Akbar Rafsanjani, Santri Milenial dari Tanah Rencong

Akbar Rafsanjani

AKBAR Rafsanjani meneguk sanger espressonya. Racikan kopi Arabika dengan campuran susu khas tanah rencong ini merupakan minuman favorit Akbar selain kopi hitam. “Kalau sudah kena kopi rasanya otak jadi cas,” kata Akbar mengawali perbincangan dengan aceHTrend di salah satu kafe di Kota Sigli, Pidie, Provinsi Aceh pada 24 Agustus 2018 lalu.

Tak lama kemudian, anak muda berkaca mata itu mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. “Ini dia Kitab Lapan yang saya ceritakan waktu itu,” ujarnya.

Pada pertemuan sebelumnya, Akbar bercerita banyak perihal Kitab Lapan. Ia juga mengundang saya untuk melihat langsung aktivitas para santri di balai pengajian tempat ia mengajar. Sayangnya, saat saya ke Sigli akhir Agustus lalu pengajian belum dimulai karena bertepatan dengan libur Iduladha. “Tak apa kan kita bertemu di kedai kopi saja?” candanya.

Kitab Lapan yang dicetak di kertas kuning ini berisi resume dari delapan kitab yang dikarang oleh beberapa ulama sekaligus, dihimpun menjadi sebuah kitab yang diberi nama Jam’ul Jawami’ Mushannifat. Dayah-dayah atau pesantren tradisional di Aceh umumnya berpedoman pada kitab ini. Bahkan hingga ke Malaysia, Patani, dan Brunai Darussalam.

“Kalau kita mengamalkan isi Kitab Lapan ini dengan baik, kita bisa menjadi muslim sejati,” kata Akbar mengutip pernyataan guru mengajinya di Pesantren Misbahul Huda, Garot, Teungku Safrizal. “Pernyataan tersebut merujuk pada inti dari Kitab Lapan, yaitu ada dua hal yang harus dilupakan dan dua hal yang harus diingat oleh manusia. Yang harus diingat, yaitu keburukan kita pada orang lain dan kebaikan orang lain pada kita. Sedangkan yang harus dilupakan, yaitu keburukan orang lain pada kita dan kebaikan kita pada orang lain.”

Jika substansi itu itu terus dipegang teguh, maka pikiran seseorang tidak akan mudah diracuni dengan hal-hal negatif. Apalagi dengan ide-ide radikal yang bisa berujung pada aksi-aksi terorisme yang sangat bertentangan dengan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Akbar menceritakan bagaimana ia sebagai seorang anak muda yang tumbuh dan besar di lingkungan pesantren, kerap mengalami keresahan setiap menyaksikan atau membaca berita-berita terorisme yang kerap dikaitkan dengan Islam. Hal itu membuatnya bertekad untuk menunjukkan citra positif, bahwa generasi Islam yang dididik dengan bekal agama yang benar tidak akan menyalahgunakan ajaran agama untuk hal-hal yang merugikan orang lain. Sebagai generasi milenial yang lahir di era tahun 90-an, pemuda berusia 28 tahun itu berusaha beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi tidak lupa pada jati dirinya sebagai santri.

Ia masih ingat, saat usianya delapan tahun orang tuanya mengantarkan ia mengaji ke menasah. Itulah awal mula perkenalannya dengan dunia santri. Bukan hanya Akbar, masyarakat Aceh umumnya memberikan dua pendidikan sekaligus pada anak-anak mereka, yaitu sekolah umum dan pendidikan agama di balai-balai pengajian atau pesantren.

Tradisi mengantar anak ke balai pengajian atau pesantren ini terbilang unik dan merupakan kearifan lokal bagi masyarakat Aceh. Para orang tua biasanya akan membawakan sepiring ketan saat mengantarkan anaknya pertama kali untuk mengaji. Sampai di balai pengajian atau pesantren, sang anak akan ditepungtawari atau peusijuek sembari dibacakan doa-doak khusus agar diterangkan hatinya dalam belajar dan mempunyai kehidupan yang baik nantinya.

Hal ini menandakan bahwa orang tua telah menyerahkan dan merelakan anaknya untuk dididik oleh guru mengaji mereka. Sehingga, segala sesuatu yang terjadi di tempat mengaji menjadi tanggung jawab gurunya.

Akbar sedang membolak-balik Kitab Lapan yang lazim disebut kitab kuning karena dicetak di kertas berwarna kuning. @Ihan Nurdin/aceHTrend

“Nilai-nilai yang diajarkan di dayah biasanya sangat mendasar sekali seperti jangan tinggalkan salat. Ketika di dayah pemimpin dayah memegang tampuk atau pengendali akidah murid-muridnya.”

