Yuk, Belajar Membaca Manuskrip dari Kolektor dan Peneliti di Pedir Museum

Kolektor dan peneliti manuskrip Pedir Museum Masykur Syafruddin. @Ihan Nurdin/aceHTrend

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Kolektor dan peneliti manuskrip Pedir Museum, Masykur Syafruddin, memberi kesempatan kepada masyarakat khususnya generasi muda yang ingin belajar membaca teks naskah kuno atau manuskrip, yang lazimnya ditulis dalam bahasa Aceh jawi maupun Arab. Sejak dua minggu lalu pemuda berusia 21 tahun itu membuka les gratis membaca teks manuskrip.

“Pesertanya baru tiga orang. Mereka kawan-kawan saya di kampus jadi belajarnya tidak di sini tetapi di kampus, saya bawa manuskripnya ke kampus,” kata Masykur kepada aceHTrend saat berbincang di Sekretariat Pedir Museum di Banda Aceh malam tadi, Rabu (19/09/2018).

Inisiatif ini muncul karena kegalauan hatinya yang melihat fenomena sedikitnya orang yang bisa membaca teks-teks naskah kuno tersebut. Padahal, kata mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN Ar-Raniry ini naskah-naskah lama atau manuskrip tersebut memiliki banyak informasi yang bisa digali sebagai sumber ilmu pengetahuan di berbagai bidang.

“Saya merasa ini sebagai tanggung jawab ilmu pengetahuan. Jadi ke depan apa yang saya pelajari ini tidak hanya berhenti pada saya saja. Saya ingin apa yang saya kumpulkan saat ini kelak bisa menjadi warisan bagi generasi Aceh,” kata pemuda yang mulai mengoleksi manuskrip sejak 2014 itu.

Aceh kata dia, merupakan gudang manuskrip. Namun sayang kajian-kajian tentang hal itu masih kurang dilakukan. Banyak manuskrip-manuskrip Aceh saat ini berada di luar seperti Singapura dan Belanda, tetapi ketika ada orang Aceh yang ingin mempelajari manuskrip tersebut harus membayar agar bisa melihatnya.

Masykur menunjukkan beberapa koleksi naskahnya yang sudah di-digitalisasi dan dicetak di spanduk untuk dipamerkan di PKA VII. @Ihan Nurdin/aceHTrend

Masykur mulai mengoleksi manuskrip dan benda-benda budaya lainnya sejak 2014, saat ia masih duduk di bangku kelas dua MAN. Saat ini, setidaknya ia telah memiliki 2.703 jenis koleksi yang terdiri atas koleksi filologi/manuskrip,numismatik atau mata uang kuno, keramik, koleksi senjata, tekstil, etnografi, kayu ukir, hingga perhiasan. Barang-barang itu sebagian besar ia peroleh dari penelusurannya di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Masykur tak hanya menyasar dua wilayah itu saja. Di mana pun ia mendengar ada naskah atau benda-benda sejarah yang berkaitan dengan Aceh akan diburunya. Puluhan juta uang pribadinya telah dihabiskan untuk membeli koleksi tersebut, baik dari masyarakat maupun dari para kolektor naskah atau barang antik.

Sekitar 30 persen dari koleksi tersebut ia bawa ke Banda Aceh, dipamerkan di sekretariat bersama dengan Museum Mapesa Aceh di Gampong Punge Blangcut Banda Aceh. Tujuannya untuk mempermudah masyarakat yang ingin melihat koleksinya. Sisanya ia simpan di Pedir Museum yang ada di Luengputu, Pidie Jaya.

“Kalau ke Luengputu di kampung saya terlalu jauh aksesnya dari sini, kadang ada orang yang ingin melihat langsung. Apalagi saya sekarang tinggal di Banda Aceh karena sedang kuliah, ini hanya sekitar 30 persen saja,” ujarnya.

Masykur juga mempersilakan siapa saja yang ingin melihat koleksinya untuk datang langsung ke museum tersebut. Dengan senang hati ia akan menjelaskan, semakin banyak orang yang tertarik ingin mengetahuinya, semakin bagus. Salah satu usahanya memperkenalkan manuskrip kepada masyarakat ialah dengan membuka les gratis tersebut. Anda tertarik?[]

KOMENTAR FACEBOOK