Catatan Demonstran Aceh: Rusuh di Dua Jembatan untuk 2 Presiden

Demontran di Jembatan Lamnyong tahun 1998 yang terpecah dalam group kecil. Foto By Lukman AG

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Allahu Akbar, Allahu Akbar

Suara azan itu bukan dari menara mesjid, melainkan dikumandangkan oleh Tgk Idris Mahmud, ayahnya Safwan Idris, Rektor IAIN Ar Raniry, di jembatan Lamnyong.

Kala itu, posisi mahasiswa dan Brimob di jembatan Lamnyong terlihat saling berhadap-hadapan. Aksi demo 20 Mei 1998, makin panas.

Abu Idris, menurut Usman Lamreung dan Cekman Basyah datang ke lokasi demo dengan sepedanya. Murizal Hamzah dan Radhi Darmansyah mengaku melihat kehadiran Abu Idris di lokasi demo mahasiswa.

Menurut Ameer Hamzah, Abu Idris khawatir akanjatuh korban di kalangan mahasiswa, akhirnya ulama kharismatik Aceh Besar itu mengumandangkan azan.

Murid dari ulama Aceh Abu Hasan Kruengkale itu pun ikut memberi nasehat kepada para demonstran menggunakan Toa milik mahasiswa.

“Kebetulan saat itu saya yang memegang toa. Saat Abu Idris tiba-tiba muncul di tengah massa aksi lalu “menasehati” mahasiswa yang sudah memanas. Saya pun memberikan toa agar suara Abu Idris terdengar. Setelah selesai saya mengantar beliau melintasi jembatan Lamnyong. Aparat memberi jalan. Saya hanya mengantar sampai ujung jembatan di belokan menuju Lamreung, lalu saya kembali ke barisan. Setelah itu, tembakan gas air mata dan benturan terjadi…” kata Budi Arianto, salah seorang demontran dari Unsyiah.

Aksi demo yang terjadi sehari sebelum Soeharto mundur, 20 Mei 1998 itu cukup dramatis. Demontran ikut dibubarkan dengan tembakan dan gas air mata. Hujan batu juga terjadi.

“Gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan, sampai ke kampus ekonomi…sementara aparat sendiri, saat gas air mata berbalik arah ketempat mereka…mobil pemadam menyirami…mangat that awaknyoe…
Rekan-rekan ada yang masuk ke warung makan, bahkan ie rah jaroe pih jadeih geujiep…” kenang Cekman Basyah.

Radhi Darmansyah berkisah tentang Tajuddin yang cukup berani. Usai membuka baju ia menantang aparat untuk menembak dirinya. “Waktu kena gas air mata baru bubar, ” sebut Radhi.

Menurut Lukman AG, tekanan aparat kepada massa demo membuat demontran terpecah dalam group kecil. Lukman lalu memperlihatkan satu group yang lolos dari jembatan Lamnyong, melewati jalan kampung Lampineung dan prada akhirnya mentok di rumah sakit. “Beberapa kali dihadang pasukan brimob hingga terpecah-pecah l jadi group kecil-kecil,” kata Lukman AG.

Budi kembali berkisah. Meski ia ikut terkena batu dari lemparan rekan-rekannya namun ia selamat dalam bentrokan yang terjadi pada aksi demo 20 tahun lalu itu.

Bagi Budi Arianto, aksi demo yang berujung bentrok pada 1998 di jembatan Lamnyong menjadi pengalaman pertama baginya merasakan gas air mata..

“Saya sangat terkesan dengan peristiwa ini karena kepala sempat berdarah. Bukan kena pukul aparat tapi terkena batu dari massa mahasiswa karena saat itu saya berada di barisan depan. Dulu, malu cerita. Yang lain kalau kena pukul aparat ada rasa bangga cerita…nah ini kena batu kawan….hehehe,” kenangnya.

Wartawan Majalah Forum Keadilan untuk liputan Aceh, Murizal hamzah yang berada di belakang mobil penyemprotan gas air mata terus merekam aksi demo yang rusuh. “Berada di belakang jajaran aparat aman dari serbuan gas air mata namun berisiko terkena lemparan batu dari mahasiswa,” kata Murizal berkisah.

Pengalaman sedikit berbeda dan lebih beruntung dialami Budi pada aksi demo di jembatan Pante Perak saat Habibie tiba di Aceh, Jumat 26 Maret 1999. Budi mengaku selamat karena memakai ID Cart media.