Setelah mendapat bekal yang cukup, memasuki usia SMA Akbar mulai turut mengajarkan kitab di balai pengajiannya. Ia mulai mendapatkan kepercayaan dari gurunya untuk mengajar para junior. Di luar aktivitasnya sebagai santri, ia juga kuliah Jurusan Bahasa Arab di Kampus Al-Hilal Sigli. Akbar juga aktif berkomunitas untuk menambah jejaring dan memperkaya wawasannya.

“Dengan berkomunitas kita bisa mengasah kreativitas, mendapatkan wawasan dan pengalaman baru tetapi saya sudah punya bekal sehingga apa yang saya temui dan lihat di luar lingkungan saya, tidak membuat saya melenceng,” ujar anak muda kelahiran Sigli, 21 September 1990 itu.

Meskipun di luar itu ia kerap melihat hal-hal yang berseberangan dengan apa yang diyakininya, tetapi tak membuat sineas muda ini mudah melabeli atau mencap negatif orang lain. Lagi-lagi kata Akbar, semua itu berdasarkan substansi dari Kitab Lapan yang mengajarkan bila bertemu dengan orang yang mengerjakan maksiat kita tetap harus merendahkan diri. “Karena bisa saja tiba-tiba mereka bertaubat dan orang itu lebih baik dan bersih dari kita. Ini salah satu doktrin yang positif dalam kitab ini. Jadi kita selalu senantiasa merasa takut dan rendah hati.”

Dengan aktif di berbagai komunitas, salah satunya komunitas Aceh Documentary (ADoc) dan Komunitas Steemit Indonesia membuat Akbar menjadi santri yang melek pada perkembangan teknologi informasi. Penggila sepak bola ini mengatakan, para santri juga harus menguasai lahan teknologi seperti media sosial untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan dakwah. Jangan sampai kehadiran teknologi yang semakin canggih, hanya dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal untuk menyebarkan berita-berita bohong atau hoax dengan tujuan menyebarkan kebencian dan memancing perpecahan. Apalagi di Indonesia yang menjadi rumah bagi beragam umat beragama dan suku bangsa. Tentunya menjadi sasaran empuk bagi mereka yang tidak suka melihat Indonesia berkembang menjadi negara yang rukun dan damai.

“Ini masih menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian santri, mungkin karena kurang pemahaman tentang sosmed sehingga mereka mudah termakan kabar hoax dan semacamnya. Biasanya kalau ke teman-teman dekat saya ikut menjelaskan, setiap ada berita disaring-saring dulu,” ujar Akbar yang juga tergabung di komunitas Coachsurfing dan Backpacker Dunia ini.

***

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Usamah (Foto : aceHTrend/Taufik)

Menciptakan generasi digital yang melek teknologi informasi sebagai upaya mencegah paham radikalisme memang cita-cita dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Pada Maret 2017 lalu, seratusan anak muda di Banda Aceh yang berasal dari kalangan pegiat pers mahasiswa, komunitas, bloger, penulis, dan unsur pemuda mengikuti kegiatan “Literasi Digital Sebagai Upaya Mencegah Paham Radikal di Masyarakat” yang dibuat oleh Forum Koordinasi dan Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh dan BNPT.

Salah satu pemateri yang dihadirkan, yaitu anggota Dewan Pers Anthonius Jimmy Silalahi. Jimmy, yang sehari sebelumnya juga memberikan ceramah yang sama di Forum Aceh Menulis menjabarkan pentingnya bagi masyarakat untuk memahami kode etik jurnalistik. Dengan begitu masyarakat bisa memilih dan memilah, media mana yang cocok untuk dikonsumsi. Bisa membedakan media beneran dengan yang gadungan.

“Yaitu dengan menilai, apakah media tersebut sudah menjalankan kode etik jurnalistik atau tidak. Inilah yang namanya esensi dari kode etik tersebut,” kata Jimmy ketika itu.

Penting bagi masyarakat bisa memahami antara berita dengan informasi. Bila berita merupakan produk jurnalistik yang sudah terverifikasi dan disajikan melewati prosedur tertentu, berbeda dengan informasi yang bebas berseliweran di media sosial. Inilah yang menjadi lahan menjamurnya persebaran informasi hoax yang merusak pikiran masyarakat. Karena itu, dibutuhkan peran berbagai pihak untuk menangkalnya dengan cara menciptakan konten-konten kreatif dan positif untuk disebarkan di media sosial.

