Kreativitas Koruptor

Ilustrasi (Jawapos)

Insan-insan kreatif selalu hadir dengan segenap imajinasi dan inovasi yang tiada henti. Kreativitas itu terus bergerak menggelinding menyisir setiap ruang dan waktu. Sebagai hasil olah pikir manusia, terkadang kreativitas itu menggembirakan dan terkadang pula mengecewakan. Namun yang jelas, insan-insan kreatif akan terus menemani kehidupan anak manusia di muka bumi.

Kreativitas tidak hanya terbatas dalam dunia teknologi, tidak melulu tentang mesin atau perabot rumah tangga dan tidak pula melekat pada dunia usaha, dunia pendidikan atau dunia-dunia yang lain. Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya kecerdasan, kreativitas juga telah tumbuh dan mekar dalam aktivitas korupsi dengan lahirnya koruptor-koruptor kreatif.

Dalam menjalankan aksinya, koruptor memang dituntut untuk kreatif guna memperoleh kesuksesan. Seperti kita saksikan sendiri dari sejumlah koruptor yang tertangkap, hampir semuanya terlihat cerdas dengan tetap tersenyum manis tanpa beban. Senyum ini sendiri adalah sebuah kreativitas paling unik yang hanya mampu dilakukan oleh mereka ber-IQ tinggi. Untuk bisa tersenyum manis dengan kostum oranye tentunya dibutuhkan latihan bertahun-tahun.

Merujuk pada “tata cara mencuri,” yang terpenting bukan berapa banyak dia bisa mencuri, tapi seberapa ahli ia menyembunyikan hasil curiannya. Seperti diketahui, hampir semua orang “mampu” mencuri, tapi tidak semua orang sukses menyembunyikan hasil curiannya sehingga dengan mudah saja ia terciduk. Dalam kondisi inilah kreativitas memainkan perannya.

Baru-baru ini masyarakat Aceh dikejutkan dengan istilah “zakat fitrah” dan “satu ember” yang kononnya digunakan oleh terduga koruptor dana DOKA yang melibatkan Gubenur Aceh dan Bupati Bener Meriah. Menurut informasi yang dirilis beberapa media, “zakat fitrah” adalah kamuflase dari istilah fee, sedangkan “satu ember” dimaknai sebagai kode satu milyar.
Seperti diketahui penggunaan istilah, kode dan sandi dalam aktivitas korupsi bukanlah hal baru di Indonesia. Beberapa koruptor sebelumnya di Indonesia juga pernah melakukan hal serupa. Melalui kerja-kerja kreatif dan penggunaan “kode” ini aksi mereka pun dapat berjalan lancar dan sukses sehingga nyaris tak terlacak.

Saya melihat istilah-istilah itu sebagai bentuk kreativitas yang semestinya diapresiasi. Untuk dapat menggunakan istilah ini tentu tidak mudah dan butuh latihan. Agar istilah ini bisa dipahami oleh pihak terkait tentunya harus diawali dengan “kesepakatan istilah” sehingga tidak memunculkan “khilafiyah” di kemudian hari, misalnya satu cangkir untuk seratus juta, satu ember untuk satu milyar, satu sumur untuk satu triliyun dan seterusnya sampai satu laut untuk angka di atasnya. Jika istilah ini tidak disepakati terlebih dahulu, maka ruang khilafiyah akan terbuka lebar antara si pemberi dan si penerima. Dengan demikian patutlah ia disebut sebagai kreativitas karena telah melalui proses yang unik dan latihan yang intens.

Pada prinsipnya kita menghargai penggunaan berbagai kode dalam tindakan korupsi sebagai kreativitas. Yang membuat kita miris adalah ketika mereka “membajak” istilah-istilah “suci” semisal “zakat fitrah” atau yang serumpun dengannya. Sengaja atau pun tidak, “pembajakan” istilah ini terkesan “menodai” dan bahkan “merendahkan” sakralitas agama, terlebih lagi ia digunakan dalam transaksi “kejahatan.” Istilah “zakat fitrah” dan “korupsi” adalah dua hal yang kontradiktif dan tidak memiliki korelasi apa pun.

Namun demikian, kita berbaik sangka saja kepada mereka. Bisa jadi mereka memang ingin menunaikan zakat fitrah dan karena jumlahnya lumayan banyak mereka juga memerlukan ember sebagai wadah penampung. Atau mungkin ada upaya “fitrahisasi korupsi” agar ia terlihat syar’i. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu, sementara kita hanya mampu menebak.Salam kreatif! []