#14Munir: Cak Munir di Mata Arabiyani

Arabiyani

Oleh Arabiyani*

Pada 7 September mendatang, tepat 14 tahun almarhum Munir Said Thalib meninggalkan dunia ini. Ia dibunuh dengan cara diracun dalam penerbangan dari Indonesia menuju Belanda pada 2004 silam. Meski raganya sudah tidak ada lagi di dunia ini, sebagai orang yang pernah bertemu dengan almarhum semasa hidupnya, semangat itu telah menjelma dan menjadi inspirasi bagi saya dalam bekerja di dunia aktivis.

September seolah mengembalikan kembali ingatan saya pada Munir Said Thalib, medio 1999, saya dan beberapa kawan dari Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) berangkat dari Banda Aceh menuju Jakarta. Tepatnya ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. Kami membulatkan tekad akan melakukan aksi mogok makan. Tuntutan kami: tolak pemilu di bawah todongan senjata, dan laksanakan referendum untuk Aceh.

Adalah saya, Ther (Risma), Fakhri, Kasibun, Wak Tar (Tarmizi), dan Nanda yang akan melaksakan aksi tersebut. Wak Tar sudah terlebih dahulu berada di Jakarta. Kami yang lima orang berangkat menggunakan bus PMTOH, menghabiskan waktu kurang lebih tiga hari tiga malam di perjalanan.

Begitu tiba di Jakarta, kami langsung menuju kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Cikini. Cak Munir -panggilan akrab Almarhum Munir- yang saat itu menjabat sebagai Direktur LBH menyambut kami di kantornya. Kami berdiskusi seputar kondisi di Aceh dan nasional.

Cak Munir memperlakukan kami sangat baik. Untuk ukuran anak mahasiswa, yang biasanya cuma bisa mendengar nama beliau di televisi, radio, dan membaca di koran, kami merasa sangat tersanjung dengan perlakuannya itu. Dijamu selayaknya diplomat, kami berbicara tentang kondisi terakhir di Aceh, menyangkut politik, keamanan, dan persiapan pemilu. Cak menimpali dengan pendapatnya seputar hal yang sama pada konteks Jakarta dan Aceh.

Selanjutnya Cak memberikan alamat rumahnya, mempersilakan kami ke sana untuk istirahat dan membersihkan diri.

Arabiyani (berkerudung) dalam aksi mogok makan di Jakarta pada 1999 silam. @dok pribadi

Rumah Cak berada di pusat Jakarta, seputaran Jatinegara. Memasuki lorong sempit yang hanya cukup dilalui kendaraan kecil. Mbak Suci, istri Cak telah menunggu di rumah kontrakan mereka yang sangat sederhana. Mempersilakan kami rehat dan menyuguhkan kami minum berikut penganan ringan. Mbak juga menyambut kami dengan hangat. Bertanya banyak hal tentang Aceh. Kami sudah terlebih dahulu tau, istri Cak juga seorang aktivis yang sangat cerdas.

Setelah kurang lebih tiga jam berada di kediaman Cak dan Mbak Suci, kami pamit, kembali menuju kantor LBH. Tiba di sana malam hari. Melanjutkan bicara dengan Cak.

Pertemuan kami tidak selesai di situ. Ketika kami melakukan aksi mogok makan di kantor KPU, kami kerap berkunjung ke LBH. Waktu pemilihan aksi mogok makan ini memang dekat sekali dengan pelaksanaan pemilu tahun 1999. Liputan dan dukungan yang diberikan oleh elemen sipil, aktivis mahasiswa, pengacara, dan pers sungguh membesarkan hati kami.

Cak Munir tidak segan merangkul kami, para mahasiswa dari Aceh, ketika bertemu. Senyum tidak pernah lepas dari wajahnya. Selalu berkemeja rapi, masuk ke dalam celana kain. Berlengan panjang di kancing sampai ke ujung lengan tanpa melipat lengannya. Kata Fakri teman saya, gayanya seperti aktivis eksponen 45.[]

*Direktur Bidang Perempuan dan Anak BRR tahun 2006-2008. Aktivis perempuan dan HAM. Berdomisili di Banda Aceh dan Bireuen.