Kepala Humas Banda Aceh, Lelaki Senja Berjiwa Muda

Taufik Alamsyah, dua dari kiri, Kepala Humas Kota Banda Aceh. (Ist)

Jenggotnya memutih, gurat wajahnya mewartakan tentang raga yang telah kenyang makan asam garam kehidupan. Tapi begitu dia bercerita, ia pun seakan-akan telah lahir kembali sebagai anak muda, penuh semangat dan ceria.

“Jangan pulang dulu, sebentar lagi Kepala Humas Pemko Banda Aceh akan datang ke sini untuk bersilaturahmi,” kata Ketua Aliansia Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh, Misdarul Ihsan, Kamis (20/9/2018. Saya yang hendak bergegas sesuai diskusi singkat dengan Wakil Ketua PPATK Dr. Dian Edana Rae, segera mesimpul tali sepatu.

Lima menit berselang, seorang lelaki bertubuh berisi, berpeci hitam, dengan kombinasi baju batik berlengan pendek, tiba dengan wajah sumringah. Ia menguluk salam kepada beberapa wartawan yang sedang berada di kantor AJI Banda Aceh.

“Saya Taufik Alamsyah, Kepala Humas Pemko Banda Aceh yang baru,” katanya sembari meminta nomor telepon sejumlah wartawan, itu dilakukan sambilan berbincang-bincang dengan Misadrul Ihsan yang menjadi tuan rumah pertemuan informal itu.

“Saya orang baru di jajaran kehumasan, sebelumnya saya sangat lama di Dinas PU dan ULP, saya suka jurnalistik tapi tidak bisa menulis. Tapi saya menggemari photography,” ujarnya sembari meminta nomor telepon saya.

“Bapak simpan nama Muhajir Juli, karena banyak Muhajir di Aceh yang berprofesi sebagai jurnalis,” kata saya berseloroh. ia tertawa sembari mencatat, entah nama apa yang ia catat, hingga ia berujar “Muhajir AJI,” katanya sembari mengetik.

“Bukan, saya anggota PWI, saya Pemimpin Redaksi aceHTrend,” kata saya mengklarifikasi. Misdarul Ihsan tertawa sembari mengatakan AJI dan PWI serta IJTI merupakan organisasi profesi wartawan yang diakui oleh Dewan Pers.

Ada sekitar 10 menit berbincang-bincang di kantor AJI Banda Aceh, Taufik–saya memanggilnya Pak Taufik– mengajak kami makan siang di salah satu rumah makan di kawasan Lambaro, Aceh Besar. “Naik ke mobil saya saja semuanya, nanti kami antar kembali ke sini,” katanya, yang kami ikuti saja, karena cuaca memang sangat panas. Matahari garang memanggang bumi.

***
Di salah satu warung makan siang, di kawasan Lambaro, Aceh Besar, yang dibangun sederhana, ala warung kampung, kami berlima menghadap meja makan. Lauk pauk ala Aceh terhidang di meja. Mata saya melirik berbagai gulai yang disajikan dalam piring, dengan penyajian yang sangat sederhana.

“Saya pesan kelapa muda satu,” katanya, sembari mengambil tempat duduk di seberang meja, berhadap-hadapan dengan Irman, wartawan ANTARA Aceh.

Kami yang “lupa adat ketimuran” karena didera lapar, telah terlebih dahulu “take off” meninggalkan Taufik yang “delay” di halaman warung karena bertemu secara tidak sengaja dengan karibnya masa SMP.

Sembari makan siang, kami berdiskusi ringan, khususnya tentang kehumasan yang menjadi suatu hal baru bagi lelaki berusia 50 tahun itu. Ia mengatakan harus membangun komunikasi dengan banyak pihak, agar para jurnalis bisa membantu mempublikasikan capaian-capaian Pemerintah Kota Banda Aceh dalam membangun daerah.

Tidak berlama-lama dalam topik tersebut, Taufik pun kemudian bercerita tentang kegemarannya melakukan touring adventure dengan kelompok pecinta trail di Aceh. Bahkan ia mengaku sudah menjajal perbukitan di Bireuen serta lebatnya rimba Pidie.

“Di Bireuen itu gajah sangat banyak. Saya sering berpapasan dengan po meurah ketika melakukan adventure dengan trail,” katanya penuh semangat.

Pernah suatu ketika, kata Taufik, Kapolres Pidie kala itu Ali Khadafi harus kembali naik ke gunung, karena ketika turun gunung dengan trail, dia dan rombongan dihadang oleh sejumlah gajah liar. Rombongan baru bisa turun ke perkampungan, selanjutnya kembali ke rumah masing-masing, setelah pawang gajah turun tangan.

***
Di sesi akhir bincang-bincang ringan, di bawah naungan atap warung makan, yang di atasnya cahaya matahari 38 derajat celcius membakar dengan garangnya, Taufik berujar, dirinya punya mimpi untuk menjadikan Humas Pemko Banda Aceh yang ramah dengan siapapun.

Khusus dengan para jurnalis, ia berjanji akan bekerja keras untuk berkomunikasi secara intens dan terbuka. Citra Pemerintah Banda Aceh sangat tergantung dari kemampuan humas berkomunikasi dengan berbagai pihak, khususnya dengan jurnalis.

Tentang dirinya, ia mengatakan hanya ingin mengabdi untuk Banda Aceh. Usianya yang telah senja, tanpa dikarunia anak oleh Yang Maha Pencipta, serta hanya memiliki satu orang istri, dia merasa apa yang sudah dianugerahkan oleh Allah, semuanya telah cukup.

“Saya tidak mengejar jabatan, bagi saya pekerjaan yang dimanahkan oleh negara, merupakan tanggung jawab yang harus saya emban dengan penuh dedikasi,” katanya.

Sebagai amanah, jabatan bisa dicopot kapan saja, untuk itu, Taufik berkomitmen akan menjalankan semua tanggung jawab itu sesuai dengan apa yang telah dimanahkan. Seorang humas, harus care dengan semua orang, karena ia adalah pintu gerbang antara rakyat dan pemerintah.

Setelah merasa cukup, kami pun bergegas kembali ke kantor AJI Banda Aceh. Ia sempat bercanda sebelum kami berpisah.

Lelaki itu memang telah berusia senja, gurat wajah, uban serta suara, tidak bisa ditutupi. Tapi sirat matanya memiliki cahaya berpijar. Semangatnya untuk mencitrakan Pemko Banda Aceh yang humble begitu kentara.

“Doakan semoga saya mampu menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya,” imbuh Taufik. []

KOMENTAR FACEBOOK