“Saya selamat dari pukulan aparat karena menggunakan ID Card Kontras, meski begitu kenyang juga gas air mata,” kata Budi Arianto.

Aparat waktu itu mengira jika dirinya wartawan media Kontras, Serambi Indonesia. Kesempatan itu digunakan untuk membantu evakuasi demontran yang jadi korban.

“Tidak hanya satu orang tapi banyak yang jatuh korban, ” tambahnya.

Dengan begitu, pasca bentrok hingga malam sebagian mahasiswa bertahan di depan RSUZA.

“Kalau nggak salah waktu itu ada yang sempat dapat tameng dan masker moncong punya aparat…entah siapa yang akhirnya bawa pulang barang itu. Satu teman yang sangat parah dihajar aparat adalah aktivis IAIN Ridha Yunawardi,” kenang Budi.

Bagi Cekman Basyah, aksi demo di Jembatan Pante Perak cukup berkesan. Saat pecah keributan massa demonstran pecah, mencar dan balik lagi. “Saya saat itu minum air bak yang berwarna kuning di tempat bilyar Kokon. Lalu terjadi bentrok lagi, kawan-kawan lari ke arah kolam renang tirta raya, masuk dengan cara pecahin kaca untuk mencari air…bahkan rak minum Coca Cola, Sprite dll habis diambil, ” kenangnya.

Di atas jembatan Pante Pirak mahasiswa juga menggelar shalat Jumat meski udara masih bercampur dengan gas air mata.

**

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Di Mesjid Baiturrahman Habibie mengumandangkan takbir sebelum berpidato. ”Saya intruksikan [kepada] aparat keamanan untuk menghentikan semua tindakan kekerasan dan pertumbahan darah. Saya juga minta diambil tindakan terhadap oknum ABRI, birokrat dan masyarakat yang melaksanakan perbuatan melanggar hukum dan melanggar hak asasi manusia,” tegasnya usai kembali memohon permintaan maaf.

Kehadiran Habibie mendapat tanggapan dari Rektor IAIN Ar Raniry. “Kunjungan ini sedikitnya memberkan angin segar bagi masyarakat Aceh bahwa pemerintah pusat memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap masyarakat Aceh,” tuturnya yang dikutip media Republika.

Di jembatan Pantee Perak sekitar seribu mahasiswa melakukan demonstrasi, dan bentrok dengan aparatpun terjadi ketika mahasiswa mencoba menerobos blokade petugas di ujung jembatan Pantee Pirak guna menuju Masjid Raya Baiturrahman, tempat digelarnya dialog. Bentrokan
juga sempat terjadi di ujung jembatan sebelum Presiden tiba di kota “Serambi Mekah” tersebut.

“Saya melihat Kautsar paling nekat, dia yang memulai membenturkan tubuhnya dengan pihak aparat, ” kata Budi Arianto.

Akibat ketatnya penjagaan di jembatan tersebut, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Aceh, terus berupaya menerobos barisan pertahanan keamanan, sehingga aparat terpaksa
memberikan tembakan peringatan. Namun mahasiswa terus menekan, sehingga bentrokkan tidak dapat dihindari.

Melihat para demontrans semakin beringas, pihak keamanan menembakkan gas air mata yang berhasil membubarkan mahasiswa. Pihak keamanan yang berada pada lapisan kedua di ujung jembatan Pantee Pirak –dekat Mesjid Raya Baiturrahman— juga terkena gas air mata, karena embusan angin ke arah mereka. Memasuki waktu shalat Jumat, aksi mahasiswa berhenti.

“Meski demo keras tapi gereja dan komplek militer tidak ada yang rusak, ” kata Murizal Hamzah, yang pada saat itu berada di lokasi, bersama mahasiswa.

Abu Idris, ayah dari Rektor Unsyiah, Safwan Idris sudah berpulang, 6 September 2015 dalam usia 110 tahun. Sebelumnya, anaknya Safwan Idris juga sudah berpulang pada 16 September 2000.

Pada saat itu, Abu Idris dengan sepedanya mendatangi rumah anaknya Safwan Idris begitu mendengar kabar penembakan. Namun, setiba di lokasi korban penembakan ternyata sudah dilarikan ke rumah sakit. Sosok intelektual kampus yang dikenal dekat dengan mahasiswa itu tewas ditembak pelaku yang hingga hari ini tidak diketahui, di dalam rumahnya sendiri, 18 tahun lalu, di tanggal ini, 16 September 2000 pagi.