#14Munir: Sumarsih, Penunggu Istana

ACEHTREND. COM, Jakarta – Sumarsih bukan penjaga istana. Apalagi penghuni istana. Sumarsih (65) hanya seorang ibu yang berdiri di depan Istana Merdeka, setiap hari Kamis.

Maria Katarina Sumarsih adalah ibu yang mencari keadilan bagi buah hatinya, BR Norma Irmawan atau Wawan, tewas ditembak dalam Peristiwa Semanggi I pada 13 November 1998.

Saat kasus penembakan yang menewaskan sejumlah mahasiswa yang melakukan aksi menolak Sidang Istimewa 1998 itu tidak menemui titik terang, Sumarsih pun mulai berdiri di depan Istana Merdeka tiap Kamis, untuk meminta penyelesaian hukum.

Aksi Sumarsih yang dimulai pada Kamis, 18 Januari 2007 itulah lahir Aksi Diam Hitam Kamisan. Sumarsih tidak sendiri. Bersama yang lain, Aksi Kamisan selalu tampil dengan payung hitam dengan diwarnai aksi mengirim surat kepada presiden.

Payung hitam menjadi simbol duka, perlindungan, dan keteguhan hati para korban dan keluarga yang mengalami pelanggaran HAM. Ide simbol dari Suciwati ini juga dimaknai duka cita yang bertransformasi ke cinta kasih kepada korban, dan cinta kasih bertransformasi kepada perjuangan untuk meningkatkan hak asasi manusia.

Melalui Aksi Kamisan korban, keluarga dan pencari keadilan terus berjuang melawan lupa, dengan menuntut pemerintah menuntaskan kasus hukum pelanggaran HAM.

Sejumlah kasus pelanggaran HAM itu, seperti kerusuhan Mei 1998, tragedi penembakan Trisaksi, tragedi Semanggi 1 dan Semanggi 2, kasus penghilangan aktivis demokrasi, peristiwa Talang Sari Lampung, peristiwa Tanjung Priok 1984, hingga tragedi 1965, tragedi Wasior-Wamena dan juga pembunuhan aktivis Munir.

Untuk kegigihan Aksi Kamisan melawan lupa, pihak MURI pernah memberi penghargaan untuk aksi tergigih dalam memperjuangkan penegakan hukum terhadap pelanggaraan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

“Kegigihan dan kegagahan perjuangan keluarga korban pelanggaran HAM yang tidak berputus asa menuntut keadilan patut mendapat apresiasi,” ujar pendiri MURI Jaya Suparna yang memberikan langsung penghargaan tersebut kepada para korban dalam “Sepuluh Tahun Aksi Kamisan”, Kamis (19/01/2017).

Aksi Kamisan akhirnya mampu membuat Presiden RI, Joko Widodo untuk melakukan pertemuan (tertutup) di Istana Negara, Kamis (31/5/2018).

Keluarga korban meminta Jokowi mengakui telah terjadinya sejumlah pelanggaran HAM masa lalu, khususnya yang sudah ditangani Komnas HAM. Peserta kamisan juga meminta Kejaksaan Agung segera menindaklanjuti temuan Komnas HAM.

Presiden Jokowi sendiri berjanji akan segera meminta Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto dan Jaksa Agung HM Prasetyo untuk mempelajari tuntutan keluarga korban.

Aktivis hak azasi manusia (HAM), Haris Azhar menilai, pertemuan itu hanya dagelan karena dilakukan menjelang tahun politik.

Meski sudah bertemu, Aksi Kamisan terus berlanjut, dan Jokowi juga belum mewujudkan janji-janjinya, termasuk menemui Aksi Kamisan secara langsung di lokasi aksi tanpa foto-foto dan ha ha hi hi, seperti yang pernah disyaratkan oleh istri mendiang Munir SH.

Aksi Kamisan 552 untuk #14Munir
Kamis ini, 6/9 Aksi Kamisan ke-552 kembali digelar, bertepatan dengan satu hari jelang peringatan #14Munir. Undangan untuk kembali menggelar Aksi Kamisan pun beredar.

Aksi Kamisan yang mengangkat tema “Penuntasan Kasus Pembunuhan Munir Said Thalib” akan melibatkan Koalisi Keadilan untuk Munir, KontraS, Imparsial, Setara Institute, PSHK, Lokataru, Amnesty International Indonesia, LBH jakarta, YLBHI, Asia Justice and Rights (AJAR) bersama dengan Jaringan Solidaritas Keadilan untuk Korban (JSKK).

Mereka mengundang anggota TPF Munir hadir dan bergabung pada Aksi Diam Hitam Kamisan ke – 552. Aksi Kamisan juga mengundang kali para pihak yang mengetahui jejak pembunuhan Munir, tapi juga publik yang selama ini mendukung Aksi Diam Hitam Kamisan lebih dari 1 dekade untuk hadir di Seberang Istana Presiden, Jakarta Pusat pukul 15.00 – 17.00 WIB

Acara ini akan dihadiri lintas organisasi HAM dan demokrasi, figur publik dan tuntutan koalisi kepada pemerintah untuk menyegerakan upaya mencari dokumen TPF Munir.

Akankah suara para pencari keadilan akan didengar, ditemui, dan disikapi oleh Jokowi yang sudah beberapa kali berjanji? Akankah ada yang ingin sekedar berbisik untuk melengkapi tahun politik menentukan ini?

KOMENTAR FACEBOOK