Meracik Menu Sehat untuk Korban Bencana dari Humanity Foodtruck

Humanity Food Truck di Pringgabaya Lombok Timur, NTB. @Ihan Nurdin/aceHTrend

FOODTRUCK yang terus menerus disebut-sebut Marketing Communication Aksi Cepat Tanggap Aceh, Rahmat Aulia, dalam perjalanan dari Sembalun menuju Pringgabaya di Lombok Timur berhasil membuat saya penasaran.

Saya tidak membayangkan bila foodtruck yang dimaksud ternyata sebuah kitchen set berstandar tinggi, yang didesain sedemikian rupa dalam seperangkat truk sepanjang 8 meter, lebar 2,5 meter, dan tingginya mencapai 2,7 meter.

“Kalau saya bilang sih ini mobile kitchen, bukan lagi foodtruck,” ujar Chef Jonny Kusuma, desainer food truck sekaligus chef yang menjadi relawan ACT selama di Lombok.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam dari Sembalun, rombongan jurnalis dari Aceh yang didampingi Markom ACT Aceh, Rahmat Aulia, tiba di Pringgabaya sekitar pukul 15.35 Wita, Kamis (28/09/2018).

Di sana telah menunggu beberapa relawan ACT. Namun yang paling menarik perhatian kami ialah keberadaan sebuah mobil yang parkir di kompleks Mapolsek Pringgabaya. Di mobil inilah hampir dua bulan lamanya sejak gempa Lombok, sejumlah relawan setiap harinya memasak hingga seribu porsi untuk dibagikan kepada masyarakat yang menjadi korban gempa.

Penasaran dengan interior dalamnya, saya segera naik dari pintu di sebelah kanan badan truk. Sebatas yang saya amati, di dalamnya terdapat satu set kompor lengkap dengan cooker hood atau alat penghisap asap dapur di bagian atasnya. Seperangkat wastafel untuk mencuci, dua kulkas untuk menyimpan stok bahan baku makanan yang cukup untuk tiga hari, penanak nasi, rak untuk menaruh rempah dan bahan dapur, hingga oven untuk memanggang. “Bahkan memanggang kambing guling pun bisa di sini,” ujar Chef Johny.

Chef Johny Kusuma sedang menyiapkan bahan di dapur @Ihan Nurdin/aceHTrend

Chef Johny Kusuma merupakan penanggung jawab utama dapur ini. Dibantu sembilan relawan lainnya, setiap hari selama dua bulan terakhir di Lombok ia memastikan distribusi seribu porsi nasi kepada masyarakat korban bencana.

“Sebelumnya kami sebulan di Lombok Utara, di Lombok Timur baru semingguan,” ujarnya.

Aksi Cepat Tanggap menamakan truk ini sebagai Humanity Food Truck. Sesuai namanya, kehadiran truk yang sudah dimodifikasi secara khusus ini digunakan untuk memberikan layanan makan gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.

Mengutip penjelasan di situs act.id, sasaran dari program Humanity Food Truck ini, yaitu para pekerja informal berpenghasilan rendah, masyarakat miskin, musafir, penunggu pasien rumah sakit, dan komunitas rawan pangan, termasuk masyarakat korban bencana seperti halnya yang sedang terjadi di Lombok, Nusak Tenggara Barat. Truk seharga Rp1,8 miliar ini dibawa khusus dari Jakarta ke NTB.

Debil, salah satu relawan sedang memasak sayur capcay. @Ihan Nurdin/aceHTrend

Sebulan sebelumnya truk ini berada di Lombok Utara, salah satu kabupaten yang mengalami dampak gempa paling parah. Chef Johny bersama timnya setiap hari memasak 220 kg beras dan mengolah hingga 145 kg ayam sebagai sumber protein hewani. Dalam setiap porsi nasi yang dibagikan ada sayur, ayam/daging, dan sosis/nuget.

“Semua standar gizinya terukur, kita pilih makanan yang berkualitas untuk disalurkan kepada masyarakat,” ujar Chef Johny.

Bahan bakunya dibeli di sekitar lokasi dengan tetap menyesuaikan bahan-bahan yang tersedia di pasar lokal. Ayam misalnya, dibeli dengan harga diskon khusus dari pedagang lokal yang disebut Chef Johny sebagai dermawan. Namanya Pak Dedi. Harga ayam per ekor yang biasanya mencapai Rp40-45 ribu, mereka dapatkan dengan harga Rp28 ribu.

Makanan yang telah dimasak siap di-packing. @Ihan Nurdin/aceHTrend

Untuk mendistribusikan makanan pihaknya berkoordinasi dengan warga setempat, karena merekalah yang lebih mengetahui peta wilayah dan siapa saja yang paling berhak mendapatkan paket nasi tersebut. Begitu juga dengan proses packing di lokasi, para relawan melibatkan warga untuk membungkus nasi dan lauk-pauk.

Chef Johny merupakan pengusaha restoran dan hotel asal Jakarta. Ia mengaku menyediakan waktu khusus sebagai bentuk ‘sedekah profesi’ kepada masyarakat korban bencana di Lombok. Sejak awal ia membantu lembaga Aksi Cepat Tanggap untuk mendesain food truck ini agar berfungsi sebagai dapur umum yang praktis dan bersih sehingga makanan yang dihasilkan tak hanya halal tetapi juga higienis. Sebelumnya ia juga mendesain dapur serupa milik Mabes Angkatan Udara. Konsep dan perangkat yang digunakan dalam food truck ini kata dia memiliki standar yang sama untuk dapur hotel bintang lima.

Saban harinya proses memasak mulai dilakukan sejak pukul sepuluh pagi. Setelah semuanya beres, barulah nasi dan lauk-pauk itu dimasukkan dalam wadah agar mudah dibagikan kepada masyarakat. Sore itu, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Lombok Tengah, saya melihat sejumlah warga dan para relawan saling bekerja sama, memasukkan makanan dari satu wadah ke wadah berikutnya.[]