Membangun Impian Masyarakat Desa Melalui Rumah Relawan Remaja

istimewa/3R

SEORANG perempuan muncul dari rumah berkonstruksi kayu berlantai dua di Gampong Lam Lumpu, Peukan Bada, Aceh Besar siang itu, Selasa, 11 September 2018. Senyum hangatnya menyambut kedatangan saya. Kami pun saling berjabat tangan.

Perempuan itu, Rahmiana Rahman namanya. Perempuan berdarah bugis yang dipersunting lelaki Aceh, Perdana Romi Saputra, pendiri Rumah Relawan Remaja (3R) yang menjadikan rumah berkonstruksi kayu itu sebagai markasnya. Kini mereka bersama-sama mengelola organisasi kerelawanan yang terbentuk sejak 2013 itu. Banyak kegiatan yang mereka lakukan untuk memacu kreativitas anak-anak muda.

Ami lantas mengajakku naik ke lantai dua. Di sana sudah menunggu delapan guru Pustaka Impian yang nantinya akan menjalankan program Pustaka Impian di daerah-daerah terpencil di Aceh. Ini salah satu program 3R untuk meningkatkan minat baca anak-anak di daerah yang mengalami kesulitan untuk mengakses bahan bacaan.

Sebelum diturunkan ke daerah, para guru relawan ini akan diberikan pembekalan mengenai beberapa hal, salah satunya mengenai cara menulis kreatif yang mempercayakan saya sebagai salah satu pematerinya.

“Mulanya Bang Romi hanya membuat pustaka kecil dan beberapa program sosial untuk masyarakat desa. Namun sejak 2016 dibentuklah program Pustaka Impian yang menempatkan Guru Impian ini ke daerah-daerah pelosok Aceh selama setahun,” ujarnya kepada aceHTrend.

Guru Impian Harus Bisa Menulis Kreatif

istimewa/3R

Delapan guru tersebut merupakan relawan-relawan terpilih dari seluruh Indonesia. Melalui program Pustaka Impian mereka mendapat kesempatan untuk mengabdikan diri selama setahun di desa terpencil. Mereka diwajibkan untuk menuliskan berbagai pengalaman menarik yang mereka alami selama masa pengabdian.

“Mereka harus bisa menulis, minimal ada satu tulisan yang dikirimkan setiap bulannya. Nanti tulisan ini akan dimuat di majalah Rumah Relawan Remaja,” kata Ami seraya menyodorkan majalah tersebut kepada saya.

Pustaka Impian ini kata Ami, merupakan kelanjutan dari Peace Library yang sudah dilaksanakan 3R sejak tahun 2013. Kegiatannya yaitu membuat pustaka kecil dan melakukan program sosial berbasis masyarakat ke desa-desa.

Kunjungan pustaka ini dilakukan setahun dua kali dengan jangka waktu tujuh hari. Dalam kunjungan itu mereka membawa sejumlah buku sebagai bahan bacaan masyarakat desa dan mengajak anak-anak bermain sambil belajar.

“Melihat antusias dan semangat anak-anak yang begitu gigih membaca buku-buku di pustaka dan mengeja huruf, muncullah ide untuk menempatkan relawan yang kita sebut Guru Impian. Mereka ditempatkan ke desa-desa melalui sebuah program yang kami sebut Pustaka Kampung Impian dengan jangka waktu yang lebih lama,”

Jam menunjukkan angka pukul 16.00 WIB. Kelas metode menulis kreatif yang saya ampu telah selesai. Selain menulis kreatif, peserta juga mendapat bekal mengenai storytelling oleh Gracia dan Novianza dari Kampung Dongeng Aceh.

“Ini merupakan hari kedua mereka dalam mengikuti Orientasi Kampung Impian,” ujar Ami sambil mengajakku turun ke lantai dasar.

Karena sudah memasuki waktu salat Asar, saya menumpang salat di sana. Sekalian supaya bisa mengobrol lebih banyak dengan Ami yang mempunyai semangat luar biasa ini. Saya menumpang salat di kamar Nori, alumnus Guru Impian yang punya latar belakang pendidikan perawat.

Usai salat, Ami mengajak saya ke bagian belakang. Di sana terlihat suaminya Romi sedang melatih beberapa anak membuat ukiran kayu. Beberapa bilah papan dan serbuk kayu menutupi permukaan tanah. Seorang lelaki tampak sibuk dengan pekerjaannya. Di atas meja yang digunakan sebagai tempat memotong kayu terdapat sebuah seruling.

Setelah itu kami memilih duduk di bangku bambu dan melanjutkan obrolan tentang Guru Impian dan Pustaka Kampung Impian.

“Kita sangat berharap program ini menjadi sarana belajar bagi masyarakat terutama anak-anak dan remaja. Tujuannya tidak lain untuk membangun pola pikir kreatif dan luas agar mereka memiliki tanggung jawab terhadap kampung/desa mereka sendiri,” kata perempuan murah senyum itu.

Ami dan Romi merupakan potret suami istri yang saling bermutualisme dalam memberdayakan masyarakat desa. Mereka bekerja tanpa pamrih walau tak sepeser pun uang dari pemerintah mengalir ke kantong mereka. Semua aktivitas mereka dibiayai oleh NGO kolega suaminya.

Ketulusan pasangan suami istri yang berupaya memfasilitasi anak-anak desa dalam mengembangkan kemampuan dasar, khususnya di bidang membaca dan menulis sangat menginspirasi.

Pandangan saya berpindah ke barisan pohon bakau yang terdapat di bagian belakang rumah. Kehadiran seorang perempuan yang membawa gorengan dan sirup dingin membuyarkan lamunan saya. Ami masih berceloteh mengenai mimpi-mimpi masa depannya.

“Anak-anak yang belum bisa membaca dituntun hingga bisa membaca. Begitu juga dengan anak-anak yang sudah bisa membaca diarahkan untuk menulis karya-karya sederhana. Hal ini didasari dari pengalaman kami selama berkegiatan di desa-desa terpencil, ternyata banyak anak-anak yang semestinya sudah bisa membaca tapi belum bisa membaca,” lanjut Ami.

“Selain mengembangkan literasi, program Pustaka Kampung Impian juga membuka kelas kesenian daerah dan prakarya. Pada akhirnya hasil karya mereka akan dipamerkan di Pameran Karya yang juga menampilkan pertunjukan seni di desa masing-masing. Seluruh karya anak-anak dalam kegiatan ini baik yang berupa gambar maupun tulisan dikumpulkan dan dijadikan buku untuk memotivasi agar mereka terus menulis, berkarya, dan berkreativitas.”

Semangatnya membuat saya kagum. Program yang digagasnya bersama suami telah memberi manfaat bagi banyak orang, terutama anak-anak di pedesaan. Benih-benih manfaat juga terus mereka tebarkan termasuk pernah menjadi relawan untuk pengunsi Rohingya di Bangladesh.

Pasangan yang menikah pada 2017 ini tak ingin menjadikan pernikahan sebagai hambatan untuk terus berkarya. Justru itu menjadi pemantik semangat agar bisa melakukan banyak hal bagi banyak orang.

“Banyak teman yang bilang kalau sudah menikah susah untuk beraktivitas karena harus mengurus anak dan suami. Sekarang aku buktikan kepada mereka bahwa setelah aku menikah aku bisa pergi dan melakukan apa saja bersama suami. Bahkan Bang Romi mengajakku lagi ke Bangladesh untuk menjadi relawan. Kalau anaknya lahir di sana ya, nggak apa-apa,” ujar Ami yang saat ini sedang mengandung.[]

Editor : Ihan Nurdin