Reggae di Serambi Mekkah, Uye!

Kesaksian dua seniman reggae di Aceh.

Aceh, sebagai negeri di ujung Sumatera yang penduduknya mayoritas penikmat lekat lagu dangdut dan slow rock berbahasa lokal tetapi musiknya jiplakan utuh dari dendang negeri Hindustan dan negeri jiran Malaysia, ternyata menyimpan sisi lain. Reggae yang identik dengan ganja, oleh seniman reggae Aceh diubah menjadi musik yang bercitarasa islami, serta anti narkoba.

Ketika dihubungi oleh aceHTrend pada Jumat (31/8/2018) Faisal Syahruna (40) mengelak disebut sebagai seniman reggae, tapi ia tidak bisa menghindar kala diminta menyebutkan beberapa judul lagu yang pernah dilahirkan oleh band Jester, yang ia besut bersama teman-temannya, kala masih bermukim di Banda Aceh.

Lelaki yang akrab disapa Albert itu menyebutkan, sebelum terjun utuh ke dunia reggae, ia bersama band Jester bermain musik punk ska pada tabun 1998, namun pada tahun 2001, aliran musik mereka hijrah ke reggae.

“Tahun 2001 Jester beralih ke reggae, sebelumnya kami main musik punk ska,” ujar Albert.

Selama bermusik reggae ada beberapa lagu berbahasa Aceh seperti wahee poma tentang tsunami, Aceh lon sayang yang menceritakan tentang konflik. Selebihnya bahasa Inggris dan Indonesia.

Ada beberapa lagu reggae yang sudah direkam oleh band Jester,seperti;
1. Let’s go skanking with us(2000)
2. Ragga mendung (99)
3. I wanna freedom (2000)
4. Aceh lon sayang (2001)
5. Eidelweis jingga (2002)
6. Reggae soul (2003)
7. Wahee poma (2005)

“Kami memilih reggae karena saat itu bisa dibilang peralihan dari musik ska yang kami mainkan. Dan saya sebagai vokalis lebih adem memainkan musik yang sangat soul dan cocok menyebarkan lirik-lirik kedamaian. Saat itu, kami pernah tampil menghibur masyarakat yang tertimpa musibah tsunami 2005 yang dibuat oleh NGO Turky, dan masyarakat yang diundang sangat menikmati,” ujar Albert yang kini sibuk mengelola warung kopi Star Black, yang berlokasi di depan lapangan tenis Kodim Bireuen.

Tak Ada Event Reggae di Aceh

Walau dikenal sebagai musik yang enjoy dan liriknya mudah dicerna, tapi di Aceh musik ini minim peminat, konser musik ini tidak ada sama sekali. Pun demikian, bagi Albert itu tidak menjadi persoalan.

“Tantangan bermusik tidak ada. Kami bermusik yang terpikir adalah membuat lagu, berkarya dan berkarya, suka dan tidak suka oleh pendengar itu urusan kedua,” kata Albert.

Tanpa konser tentu tidak mudah bagi eksistensi sebuah band musik. Hal ini diakui oleh Albert, ia sendiri mengatakan konser reggae memang belum pernah ada di Aceh. Jester sendiri hanya pernah diundang di acara rokok soundrenalin A mild, tahun 2009 di Banda Aceh.

Albert mengatakan, musik reggae di Aceh perkembangannya sangat kurang, dibandingkan jenis aliran musik lain. Walaupun demikian, ia mengatakan musik ini gampang dicerna oleh masyarakat.

“Kurang berkembang karena disebabkan kurang adanya event khusus untuk aliran musik ini. Aceh, perlu dibuat acara bertaraf internasional seperti reggae musik festival,” kata Albert yang juga memberi tahu band Jester audah vakum sejak 2010, karena kesibukan personilnya mengurus bisnis masing-masing.

Hal lainnya, kata Albert, selama ini ada miss persepsi tentang reggae, seolah-olah penyanyi reggae sedang on karena sebelum manggung terlebih dahulu palet sibak. “Padahal ngereggae tidak musti harus beganja,” imbuhnya.

Tanpa Ganja dan Bernuansa Islami

Rahmad Ar Rasuly, dikenal dengan nama panggung Made, pria kelahiran 4 Agustus 1979, merupakan salah satu seniman reggae yang masih eksis hingga saat ini. Lelaki yang kerap tampil dengan rambut dreadlock dan seringpula memakai kupluk reggae, adalah penikmat kopi robusta yang sering mangkal di warkop Tepi Kali, Banda Aceh.

Kepada aceHTrend, Sabtu (1/9/2019) Made berkisah bahwa sejak kanak-kanak sudah bersentuhan dengan reggae, hal itu karena salah seorang abangnya yang bekerja di sebuah perusahaan, kerap memutar piringan hitam album UB40 dan Bob Marley.

“Teman-teman Abang saya waktu itu kebanyakan bule dari Eropa, itu karena dia bekerja di sebuah perusahaan yang bonafit kala itu, Abang saya kerap memutar piringan hitam, lantunan santai UB40 dan Bob Marley pun menjadi akrab di telinga saya,” kata Made.

Walau sejak bocah berkenalan dengan reggae, ia justru mengawali karir bermusiknya pada tahun 98-99 melalui musik rock.

“Pertama menulis lagu bertemakan Perdamaian Aceh pada 1998/1999 yang berjudul Geundrang Perang dan awal mula berani bermusik di atas panggung pada 2000 atau 2001 dengan band Plastic Exs, bergenre hardcore punk bersama komunitas Punk Tanggoel Rebel dan juga membawakan lagu Geundrang Perang pada masa konflik GAM-RI,” kenang Made.

