[CERPEN]: Syahdan, Pejuang Kebenaran

Oleh Alfi Syahril

Inilah negeri “Negeri Para Bedebah” dipenuhi oleh manusia-manuasia yang serakah. Perjuangkan kebenaran, perjuangkan keadilan. Kezaliman perlu dilawan. Penindasan perlu dihancurkan. Allahu Akbar. Allahu Akbar.

Begitulah Mukidi menutup orasinya di depan jutaan demonstran yang ikut dalam aksi menolak beberapa kebijakan pemerintah. Kebijakan yang dinilai tidak pro rakyat meski diucapkan berkali-kali untuk rakyat.

Mukidi hanyalah satu dari sekian banyak rakyat yang merasa tertipu. Tertipu dengan harapan dan janji-janji yang begitu mudahnya diingkari.

Pernah di suatu ketika. Ketika hampir semua wartawan bungkam tidak berani mengkritisi apa lagi bertanya dengan pertanyaan yang menyudutkan pemerintah, hadirlah Mukidi tanpa peduli sama sekali dengan beraninya bertanya “Apakah memang visi dan misi dulu itu hanya untuk dipresentasikan dengan poin-poin yang kelihatannya merakyat namun pada implementasinya membuat melarat rakyat?”

Maka, semenjak itu, resmilah Mukidi menjadi sosok yang diperbincangkan di berbagai macam media. Perbincangan itu tidak hanya terkait pertanyaan kritis Mukidi. Namun, jauh dari itu banyak orang merisaukan masa depan Mukidi. Jangan-jangan besok lusa ia akan dimasukkan ke dalam penjara atau malah hilang begitu saja. Tidak heran di saat itu hal seperti itu sering terjadi di setiap sudut kota.

Mau meminta perlindungan kepada siapa? Pemerintah? Malah, jangan-jangan memang mereka pelakunya. Meski tidak ada yang berani untuk mengatakan dengan terang-terangan bahwa mereka menjadi pelaku. Namun, kasus itu sudah sangat terang benderang dengan mudah bisa disimpulkan siapa di balik penculikan yang terjadi.

Dugaan serta kecurigaan yang ramai diperbincangkan di tengah masyarakat bukan tanpa alasan. Lihat saja, setiap orang yang berani mengkritisi pemerintah, hanya soal waktu akan terjerak kasus hukum. Alasannya bermacam-macam. Seperti sudah dirancang begitu matang.

Seperti Syahdan yang hilang di suatu malam. Sampai hari ini pun tidak ditemukan. Banyak orang mengaitkan peristiwa tersebut sebagai akibat dari kritik Syahdan ketika rombongan pemerintah berkunjung ke daerah yang akan dijadikan tempat tambang. Di hari di mana rombongan tersebut melewati di jalan perkampungan Syahdan, pohon kelapa sudah ditelentangkan di atas badan jalan. Menghalangi rombongan pemerintah untuk melewati dan menuju ke dareah perencanaan pertambangan terpampang jelas sebuah spanduk dengan tulisan “Untuk apa negeri kaya, jika anak negeri menderita. Untuk apa negeri kaya, jika dinikmati oleh segelintir penguasa saja. Penguasa mempunyai mata namun buta. Penguasa memiliki hati namun mati”.

Tak lama kemudian, seluruh masyarakat di desa tersebut dikumpulkan dan diinterogasi satu persatu. Namun, prinsip Syahdan yang pantang mundur membela kebenaran. Berdiri untuk kebenaran meski itu berarti berdiri sendiri. Sebelum interogasi dilakukan Syahdan telah terlebih dahulu mengakui bahwa dia lah yang melakukan tersebut.

Segera saja, tonjokan dan tendangan datang bertubi di tubuh Syahdan dari aparat keamanan. Ingin rasanya masyarakat lain untuk membela Syahdan. Namun, apa hendak dikata mereka tak ada kuasa untuk mencengahnya. Inilah konsekuensinya bila berani menantang pemerintah, Syahdan paham betul atas akibat dari kritikannya. Namun, dia tak pernah gentar meneriakkan kebenaran, melawan kezaliman.

