ACT Aceh Kembangkan Wakaf Produktif di Aceh Jaya

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh, Husaini Ismail, didampingi Marketing Communication ACT Aceh, Rahmat Aulia, pagi tadi berkunjung ke kantor redaksi acehTrend di Gampong Tibang, Banda Aceh, Jumat (21/09/2018). Kedatangan mereka disambut CEO aceHTrend Ahmad Mirza Safwandi dan Pemimpin Redaksi Muhajir Juli.

Kunjungan silaturahmi ini berlangsung santai dan hangat. Husaini Ismail dalam kesempatan itu menyampaikan harapannya agar media lebih berperan aktif dalam mencerdaskan dan menyebarkan semangat positif bagi masyarakat. Ia juga menyarankan agar media, khususnya aceHTrend bisa memberikan penghargaan kepada sosok-sosok tertentu yang dinilai telah berkontribusi banyak untuk Aceh.

Ia juga memaparkan, sebagai sebuah lembaga kemanusiaan ACT tidak hanya bergerak dan melakukan kerja-kerja yang berkaitan dengan kebencanaan saja. “Kalau tidak ada bencana kita mau ngapain?” ujarnya dengan nada bertanya.

Selama ini kata dia, fokus kerja ACT meliputi tiga hal, yaitu emergency, recovery, dan community development. Nah, di bidang community development inilah mereka memfokuskan program-program di luar kebencanaan seperti membuat konsep untuk mengatasi bencana sosial.

“Kemiskinan itu bencana sosial,” ujarnya.

Salah satu terobosan yang ACT lakukan yaitu dengan mengoptimalkan pengelolaan wakaf yang bisa menopang perekonomian umat. “Kami mencoba membangun potensi wakaf untuk program community development ini, contoh keberhasilannya sudah banyak. Di Aceh saja kita bisa mengambil contoh dari kisah Habib Bugak yang 15 persen dari insentif wakafnya bisa dinikmati orang Aceh hingga saat ini.”

Sebagai pilot project pihaknya saat ini sedang mengembangkan di Aceh Jaya, tepatnya di Desa Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti. Ada seorang warga yang mewakafkan tanahnya seluas 110 hektare untuk Lembaga Global Wakaf ACT. 10 Hektare di antaranya dikelola ACT dengan menanam serai wangi dan peternakan untuk program integrated farming. Hasil pengelolaan wakaf produktif ini disalurkan ke Dayah Al Anshar di desa setempat.

Konsep ini kata dia telah dikembangkan di beberapa daerah di provinsi lain seperti di Blora, Jawa Timur dan Tasikmalaya, Jawa Barat, serta di Papua.

“Bila pola seperti ini berhasil dikembangkan, lahan-lahan tidur di Aceh bisa dioptimalkan. Jangka panjangnya kita bisa menekan harga daging yang sangat mahal di Aceh.”

Tak hanya wakaf tanah, di Cot Girek, Aceh Utara pihaknya memberikan wakaf sumur untuk masyarakat di sana yang kesulitan air bersih.[]

KOMENTAR FACEBOOK