Dia melanjutkan cerita, tidak lama berselang, dirinya mendirikan band bergenre rock n roll & bluss, dan kala itu ia mulai mencoba reggae serta menggubah sebuah lagu dengan judul: Penuh Warna. Akan tetapi karena hanya ada pemain gitar dan sulit mencari personil, khususnya pemain bass dan pemain drum yang bisa memainkan reggae. Maka cita-cita eksis dengan reggae ia pendam untuk sementara waktu. Konon pada saat itu di Aceh sedang demam musik rock.

Pada tahun 2004, sebelum gempa dan tsunami Aceh, Made dari Jakarta menuju Yogyakarta, dan bersama teman-temannya yang juga dari Aceh yang sedang sekolah musik di sana seperti alm. Vicky Maulana(guitar)–hilang ketika tsunami Aceh–dan Reza Eko Permadi (drum), mereka rekaman empat lagu yang Awalnya bergenre pop jazz.

Satu lagu di antaranya dijadikan warna yang berbeda yaitu pop reggae.”Kenapa bisa begitu, saya pun tidak tahu. Saya beri judul: Jogja In Memory,” kenangnya.

Setelah tsunami Made pulang ke Aceh. Pada masa konflik tahun 1995 ia dikirim mondok di salah satu pesantren di Jawa Timur. Karena tidak tahan mondok, lantas Made kabur kembali ke Aceh. Setelah sempat bersekolah di Aceh, ia pun kemudian pindah dan bersekolah di Jakarta. Setelah MoU Helsinki, ia menetap di Aceh.

Karena di dalam tubuhnya sudah mengalir kental seni musik, setibanya di Aceh Made pun mencari personil baru untuk mewujudkan mimpinya membentuk band reggae.

“Saya memilih reggae alasannya juga karena iramanya yang santai, indentik dengan menyuarakan alam, perdamaian, juga budaya. Tapi di sini saya membawa nuansa islami,” kata Made.

Reggae Aceh, sebutnya, tidak seperti reggae Jamaika yang memiliki kepercayaan Rastafari. Reggae bagi mereka (penganut faham reggae Jamaika), mayoritasnya adalah sebagai media dakwah penyebaran ajaran Ratafari dan marijuana. Ganja mereka hisap sebagai alat meditasi saat sedang berdo’a pada tuhannya yang disebut Jah, yang merupakan seorang raja (Haile Salassie) yang dianggap sebagai dewa penyelamat saat pembebasan perbudakan oleh kolonial Inggris di Jamaika.

“Musiknya sama-sama reggae, tapi pahamnya berbeda. Bagi saya dan teman-teman di Aceh, reggae adalah alat untuk menyuarakan isi hati tentunya yang sesuai dengan Aceh yang menjalankan syariat Islam. Kami juga tidak menghisap ganja,” kata cucu Maulana Syech Sulaiman Arrasuli Al-Khalidi.

Kerja keras membentuk band reggae ia lakukan tahun 2007 dan tahun 2008 reggae, bagi band Made In Made menjadi pilihan terakhir. Konsep awalnya Melayu Reggae dengan niatan bisa menembus pasar Malaysia.

Tapi sekitar dua tahun kemudian, Made berpikir untuk menambah unsur keacehan. “Karena kita tinggal di Aceh harus juga menghargai kesenian kita sendiri. Kita boleh terinspirasi dengan budaya orang lain, akan tetapi budaya kita sendiri jangan kita lupakan. Akhirnya jadilah genre Melayu, Aceh and Reggae,” katanya.

Tentang jumlah lagu yang sudah ia gubah, Made mengaku audah banyak menulis lirik lagu. Tapi yang masuk dapur rekaman masih sedikit

“Kalau lagu mungkin banyak, tapi tidak semua sudah direcord. Untuk saat ini ngak bisa bilang jumlahnya. Ya mungkin sekitar puluhan lagu lah,” sebutnya.

Tantangan Bermusik

Kala ditanya tentang tantangan dalam bermusik reggae, berbeda dwngan Albert, Made justru bercerita banyak tentang berbagai hambatan dalam memajukan reggae di Aceh.

“Tantangan banyak sekali, mulai dari awal mula melibat kawan-kawan yang tidak sejalan, terus perjalanan kita diibaratkan seperti bergerilya. dan kita sering tidak dilibatkan di event-event besar yang digelar di Provinsi Aceh–secara tidak langsung kita di black list,” katanya.

Menurut Made, band yang ia pimpin masuk “daftar hitam” dunia kesenian di Aceh karena dinilai sangat kritis tentang berbagai hal. “karena kita dianggap selalu kritis mengenai situasi dan kondisi di Provinsi Aceh, baik itu mengenai lingkungan, perambahan hutan, sosial dan seni budaya, dikarenakan kita berkarya bukan hanya sebatas mencari kepopuleran, dan menginginkan uang semata. dan idealnya seorang yang berkarya itu menyampaikan pesan bermanfaat bagi sesama umat manusia dan ummat beragama,” katanya penuh semangat.

Pun demikian, Made tidak kehilangan akal, ia pun terkadang membuat event sendiri, dan kerap manggung di luar Aceh. Baik di Sumatera maupun Jawa, juga bahkan sampai ke luar negeri pada festival musik reggae bertaraf world music. Uyee!

Foto dikutip dari Facebook Albert Jester dan Ramadhan Moeslem Ar-Rasuly.