Ketika tubuhnya ambruk dan dihujani oleh tendangan demi tendangan apakah Syahdan menyerah dan meminta maaf? Atau Syahdan malah merengek agar ia tak lagi dipukuli? Tentu, bukan Syahdan namanya jika mundur dari membela kebenaran. Lihatlah, ia bahkan tersenyum menerima pukulan dan tendangan dari mereka. Meski mulutnya baru mengelurkan darah, membuat baju yang dikenakannya berlumuran darah.

“Aku lebih rela mati demi memperjuangkan kebenaran dari pada harus terhina membiarkan kezaliman,” begitulah maksud dari senyumannya.

Setelah mereka buas dan puas menghajar Syahdan. Mereka pun meninggalkannya dan bersegera pergi begitu saja. Dengan perginya mereka, masyarakat beranggapan bahwa berakhir pula derita Syahdan. Ehhh ternyata. Tidak lama setelah kejadian tersebut. Syahdanpun tak pernah terlihat lagi keberadaan. Ke mana Syahdan? Tak satu pun yang mengetahuinya.

Atau seperti Mustafa. Beberapa pekan yang lalu terjebak kasus narkoba. Pengadilan memutuskan ia sebagai pengguna sekaligus pengedar narkoba. Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja di dalam mobilnya terdapat satu tas berisi penuh dengan barang haram tersebut.

Tidak lama kemudian Mustafa pun dihukum Mati sebagaimana peraturan yang berlaku di negara tersebut.

Sampai hari ini pun, orang-orang masih meragukan bahwa Mustafa adalah penguna sekaligus pengedar narkoba. Bagaimana mungkin seseorang yang hari-harinya sibuk mengajar mengaji serta mengisi tausiah di sana-sini malah sempat mengedar narkoba. Jadwalnya begitu padat. Bahkan untuk beristirahat pun harus disempat-sempatkan. Sungguh tidak masuk akal.

Apakah kehidupan Mukidi akan berakhir seperti Syahdan atau Mustafa? Mukidi terus menjalani kehidupan seperti biasanya. Ia tak peduli sama sekali akan seperti apa kehidupannya. Bahkan, ia tak sedikit pun merasa cemas dan khawatir akan kehidupannya ke depan. Baginya, hidup dan mati itu sudah Allah Swt atur jauh hari sebelum kita dilahirkan. Kematian akan datang pada saat yang telah ditentukan. Tidak akan lebih cepat atau tidak pun bisa diperlambat. Soal bagaimana kita akan mati. Itu hanyalah hukum sebab akibat. Ia tak merisaukannya sama sekali.

Sekarang meski dia tak lagi seorang wartawan karena diberhentikan setelah kritikannya tersebut. Sebenarnya pihak media perusahaan tempat ia bekerja tak menginginkan kehilangan wartawannya yang cerdas dan berani seperti ia. Akan tetapi karena rasa takut dan khawatir atas dampak dari kritikan Mukidi membuat perusahaan mereka akan dicabut surat izinnya dengan dalih yang dibuat-buat nantinya. Maka, semenjak hari itu, Mukidi diberhentikan. Namun, ia menjadi figur berani dan bahkan banyak pemuda menjadikannya sebagai sosok inspiratif.

Hal itu terbukti akhir-akhir ini, hampir setiap pojok ketika orang berkumpul acap kali membicarakan tentangnya. Tentang keberaniannya dalam mengkritisi ketika banyak orang malah memilih diam meski mereka sangat benci dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah.

Semakin hari semakin banyak percakapan tentangnya. Tentang keberanian Mukidi dalam mengkritisi. Namun tanpa disadari, benih-benih keberanian tumbuh perlahan di dalam tubuh mereka. Dulunya kritikan terhadap pemeritah hanyalah sebatas pembicaraan di dalam perkumpulan-perkumpulan misal di warung kopi, itupun mereka hati-hati betul agar pembicaraan mereka tidak sampai didengar oleh pihak pemerintah agar terhindar dari malapetaka terhadap kritikan tersebut.

