2021, Aceh Tengah Mandiri Energi Listrik

Berada 700 meter di bawah tanah, Power House Nomor 1 PLTA Krueng Peusangan 1 dan 2 dibangun dengan sangat kokoh. Bila selesai sesuai target, proyek ini akan menghasilkan energi listrik 88 megawatt/hari, Aceh Tengah akan mendapatkan jatah 12 MW, yang akan membuat kawasan itu mandiri energi.

Sebanyak 30 jurnalis yang berada di bawah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, Jumat pagi (7/9/2019) berkumpul di aula basecamp PLN UPP Kitsum 5, Angkop, Aceh Tengah. Weddy Bernardi Sudirman, General Manager Principal Development Unit of Power Plant Project for Sumatera Region, didampingi General Manajer (GM) PT PLN Aceh, Jefri Rosiadi, serta Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman, menjelaskan perkembangan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan 1&2 yang sedang dikerjakan oleh PLN bekerjasama dengan Hyundai Korea Selatan dengan mitra lokalnya Pembangunan Perumahan (PP).

Dalam keterangannya di depan jurnalis, Weddy menjelaskan proyek yang menyerap dana senilai 4,5 triliun rupiah itu, dibangun dengan dua rumah pembangkit (power house). Power house 1 dibangun full di dalam tanah, serta power house 2 dibangun di atas permukaan tanah.

Tujuan utama proyek PLTA Peusangan 1&2 untuk mengatasi pasokan listrik yang terbatas serta meningkatkan stabilitas beban puncak listrik pada sistem kelistrikan Aceh yang terhubung dengan sistem interkoneksi Sumatera. Total kapasitas energi listrik yang akan dihasilkan sebanyak 88 MW/hari, 12 MW akan disalurkan untuk kebutuhan listrik Takengon (Aceh Tengah) melalui Gardu Induk (GI) 1. Selebihnya akan masuk ke sistem interkoneksi Sumatera melalui GI 2 yang berlokasi di Kabupaten Bireuen.

“Hal ini akan mendukung peningkatan iklim investasi serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi Aceh. Selain itu pemanfaatan energi terbarukan dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup,” ujar Weddy.

Dalam paparannya, Weddy mengatakan, saat ini Aceh masih belum mandiri energi listrik. Beban puncak Aceh mencapai 400 MW, 300 disupport oleh PLN Aceh dan 100 MW harus disuplai oleh Sumatera Utara.

General Manajer (GM) PT PLN Aceh, Jefri Rosiadi, dalam kesempatan yang sama menjelaskan, dari total investasi senilai 4,5 triliun, multi players effect yang akan dihasilkan sebanyak 12 triliun rupiah. Ia juga menjelaskan pertumbuhan energi listrik di Aceh pada tahun 2018 sangat menggembirakan, yaitu mencapai 8%.

Saat ini biaya produksi GI Takengon 2.394 rupiah/kwh, bila PLTA tersebut beroperasi biaya produksi bisa turun dan senilai 1700/kwh, berarti akan terjadi penghematan 26 miliar per tahun.

Tahun ini keluhan terhadap PLN semakin berkurang, saya dapatkan informasi itu dari Ombudsman RI Perwakilan Aceh. Target kami, tahun depan seluruh desa di Aceh dialiri listrik. Catat ya, desa bukan dusun, sekarang sudah mencapai 97%,” ujar Jefri.

***
Menurut data UPP Kitsum 5, studi pendahuluan proyek PLTA Peusangan 1&2 sudah dilakukan sejak 1970-an, studi kelayakan melalui bantuan teknis Pemerintah Belgia sudah pun dilakukan pada 1984-1988. Selanjutnya desain rinci dan dokumen lelang proyek telah disiapkan tahun 1992-1994 melalui bantuan Bank Pembangunan Asia (ADB), dikerjakan oleh Nippon Koei bekerjasama dengan konsultan lokal melalui perjanjian enjinering pada Juli 1996. Pengadaan kontaktor untuk pengerjaan utama selanjutnya pembangunan basecamp access selesai 1998.

Akan tetapi pada akhir 1998 proyek harus dihentikan karena konflik politik di Aceh semakin memanas, sehingga pelaksanaan kegiatan di lapangan tidak bisa dilanjutkan. Akhirnya proyek harus dihentikan sementara pada Desember 2003, disebabkan oleh berakhirnya pinjaman OECF karena pertimbangan semakin memburuknya keamanan di Propinsi Aceh.

Setelah Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki ditandatangani di Finlandia oleh Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Republik Indonesia, pada 15 Agustus 2005, selanjutnya pada 2007 melalui bantuan dana dari JBIC yang diusulkan kembali, proyek tersebut dilanjutkan. Pada 27 Mei 2011, Presiden RI Dr.H. Soesilo Bambang Yudhoyono, meresmikan pembangunan PLTA tersebut.

Jefri menjelaskan desain pengembangan energi listrik tersebut menggunakan tipe run-off-river, yang ramah lingkungan sehingga mengurangi beban finansial. Mencegah dampak lingkungan sosial serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan yang bersih atau dikenal dengan istilah Clean Development Mechanism (CDM) tanpa kehilangan keaslian lingkungan.

