Masykur, Anak Muda yang Mencintai ‘Pekerjaan’ Orang Tua

Kolektor dan peneliti manuskrip Pedir Museum Masykur Syafruddin. @Ihan Nurdin/aceHTrend

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Masih muda, tapi sudah melakukan ‘pekerjaan’ orang tua. Itulah Masykur Syafruddin. Pemuda berusia 21 tahun asal Gampong Blang Glong, Luengputu, Pidie Jaya. Pekerjaan yang dimaksud Masykur ialah sebagai kolektor dan peneliti manuskrip yang umumnya memang diminati para orang tua.

Saat ini, ada 2.703 jenis naskah dan benda-benda budaya yang dikoleksinya. Sebanyak 462 di antaranya merupakan naskah-naskah kuno yang umumnya ia peroleh dari hasil berburu di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Sisanya ada 70 lembar arsip berupa surat-surat sultan, ulee balang, dan surat peninggalan Belanda. Salah satunya surat Sultan Muhammad Daudsyah kepada ulee balang yang berisikan ajakan berperang melawan Belanda.

Koleksi lainnya berupa mata uang kuno atau numismatik, kayu ukir, etnografi, perhiasan seperti anting, kancing baju, dan cincin. Ia juga mengoleksi tekstil/kriya seperti sutra Aceh yang ditenun dari benang emas, keramik dari China, hingga senjata tradisional seperti rencong, pedang, dan keris.

Agar koleksinya juga bisa dinikmati masyarakat dan menjadi bahan kajian dan penelitian, pada 2015 lalu Masykur mendirikan Pedir Museum yang berlokasi di Blang Glong, Luengputu, Pidie Jaya. Pedir Museum juga memiliki sekretariat di Banda Aceh, yaitu di Museum Mapesa Aceh di Gampong Punge Blang Cut.

“Januari 2015 koleksi naskah saya cuma 315 naskah, sekarang sudah 462 naskah,” katanya kepada aceHTrend pada Rabu malam (19/09/2018).

Naskah-naskah itu tak hanya tentang tauhid dan fikih saja, tetapi juga meliputi naskah-naskah mengenai ilmu perbintangan, pertanian, obat-obatan, hingga sains. “Bahkan ada satu naskah yang terdiri atas beberapa teks, misalnya dalam naskah itu ada tentang fikihnya, ada juga tentang perang. Umumnya berbahasa Arab, Melayu, Aceh, dan ada juga yang berbahasa Turki.”

Naskah-naskah itu juga diperoleh Masykur dengan cara berbeda. Ada yang dibeli dari kolektor. Ada juga yang dibeli langsung dari masyarakat dengan cara bergerilya. Harganya pun bervariasi, ada yang berkisar ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Yang paling mahal ialah naskah Siratal Mustakim, kitab fikih karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry.

“Kitab itu saya beli lima juta lebih,” ujar mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Ar-Raniry itu.

Sementara koleksi naskah tertua yaitu kitab yang dikarang ulama Mesir pada 1063H/1652 M yang ditulis ulang seratus tahun kemudian oleh ulama Aceh, yaitu Jamaluddin Al Asyi. Kitab ini ditemukan di Keumala, Pidie.

Banyak pengalaman menarik dialami Masykur selama menjalani aktivitas sebagai kolektor dan peneliti manuskrip. Misalnya, ia sering menemukan naskah-naskah yang berada di tempat tidak layak seperti kandang ayam atau kolong rumah. Membuat naskah tersebut berlumur kotoran ayam. Kadang ia tidak dipercayai oleh masyarakat karena mereka pernah ditipu oleh para kolektor nakal sebelumnya. Namun karena niatnya untuk menyelamatkan naskah-naskah itu sangat tinggi, Masykur tak pernah patah semangat.

Pelan-pelan ia melakukan pendekatan dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Meyakinkan mereka bahwa naskah-naskah yang ia kumpulkan akan dirawat dengan baik, tidak akan diperjualbelikan kepada orang lain.

“Untuk itu saya membuat surat pernyataan tertulis supaya masyarakat yakin kalau mereka tidak salah memberikan naskahnya kepada saya,” katanya.[]

KOMENTAR FACEBOOK