Teungku Faisal Ali: Terkait Rubella, Dinkes Aceh Sudah Masukkan Surat Audiensi

ACEHTREND.COM,Banda Aceh- Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Teungku Faisal Ali, kepada aceHTrend mengatakan bahwa Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan Aceh, sudah memasukkan surat permohonan audiensi tentang Fatwa MUI Pusat Nomor 33 Tahun 2018 tentang pengunaan vaksin MR.

“Benar, kemarin Dinas Kesehatan masukkan surat audiensi terkait Fatwa MUI Pusat tentang vaksin rubella, mereka minta audiensi hari ini, tapi karena saya dan Abu Muslim Ibrahim sedang di luar daerah, surat itu belum kami jawab,” ujar Teungku Faisal, Rabu (12/9/2018).

Kepada aceHTrend, Teungku Faisal Ali menyebutkan, pihaknya akan mengkaji terlebih dahulu sebelum membuat keputusan tentang boleh atau tidaknya penggunaan vaksin rubella di Aceh.

“Saat ini saya sedang PKU di Aceh Selatan, Abu Muslim juga baru pulang dari sini, setelah kami berkumpul di Banda Aceh dalam beberapa hari ini, kami akan membahas itu,” kata ulama muda yang akrab disapa Lem Faisal.

Dikutip dari Wartakota, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya memutuskan bahwa Vaksin Measles Rubella (MR) diperbolehkan untuk imunisasi.

Fatwa tersebut diterbitkan setelah melalui proses pembahasan dalam Rapat Pleno sejak Jumat (17/8/2018) dan Senin (20/8/2018).

Vaksin MR yang merupakan produksi Serum Institute of India (SII) tersebut diperbolehkan sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018.

“Pertama, terdapat kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iiyah). Kalau, belum ditemukannya vaksin MR yang halal dan suci. Ketiga, ada keterangan ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin halal,” tutur Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni’am Sholeh di kantor MUI Pusat, Jakarta, pada Senin malam, dalam laman resmi MUI.

Oleh sebab itu, apabila nantinya telah ada vaksin serupa yang halal dan suci, maka hukum Vaksin MR yang saat ini ‘mubah’ atau ‘diperbolehkan’ kembali menjadi ‘haram’ karena dalam proses pembuatannya mengandung zat haram.

Foto dikutip dari Mahyal Ulum Al Aziziyah.