Sejalan dengan itu, lembaga yang mengurus pendidikan berbasis pesantren di Aceh, yaitu Dinas Pendidikan Dayah Provinsi Aceh juga menyadari pentingnya praktik literasi sebagai media menyampaikan pesan amar makruf nahi munkar dari kalangan pesantren dan santri. Inilah yang mendasari berkumpulnya lebih dari 20 santri dari berbagai pesantren di Aceh pada Maret 2018 lalu untuk mengikuti pelatihan menulis yang dibuat instansi itu di Banda Aceh.

Kepala Dinas Pendidikan Dayah Provinsi Aceh, Usamah El Madny, kepada aceHTrend pada Rabu, 5 September 2018 mengatakan, pelatihan itu selain untuk mendukung gerakan literasi nasional, juga sebagai wujud menjalankan perintah Alquran mengenai membaca dan menulis.

“Kemudian kita juga ingin menginspirasi bahwa dayah dan kalangan ulama adalah peradaban literasi, kalau melihat ulama dulu semua mereka punya karya. Terakhir menulis ini kan bisa menjadi sebagai media untuk menyampaikan pesan amar makruf nahi munkar. Paling kecil bagaimana para santri ini bisa menulis yang baik di media sosial,” kata Usamah.

Pangkal dari munculnya gerakan radikalisme dan terorisme kata Usamah merupakan kemiskinan. Karena itu negara harus hadir untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Memberi bekal pendidikan agama bagi anak sejak dini menurutnya merupakan nilai-nilai yang dianut masyarakat Aceh sejak dulu. Apalagi jauh sebelum pendidikan umum berkembang, pendidikan berbasis pesantren lah yang lebih dulu berkembang di Aceh. Para orang tua berkeyakinan dan mengharapkan agar anak-anaknya hidup dengan baik di dunia hingga akhirat. “Karena itu mengantarkan anak mengaji ke dayah menjadi semacam pendelegasian orang tua kepada teungku atau ustaz karena mereka tidak mampu mendidik sendiri,” ujarnya.

Sebagai kompensasi, para orang tua biasanya membawakan minyak tanah, beras, atau membayarkan zakat fitrahnya kepada teungku. Seiring dengan berkembanganya zaman, kompensasi yang seperti itu biasanya sudah dikonversikan dalam bentuk uang iuran santri.

Tokoh pers Aceh, Yarmen Dinamika, mengatakan untuk mendeteksi bibit-bibit radikalisme yang mungkin tumbuh di lingkungan santri bisa dideteksi dengan mudah. Setelah mondok dalam rentang waktu tertentu, para santri biasanya akan dikirimkan ke masyarakat untuk memberikan ceramah-ceramah agama di bulan Ramadan.

“Di sinilah, bila ada yang melenceng dari apa yang disampaikannya masyarakat bisa langsung mengetahuinya. Sehingga dengan sendirinya benih-benih radikalisme itu bisa diantisipasi.”

Senada dengan Yarmen diungkapkan pula oleh Akbar, masyarakat cenderung menyukai ceramah-ceramah agama yang berdimensi ukhrawi. “Bila sudah berbau-bau politik apalagi yang mengadu domba masyarakat sudah tak mau mendengar lagi. Mereka akan bereaksi,” kata Akbar.

***

@Ihan Nurdin/aceHTrend

Akbar kembali menyeruput tegukan terakhir sanger-nya. Tanpa terasa kami sudah mengobrol lebih dari dua jam. Ditemani silir angin dari areal persawahan di belakang kafe, waktu selama itu jadi tak terasa. Penampilan Akbar yang secara kasat mata tampak kasual dengan balutan celana jeans dan kaus, menambah kesan santai dan nyaman saat mengobrol. Dia memang tak ingin terlalu terikat pada simbol. Penampilan seperti itu justru memudahkannya berbaur dengan lintas kalangan.

“Tetapi saya tetap pede mengatakan kalau basic saya pesantren. Saya tak pernah membatasi pergaulan, saya berusaha mencari persamaan dari perbedaan yang saya temui. Prinsip saya, apa yang bisa diambil manfaatnya itu yang saya ambil, kalau berbeda pendapat lebih baik menghindari perdebatan,” ujarnya.

Hari itu, kami pun mengakhiri pertemuan sebelum matahari sempurna gelap.[]

KOMENTAR FACEBOOK