Akhirnya, sekarang ini mulai berani membuka suara dan mengutarakan kritikannya secara terbuka apalagi setelah mereka menghadiri sebuah diskusi publik yang membicarakan nasib negeri dan kebetulan Mukidi adalah salah satu narasumber dalam diskusi tersebut. Hal itu tidak terlepas karena memang Mukidi sekarang sudah menjadi sosok yang dikagumi dan menginspirasi.

Dalam kesempatan itu Mukidi lagi-lagi menyalakan semangat memperjuangkan kebenaran. Perhatikanlah kalimat demi kalimat yang disampaikannya membuat peserta semakin menggila ingin bersegera mengakhiri kezaliman yang terjadi selama ini.

“Ada satu hal yang tak boleh kamu memilih diam ketika dia datang. Jangan pernah diam untuk menyuarakan kebenaran. Karena kebenaran harus diperjuangkan. Meski engkau hanya satu-satunya yang berjuang kawan.”

“Kau tahu, bahwa semakin hari. Kehidupan ini semakin menjadi-jadi. Kebenaran dibungkam sedang kezaliman dipertontonkan. Saya khawatir suatu hari nanti barangkali generasi kita akan akan lebih suka menzalimi dan membanggakan kezalimannya. Namun, pejuang-pejuang kebenaran terus dibungkam sehingga mereka tak lagi mampu bersuara meneriakkan kebenaran.”

“Jangan biarkan itu semua terjadi. Ini demi negeri kita, demi tanah air demi generasi yang akan mewarisi negeri ini.” Pungkas Mukidi.

Maka, sejak hari itu keberanian mereka sudah bulat dan tekad tak lagi bisa diganggu gugat. Mereka sudah mantap memperjuangkan kebenaran dan melawan kezaliman. Karena memperjuangkan kebenaran adalah sebuah keharusan. Hingga hari ini, semua mereka turun ke jalan melakukan aksi. Mukidi menjadi salah satu orator sejati. Pejuang kebenaran di “Negeri Para Bedebah” ini.

***
Begitu aksi selesai dan para demonstran bubar. Tak jauh dari lokasi aksi tersebut. Terdengar suara ledakan. Bummmm. Apa yang terjadi? Begitulah maksud dari tatapan para demonstran. Mereka kebingungan dan penasaran tentang suara yang mereka dengar barusan.

Itulah suara ledakan mobil yang ditumpangi Mukidi. Mobilnya terjungkir balik, sedang nyala api memenuhi seluruh badan mobil. Jika saja kita bisa melihat ke dalam mobil yang sedang terbakar tersebut. Kita akan melihat Mukidi di dalamnya. Mukidi sedang tersenyum. Senyuman yang akan membuat tangis siapa saja yang melihatnya. Lihatlah, pejuang kebenaran telah dimusnahkan. Lihatlah, ketika kebanyakan orang malah bungkam ia hadir untuk mengalahkan kezaliman.

Apakah ia menyesal? Tidak, sama sekali tidak pernah ada rasa penyesalan baginya. Justru ia akan menyesal jika terus bungkam. Di sisa napas-napas terakhir ketika ajalnya sudah begitu dekat. Pelan dan lancar Mukidi mengucapkan satu kalimat yang dengan kalimat itu kemuliaan akan menjadi miliknya ‘Asyhadu an laa ilaaha illallāh wa asyhadu anna Muhammad Rasuulullāh.’
Selamat jalan pejuang kebenaran. Perjuanganmu tidak akan pernah bisa dibungkam akan terus diperjuangkan hingga kebenaran akan menang dan kezaliman akan dihancurkan.[]

*Mantan Direktur Eksekutif LAPMI (Lembaga Pers Mahasiswa Islam) Cabang Aceh Besar, Penggagas FAM (Forum Aktif Menulis) Cabang Banda Aceh. Email : alfi5y2hril@gmail.com.

KOMENTAR FACEBOOK