***
Weddy dan Jefri menyebutkan, selain konflik, proyek ini juga mengalami kendala serius karena gempa dan permasalahan sosial. Gempa yang terjadi beberapa kali termasuk gempa Gayo beberapa tahun lalu, menyebabkan kerusakan serius. Akibatnya PLN harus menghitung ulang keseluruhan proyek. Tentu akibatnya PLN menanggung kerugian yang tidak sedikit. Persoalan lahan dengan warga juga menjadi hal pelik. Walau PLN sudah melakukan ganti rugi pada puluhan tahun lalu, tapi karena cukup lama tidak bisa dikerjakan, menyebabkan warga pun kembali ke lahan yang sudah pernah dibebaskan.

“Tentu kami mempertimbangkan persoalan sosial itu, kami tidak mau melakukan tindakan yang justru akan merugikan kita semua,” ujar Weddy.

Weddy juga menjelaskan proyek tersebut tidak mangkrak, hingga kini perkembangan pembangunannya sudah mencapai 63 %, untuk progres secara over all.

PLN, menurut Weddy merupakan pihak yang paling terdepan menyediakan energi listrik dengan satu tarif untuk seluruh Indonesia, untuk seluruh Sumatera ada sembilan proyek kelistrikan yang sedang dikerjakan. Di Aceh selain PLTA Peusangan 1&2 ada juga di Krueng Raya akan akan dimulai tahun 2019. Untuk PLTA di Angkop itu, 20% pembiayaannya oleh PLN, selebihnya hutang dari luar negeri.

Terkait sumber daya air yang menjadi “bahan bakar” PLTA Peusangan 1&2, Weddy menjelaskan, Krueng Peusangan yang bersumber dari Danau Lut Tawar memiliki total head 415.2m, dengan kemampuan begitu mampu menghasilkan energi tahunan 323.2 Gwh yang dihasilkan oleh dua PLTA.

Tentang keberlangsungan proyek tersebut di masa depan, pemerintah dan PLN perlu melakukan harus melakukan konservasi daearah tangkapan air. PLN bisa berperan serta melalui dana CSR-nya.

“Untuk menjaga kontinuitas air tentu harus dilakukan penyelematan daerah tangkapan air, dan itu tidak bisa dilakukan oleh PLN, itu ranahnya pemerintah melalui dinas terkait. PLN hanya bisa membantu pendanaan saja melalui program CSR,” sebut Weddy.

Tentang ancaman gempa di hari depan yang berpotensi membuat batuan Lut Tawar retak, Weddy menjelaskan, hasil riset menemukan fakta bahwa batuan di bawah Lut Tawar sangat kuat, dengn perhitungan manusia, batuan Lut Tawar tidak akan retak dengan kekuatan gempa yang sering terjadi Aceh.

***
Rombongan wartawan, diangkut dengan bus Hiace berpendingin AC yang harus dimatikan karena AC alam Tanoh Gayo yang sangat luar biasa, berangkat ke lokasi proyek sekitar pukul 10.45 WIB.

Sebuah bukit yang telah dipagari sangat tinggi menyambut rombongan. Tiga unit bus itu dan beberapa mobil milik PLN masuk ke sebuah terowongan bawah tanah, sekitar 1,5 km, jaraknya dari “dunia luar” rombongan tiba di site utama yaitu power house nomor 1.

Letak power house 1 berada 700 meter di bawah tanah, luasnya 20×50 dan kedalamnnya 30 meter. Baru digali 10 meter. Terlihat sebanyak paku bumi/rock ball (tusuk sate) berjarak dua meter atas bawah dan kiri kanan, telah siap dipasang 325, dari total 503 tusuk akan yang dipasang di power house. Kedalaman tancapannya mulai 12 sampai 16 meter menembusi tanah dan bebatuan.

Pemasangan rock ball tidak masuk dalam perencanaan awal, baru dilakukan setelah terjadinya gempa yang memnyebakan keretakan bebatuan di dalam tanah.

Ruang itu juga dilindungi oleh besi lengkung sebanyak 32 batang yang dipasang seperti atap stadion yang melengkung.

“Pemasangan paku bumi itu dilakukan setelah gempa, ini bagian dari solusi setelah beberapa gempa yang menyebabkan perubahan perencanaan pembangunan. Fungsinya untuk mengikat bebatuan dan tanah,” ujar Weddy, memberikan keterangan.

Terowongan tersebut dibuat dengan cara diledakkan menggunakan dinamit. Teknik itu dipilih karena efisien secara anggaran. Teknik drilling blasting tentu mempunyai konsekuensi, yaitu memakan waktu yang lebih lama. Pembangunan terowongan itu baru dilakukan sejak 2012 dengan cara dibor dan dimasukkan dinamit, sedikit demi sedikit.

“Doakan saja semoga pembangunan PLTA ini tidak menghadapi kendala lagi, semoga target akan beroperasi pada 2021 akan bisa diwujudkan, demi kemandirian energi listrik di Aceh,” imbuh Weddy.

Reportase ini ditulis ole Muhajir Juli, Pemimpin Redaksi aceHTrend, yang ikut serta pada acara PLN Media Tour, Takengon, Kamis dan Jumat (6,7/9/2018)