Warung Kopi Bukan Tempat Maksiat

Oleh Khairil Miswar*)

Dalam sejarahnya kedai kopi/cafe dan warung itu bukan tempat maksiat, meskipun ada potensi pelanggaran syariat di sana.

Sama halnya dengan tempat-tempat lain juga berpotensi terjadi pelanggaran syariat, seperti sekolah, kantor pemerintah, perusahaan swasta, jambo jaga, bahkan di tenda-tenda pengungsian juga berpotensi terjadinya pelanggaran.

Tapi, pada dasarnya tempat itu bukan tempat maksiat. Jangan hanya karena terjadi maksiat di satu atau dua cafe, lalu semua cafe disamakan dan dicurigai.

Jangan hanya karena ada oknum siswa/siswi kedapatan mesum di satu sekolah, kemudian semua sekolah pun dianggap tempat maksiat.

Jangan gara-gara satu dua orang mesum di pantai, lalu pantai pun dianggap markas maksiat.

Jika logika itu yg dipakai, nanti seandainya di WC masjid ditemukan orang pacaran, maka WC masjid pun akan dianggap tempat maksiat. Ingat, beberapa waktu lalu di basement Mesjid Raya Baiturrahman (MRB), Banda Aceh, sejoli berusia lumayan tua kedapatan mesum, apakah basement MRB juga harus ditutup?

Demikian seteterusnya

***

Terkait imbauan Bupati Bireuen, kita saya mengkritik 4 poin dan sepakat dengan 10 poin.

Tiga poin dalam imbauan itu saya kritik karena ia bersifat mutlak dan tanpa pengecualian. Sementara satu poin lain kita kritik dengan alasan ambigu dan tidak jelas.

Pertama, tutup warung dan cafe jam 24 jika bersifat mutlak tidak bisa diterima, karena itu bermakna semua warung harus tutup. Seolah-olah semua warung yang buka di atas pukul 24 adalah tempat maksiat. Seharusnya poin itu dibatasi hanya pada warung atau cafe remang-remang atau warung-warung dan cafe yang terpencil dari keramaian.

Kedua, pramusaji wanita berhenti bekerja di atas pukul 21. Kalimat ini bersifat mutlak maka dikritik. Seharusnya larangan ini hanya berlaku di cafe remang-remang, bukan di semua warung.

Ketiga, tidak boleh melayani pelanggan wanita di atas pukul 21, poin ini pun bersifat mutlak tanpa kecuali, makanya dikritik. Artinya dengan alasan apa pun wanita tidak boleh membeli di warung di atas pukul tersebut. Ini konyol.

Seandainya kalimat itu diubah: wanita tidak boleh ke warung remang-remang atau ke warung tepi pantai di atas pukul 21 tanpa mahram, ini hana dawa (tidak ada debat). Atau: dilarang melayani wanita di atas pukul 21 tanpa mahram, kecuali kondisi darurat. Ini hana blem (tidak menjadi problem)

Duduk semeja tanpa mahram haram. Poin ini dikritik karena kurang jelas. Apakah duduk berduaan atau duduk ramai-ramai. Kalau duduk berduaan kita sepakat, apalagi duduk berimpit. Tapi larangan ini juga harus diperluas, jangan hanya di kedai kopi. Di ruangan tertutup seperti kantor juga harus diterapkan agar tidak ada campur baur laki-laki perempuan dalam satu ruang.


*)Guru sekolah rendah yang sudah menulis artikel di media massa mainstream sejak lama dan telah melahirkan buku kritik sosial.

Foto: ist