang airnya sangat jernih, Gampong Air Sialang Hilir memiliki tujuh mata air yang membentuk telaga yang saban hari digunakan masyarakat untuk minum, mencuci, dan kebutuhan lainnya. Telaga-telaga ini mempunyai bagian-bagian yang fungsinya berbeda-beda.

Masing-masing telaga itu, yaitu Telaga Tampang, Telaga Meunasah, Telaga Nek Mericat, dan Telaga Punjuik misalnya yang mempunyai tiga bagian. Pada bagian kepala telaga berfungsi sebagai sumber air minum. Sedangkan pada bagian badan telaga dipergunakan untuk mandi dan mencuci. Bagian ekornya yang memanjang dibuat jamban sebagai tempat kakus. Telaga-telaga ini mengalir menuju sungai Air Sialang yang juga jernih.

Warga membuang sampah ke sungai.

Tiga telaga lagi, yaitu Telaga Surau, Telaga Lubuk Ek’ot, dan Telaga Subarang Air, hanya digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci. Telaga-telaga ini berada di dekat sungai Air Sialang dan sengaja dibuat oleh orang zaman dahulu untuk keperluan warga.

Sayangnya yang menjadi permasalahan di gampong ini ialah sampah yang terus dibuang ke sungai Air Sialang. Menurut warga setempat, mereka membuang sampah ke sungai karena tidak ada tempat penampungan sampah.

“Daripada sampahnya dibakar mending dibuang ke sungai. Kalau dibakar takutnya nanti menganggu tetangga, apalagi rumah di sini dempet-dempet. Kalaupun dikumpulkan, tidak ada tempat penampungan sampah. Jadi, ke sungailah sampah-sampah ini kami buang,” ujar salah satu warga, Linda.

Amatan aceHTrend di sungai Air Sialang, banyak sampah yang menumpuk di permukaan sungai yang membentuk delta karena debit air yang kecil. Tumpukan sampah itu menjadi pemandangan kontras dengan kejernihan dan sejuknya air yang berasal dari telaga-telaga di atas.

Sementara itu, Communication Specialist USAID Lestari Aceh, Cut Meurah Intan, mengatakan membuang sampah ke sungai merupakan kebiasaan buruk yang harus disudahi bila masyarakat ingin sumber air mereka tetap terjagai. Membuang sampah di sungai bukan hanya merusak ekosistem sungai, melainkan turut memengaruhi kualitas air itu sendiri.

“Kalau kualitas airnya buruk berarti yang masuk ke tubuh kita jadinya juga nggak sehat. Semua saling terhubung,” ujar Cut Meurah Intan kepada aceHTrend.

Kondisi ini kata Cut Intan merupakan tantangan dalam mengedukasi masyarakat, agar memiliki kesadaran betapa pentingnya menjaga kemurnian sumber mata air demi keberlangsungan hidup manusia.

“Alam bisa menyeimbangkan dirinya sendiri yang perlu kita lakukan ialah tidak merusak proses itu dengan cara-cara atau tindakan kita yang merusak, seperti membuang sampah ke sumber mata air misalnya. Padahal jika dikelola dengan baik sungai-sungai itu tidak hanya berfungsi sebagai penyedia air bersih saja, tetapi bisa menjadi objek wisata, dan memiliki fungsi ekonomi bagi masyarakat.”

Cut Intan mengajak masyarakat di sekitar kawasan sungai atau di sekitar sumber mata air seperti halnya masyarakat Air Sialang Hilir, agar menjaga lingkungannya sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta. Karena jika tidak dijaga dari sekarang maka tidak menutup kemungkinan sumber-sumber air itu akan menjadi kering akibat tidak seimbangnya ekosistem.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK