#14Munir: Kami Masih Bersama Bang Munir

Kasibun Daulay

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Pengacara Kasibun Daulay punya kenangan tersendiri pada almarhum Munir Said Thalib, yang meninggal dunia karena diracun pada 7 September 2004 silam. Dalam ingatan Kasibun, Munir merupakan sosok yang sangat populer di tahun 1998 hingga awal tahun 2000-an.

“Beliau menjadi tokoh publik dan selebriti dalam dalam penegakan HAM di Indonesia pada awal reformasi dengan bendera Lembaga Bantuan Hukum Jakarta dan KontraS,” kata Kasibun kepada aceHTrend, Rabu, 5 September 2018.

Dalam benak mantan aktivis 98 ini, sebelum ia bertemu dengan Munir, terbayang sosoknya yang tinggi besar, gagah, dan keras. Hal itu terjadi karena pernyataan-pernyataan Munir yang biasa ia baca di pemberitaan media massa sangat lugas dan menantang.

“Sebagai mahasiswa yang baru dua semester di bangku kuliah, mendengar ada orang yang berani mengungkapkan kebenaran dan menyampaikan fakta-fakta tentang pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia kususnya Aceh, hampir-hampir sebuah kemustahilan, ini pasti orangnya berasal dari planet lain, karena risikonya terlalu tinggi. Dan bang Munir jugalah yang akhirnya mengilhami sebagian kita mahasiswa Aceh untuk lebih berani bergerak dan menantang risiko,” ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ini.

Karena itu, ketika pertama kali bertemu dengan Munir pada medio 1999 di LBH Jakarta, pandangannya mengenai sosok Munir agak berubah. “Ternyata beliau orangnya secara fisik, pendek, kecil, kurus, murah senyum, dan raut wajah Arabnya sangat kental karena beliau memang keturunan Arab, humanis, dan sangat egaliter tapi tetap rapi dan malah dalam pandangan saya sangat rapi.”

Waktu itu, bersama beberapa mahasiswa yang tergabung dalam organisasi baper aksi Pro Demokrasi dan antiotoritarian di bawah bendera Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) sekitar bulan Mei akhir dan awal Juni tahun 1999 melancarkan aksi mogok makan di Komisi Pemilihan Umum RI.

“Pada waktu itu rancangan aksinya, penentuan tempat, pemilihan waktu, strategi media kita susun secara bersama dengan senior-senior di LBH Jakarta. Aksi ini juga banyak didukung oleh elemen masyarakat dan mahasiswa Aceh yang tinggal di Jakarta. Isu yang kita bawa waktu itu, boikot pemilu tahun 1999 di Aceh, karena eskalasi kekerasan atau konflik sedang parah terjadi di Aceh atau dalam bahasa lainnya tolak pemilu di bawah todongan senjata serdadu.”

Sebagai orang yang pernah melihat dan bertemu langsung dengan Munir, Kasibun sangat terpukul ketika mengetahui suami Suciwati itu meninggal dunia dalam pesawat jurusan Jakarta-Amsterdam pada 7 September 2004.

“Tentu saya sangat terpukul dan sempat beberapa kali berdoa untuknya, semoga beliau dilapangkan kubur, diberikan pengampunan oleh Allah, tapi yang jauh lebih penting bagi kita setelah Bang Munir gugur ialah Bang Munir telah mengajarkan kita ‘idealisme dan kepahlawanan’, kita semakin sadar ternyata risiko yang tinggi dalam mengungkap kebenaran telah ditanggung oleh Bang Munir. Saya berharap sebagai orang yang pernah mengenalnya, semangatnya tetap terpelihara di hati dan batin kita, keluarganya yang ditinggal semoga diberikan oleh Allah swt kekuatan dan kesabaran. Kami Masih Bersama Bang Munir.[]

KOMENTAR FACEBOOK