Mulya, Resign Kerja di Aceh Demi Jadi Relawan Gempa Lombok

Relawan MRI Aceh Mulya @Ihan Nurdin/aceHTrend

ACEHTREND.COM, Mataram – Ketika banyak orang memilih ‘kenyamanan’ dengan bekerja tetap, Ns (Nurse) Mulya malah melepaskan pekerjaan sebagai tenaga administrasi yang sudah setahun dilakoninya di Stikes Harapan Bangsa Banda Aceh, untuk menjadi relawan gempa di Nusa Tenggara Barat.

Mulya, bersama empat rekan lainnya yang tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) dikirim oleh lembaga kemanusia Aksi Cepat Tanggap Cabang Aceh ke NTB pada 20 Agustus 2018, dua hari menjelang Iduladha 1440 Hijriah pada 22 Agustus 2018 lalu.

Hana makmeugang kamoe,” ujar Mulya santai sambil mengemudikan mobil yang membawa rombongan jurnalis Aceh menuju Lombok Barat pada Selasa (25/09/2018).

Selama di NTB sejak Selasa-Jumat (25-28/09/2018), ACT Cabang Aceh mengajak Mulya sebagai pendamping untuk mengunjungi sejumlah lokasi dan posko di beberapa kabupaten terdampak gempa di Nusa Tenggara Barat.

Pemuda kelahiran tahun 1993 ini berasal dari Jangka, Bireuen. Sejak 2016 ia memutuskan bergabung dengan salah satu organisasi relawan terbesar di Indonesia, yaitu Masyarakat Relawan Indonesia.

Sebelum bertugas sebagai relawan di Lombok, Mulya pernah beberapa kali terlibat program kemanusiaan di beberapa tempat. Pada 2017, pernah bertugas di Pulau Seribu, Jakarta dan Pulau Banyak, Aceh Singkil untuk program layanan kesehatan Ekspedisi Nusantara Jaya dari Menko Kemaritiman.

“Kami bertugas di dua wilayah ini masing-masing sepuluh hari. Pernah juga bertugas di Aceh Tenggara saat banjir bandang pada Maret 2017 lalu,” ujar Mulya saat berbincang dengan aceHTrend di sela-sela kunjungan ke posko di Sembalun, Lombok Timur, Kamis (27/09/2018).

Dua tahun lalu ia juga terlibat sebagai relawan untuk korban bencana gempa di Pidie Jaya. Pengalaman-pengalaman sebelumnya membuat Mulya lebih terlatih lagi saat bertugas di Lombok. Baginya panggilan kemanusiaan harus diutamakan daripada kepentingan pribadi. Inilah yang membuatnya rela resign demi menjadi relawan ke Lombok.

“Kalau pekerjaan masih bisa dicari kapan pun kita mau, tetapi kalau kesempatan membantu orang seperti ini kan tidak bisa,” ujar Mulya.

Selama di Lombok, Mulya ditempatkan di Posko Kecamatan Bayan di Lombok Utara. Sejak awal, kelima relawan asal Aceh memang disebar di berbagai posko berbeda. Tiga di antaranya sudah kembali ke Aceh karena cuti mereka sudah habis. Saat ini tinggal Mulya dan Ilham relawan MRI asal Aceh yang masih di Lombok. Ilham ditempatkan di Posko Kayangan di Lombok Utara.

Mulya sama sekali tidak kesulitan untuk beradaptasi. Sebagai relawan, ia pun tak membatasi diri hanya melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan tugas-tugas sebagai relawan kesehatan saja. Di lapangan para relawan memang kerap dituntut melakukan banyak hal di luar tugas dan tanggung jawab mereka. Sejak awal ia sudah siap dengan segala konsekuensi tersebut.

“Hari ini misalnya, saya jadi driver,” katanya dua hari lalu, dalam perjalanan mengantar logistik ke Dusun Erat Mate, Kecamatan Gunung Sari di Lombok Barat.

Bagi pria berkulit sawo matang ini, menjadi relawan kemanusiaan memberikan kebahagiaan dan kepuasan yang hanya bisa dirasakan dengan hati.

“Ketika kita memberikan pelayanan ke masyarakat, apa saja yang kita berikan secara tepat sasaran memberikan kepuasan tersendiri,” ujar alumnus Stikes Harapan Bangsa Banda Aceh ini.

Sejak awal MRI membuka pendaftaran untuk diberangkatkan ke Lombok, Mulya langsung tertarik. Ia mendaftar sebagai relawan medis karena latar belakangnya sebagai seorang nurse atau perawat. Selain relawan medis, MRI juga membuka kesempatan untuk fotografer, supir, dan manajemen posko.

Di lapangan tak jarang ia menemukan hal-hal tak terduga, misalnya respons masyarakat Lombok yang tampak terkejut sekaligus terharu saat mengetahui ia berasal dari Aceh. Saat mereka mendengar Aceh, langsung terbayang bencana mahadahsyat gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam.

Anggota MRI Banda Aceh dan pengurus MRI Aceh itu pun memutuskan akan pulang ke Aceh bila tenaganya di sini sudah tidak diperlukan lagi.

“Rencana awal saya pulang November, tapi sepertinya tidak jadi, kemungkinan lebih. Kecuali ada sesuatu yang membuat saya harus mendadak pulang, baru saya pulang,” ujarnya.[]