Warga Sambut Gembira Pembangunan Sumur Wakaf di Sambik Jengkel Barat

Murniati duduk di depan family shelter yang sedang dibangun ACT di Dusun Jambik Jengkel Barat, Lombok Utara. @Ihan Nurdin/aceHTrend

ACEHTREND.COM, Mataram – Warga Dusun Sambik Jengkel Barat, Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara menyambut gembira pembangungan sumur wakaf yang dibuat Aksi Cepat Tanggap (ACT) di dusun mereka. Selama ini warga mengaku sangat kesulitan mendapatkan air bersih dan harus menempuh jarak yang sangat jauh.

Namun setelah gempa yang mengakibatkan rusaknya instalasi air di penampungan, membuat warga semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air sebagai sarana untuk memasak, mandi, dan mencuci. Hal ini membuat warga terpaksa membeli air yang harganya mencapai Rp200 ribu untuk 5-6 kubik air.

Untuk menadah air, warga dusun membangun penampungan seperti kolam yang dilapisi terpal di halaman rumah mereka. Air itulah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan MCK mereka sehari-hari.

Dengan kondisi seperti saat ini, di mana umumnya para warga belum bisa bekerja maksimal, harga tersebut dinilai sangat mahal. Wajar saja bila inisiatif sumur wakaf ini disambut gembira oleh warga, khususnya kalangan perempuan, salah satunya Murniati (45).

“Mudah-mudahan cepat keluar airnya, susah sekali kami di sini nggak ada sumur. Untuk mencuci dan memasak sangat kesulitan,” ujar janda lima anak itu kepada aceHTrend, Rabu (27/09/2018).

Sama seperti warga lainnya, Murniati juga turut membeli air bersih, tetapi dengan pekerjaannya sebagai pedagang lupis nominal itu dirasa sangat membebani. Namun tak ada pilihan lain karena air bersih merupakan kebutuhan utama yang tak bisa disubstitusi dengan yang lain.

“Sekarang sejak gempa berhenti dulu jualan lupisnya, tidak punya uang. Sedangkan kami tetap harus mendapatkan air,” ujarnya.

Murniati juga berharap warga mendapat bantuan modal usaha untuk melanjutkan hidup ke depan.

Nurhidayati bersama kedua anak perempuan dan cucunya duduk di balai/geregak di halaman rumah. @Ihan Nurdin/aceHTrend

Hal yang sama juga diakui Nurhidayati. Ia berharap sumur wakaf yang sedang diusahakan ACT di dusun mereka bisa segera berfungsi. Sebagai perempuan yang telah berusia lanjut, selama ini Nurhidayati hanya mengharapkan pasokan air bersih dari anaknya yang tinggal berdampingan dengan rumahnya. Fisiknya tak memungkinkan lagi untuk mengambil air yang jaraknya cukup jauh.

Nurhidayati juga menceritakan bila salah satu dari empat anak perempuannya, Nurhayati, turut menjadi korban saat gempa lalu. Nurhayati tertimpa runtuhan material rumah dan meninggalkan dua anak yang kini diasuh oleh Nurhidayati.

“Sekarang anak saya tinggal tiga, cucu dua sama saya sekarang,” ujar Nurhidayati dengan sendu.

Dengan segala tanggung jawabnya yang baru itu, Nurhidayati berharap setidaknya ia tak lagi disibukkan dengan memikirkan sulitnya mendapat air bersih.

Sementara itu, Marketing Communication ACT Aceh, Rahmat Aulia, mengatakan setelah dua hari berkeliling Lombok dan telah mengunjungi beberapa posko dan pemukiman warga, pihaknya semakin mendapat gambaran yang utuh mengenai dampak dari bencana gempa yang terjadi di Nusa Tenggara Barat. Hal ini membuat mereka semakin getol untuk menghimpun donasi dari masyarakat.

“ACT Aceh akan terus melakukan audiensi ke beberapa mitra baik dari instansi, organisasi, komunitas, dan lembaga lainnya untuk ikut sama-sama membantu Lombok. Saat ini kita terus menghimpun donasi untuk disalurkan ke Lombok yang memang masih sangat membutuhkan bantuan kita,” katanya.

Sebelumnya ACT Aceh juga pernah membuat konser amal yang mendatangkan penyanyi religi Opick untuk menggalang donasi dari masyarakat Aceh pada Agustus lalu.[]