#14Munir, Mencari Keadilan di Hari Kamis Ke-552

“Munir, selamat malam. Sudah lenyap masih mencari. Sudah mati masih berani.” (Joko Pinurbo, Surat Kopi)

ACEHTREND. COM, Jakarta – Aksi Kamisan di seberang Istana Presiden Jakarta, kembali digelar, Kamis (6/9). Aksi ini merupakan aksi ke-552. Sekitar 100 peserta kembali menyuarakan keadilan untuk aktivis HAM Munir Said Thalib.

Sudah 14 tahun suara mencari keadilan disampaikan. Munir meninggal dunia dalam penerbangan dari Jakarta menuju Amsterdam pada 7 September 2004.

Kali ini, dalam orasinya, Suciwati mengatakan, kasus pembunuhan suaminya sebenarnya sudah  gamblang. Sayangnya, menurut dia, yang dihukum bukanlah dalang utama pembunuhan.

“Kami harap tidak hanya kroco-kroconya saja yang dihukum. Tapi dalangnya juga,” ujar Suciwati.

Tidak hanya orasi oleh para aktivis dan keluarga korban pelanggaran HAM, aksi Kamisan ini juga membentang spanduk menghadap Istana Merdeka bertulis kutipan sejumlah tokoh, mulai dari mantan Ketua Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono, istri almarhum Munir Suciwati.

Kutipan pernyataan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo, juga disertakan termasuk kutipan penyair Joko Pinurbo dan kutipan pernyataan Munir sendiri.

Berikut kutipan pernyataan sejumlah tokoh tersebut :

“Persoalan Munir ini benar-benar membuat saya stres berat. Saya enggak mau dipanggil-panggil kayak orang pesakitan. Orang saya enggak salah.” (AM Hendropriyono, 2016)

“Munir, selamat malam. Sudah lenyap masih mencari. Sudah mati masih berani.” (Joko Pinurbo, Surat Kopi)

“Kasus Munir adalah test of our history.” (Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, 2004)

“PR kita adalah pelanggaran HAM masa lalu. Termasuk kasus Mas Munir. Ini juga perlu diselesaikan.” (Presiden Joko Widodo, 2016)

“Aku bisa tenggelam di lautan, aku bisa diracun di udara, aku bisa terbunuh di trotoar jalan. Tapi aku tak pernah mati dan takkan berhenti.” (Efek Rumah Kaca, di Udara)

“Aku harus tenang walaupun takut. Ini untuk membuat semua orang, tidak takut.” (Munir Said Thalib)

Kutipan pernyataan-pernyataan ini seolah menggambarkan perjalanan kasus Munir itu sendiri yang hingga saat ini dinilai para aktivis HAM dan keluarga korban, masih belum tuntas seluruhnya.

Suciwati sendiri mengatakan belum ada upaya serius dari pemerintah untuk menyelesaikan kasus pembunuhan Munir.

“Upaya-upaya itu nampaknya hanya sebatas seremonial belaka. Hanya sekadar untuk menunjukkan bahwa pemerintah peduli dan kemudian problem pelanggaran HAM itu bisa dikubur dalam-dalam kembali,” ujar Suciwati.

“Bagi kami, cukup sudah janji-janji, segala pose-pose kenegaraan hingga promosi di sosial media mengenai betapa pedulinya pemerintah saat ini pada kasus-kasus HAM di Indonesia. Yang kami butuhkan adalah kerja nyata bahwa pemerintah memang serius menangani kasus pelanggaran HAM, termasuk Munir,” lanjut dia.