Reaksi Cepat Ombudsman Terkait Vaksin Campak dan Rubella

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Ombudsman Republik Indonesia (RI) Perwakilan Aceh melaksanakan Reaksi Cepat Ombudsman (RCO) untuk mencari solusi terkait maraknya isu mengenai vaksin measles dan rubella (MR) yang simpang siur di masyarakat.

RCO ini berupa diskusi yang dibuat untuk mencari jalan keluar dari persoalan di atas dengan menghadirkan para pihak terkait, yaitu dari Dinas Kesehatan Aceh dihadiri dr. Fattah, Juru Bicara Pemerintah Aceh Saifullah Abdulgani, dari Unicef, Komisi Pengawasan Perlindungan Anak (KP2A) Aceh, dan Ikatan Dokter Indonesia yang diwakili dr. Aslinar Sp. A, serta dari Rumah Singgah Harapan Kita dihadiri langsung oleh Nurjannah Husien. Diskusi ini dilaksanakan di kantor Ombudsman Perwakilian Aceh siang tadi, Rabu, 12 September 2018.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Dr. Takwaddin Husin, mengatakan RCO merupakan salah satu cara penanganan permasalahan pelayanan publik oleh Ombudsman dengan mekanisme yang nonprosedural. RCO ini dilakukan sesuai indikator tertentu, yaitu demi kepentingan masyarakat, keadaan darurat yang membahayakan nyawa atau keselamatan jiwa, dan hal-hal yang berhubungan dengan kebencanaan.

“Ombudsman dalam hal ini sesuai kewenangannya melaksanakan RCO untuk mencari solusi secepat mungkin karena berkaitan dengan nyawa manusia. Sebagaimana kesehatan merupakan bagian dari pelayanan dasar,” ujar Dr. Takwaddin Husin melalui siaran pers yang diterima aceHTrend.

Ia menguraikan, berdasarkan data 2010-2015 kasus penyakit campak di Indonesia sebanyak 23.164 dan kasus penyakit yang disebabkan oleh rubella sebanyak 30.463. Pada tahun 2013 tercatat ada sekitar 2.767 kasus yang merupakan cacat bawaan akibat infeksi rubella yang terjadi di Indonesia. Angka ini sangat memprihatinkan karena butuh biaya yang sangat besar untuk menyembuhkannya. Padahal pemerintah sudah menyosialisasikan pentingnya vaksin MR melalui berbagai media massa.

Sementara itu, dr. Fattah mengatakan, akibat tidak dilakukannya vaksin MR bisa mengakibatkan terjadinya gangguan penglihatan, pendengaran, hingga gangguan jaringan otak yang menyebabkan keterlambatan si penderita dalam berpikir.

Memperkuat keterangan tersebut, dr. Aslinar Sp. A yang juga Sekretaris IDAI yang saat ini sedang menangani kasus tersebut mengatakan, “Pada pasien rubella bisa menyebabkan radang paru yang kemudian pengobatannya harus diisolasi. Tidak boleh gabung dengan pasien lain,” ujarnya.

Sementara Nurjannah Husien mengatakan, masalah yang sedang mereka tangani yaitu rata-rata pasien tidak melakukan vaksin saat mereka masih bayi.

Mempertimbangkan besarnya dampak yang ditimbulkan akibat bila tidak melakukan vaksin MR ini, komisioner KP2A Aceh Firdaus Nyak Idin menyarankan agar MPU dan Pemerintah Aceh segera bermusyawarah terkait hal ini.

Diskusi RCO siang tadi menghasilkan beberapa kesimpulan, yaitu imunisasi vaksin MR harus terus berjalan, Plt Gubernur Aceh dan Dinkes Aceh didesak agar segera duduk bersama dengan MPU untuk menentukan sikapnya, Pemerintah Aceh juga disarankan untuk mengeluarkan instruksi terkait hal ini, termasuk instruksi untuk melakukan sosialisasi yang dilakukan MPU Aceh.

Selain itu, Ombudsman juga menyarankan tindakan korektif kepada Pemerintah Aceh. “Hal ini untuk melindungi tingkat kematian bayi dan merambahnya wabah campak dan rubella,” katanya.[]

Editor : Ihan Nurdin