Bang Leman dan Sepotong Kisah Komandan Ibrahim

Hujan sore baru saja berlalu ketika Komandan Ibrahim tiba di Tibang, Banda Aceh.

“Beliau ini, saudara Bunda,” kata Sulaiman Abda pemilik Rumoh Aceh.

Lelaki yang masih kekar itu sedikit mengangkat tatapannya. Pandangannya langsung bertemu dengan foto almarhumah Hausmini.

Tidak lama, mata ayah dua putri itu tampak berkaca-kaca. “Terlalu banyak kenangan, saya rindu beliau, ” kata Ibrahim, pelan dalam bahasa Aceh.

Bang Leman pun ikut dalam keharuan. Keduanya lama terdiam dengan kenangan masing-masing.

Dari ujung atap rumbia Rumoh Aceh terlihat butiran air jatuh, sisa dari hujan yang tadi jatuh lebat.

Komandan Ibrahim memilih menolak ketika diajak berkisah masa lalu. “Bek le neu cukeh, ka sep,” katanya.

Meski begitu, ketika larut dalam perbincangan ia tidak sadar bercerita kisah pengepungan basecamp yang membuat mereka kesusahan mendapat akses makanan.

Kejadian yang nyaris menjadi bencana di Glee Seulawah, Lhok Peuriya, Laweung itu teratasi berkat dukungan masyarakat.

“Nyo hana geubantu le awak gampong, ka habeh mate deuk kamo, ” kenang Komandan Ibrahim, Senin (24/9) sore lalu.

Lalu, rakyat menjadi fokus perbincangan. Ada gurangsang ketika Komandan Ibrahim menyebut kata rakyat, apalagi ketika ia mengingat kisah silam.

“Tib ta peugah soal rakyat, ilap beugeh teuh,” katanya penuh geram. Tapi, Komandan Ibrahim memilih untuk menghentikan gemuruh hatinya. “Bek le ta peugah, rame yang teupeh entreuk. ”

Lalu, Komandan Ibrahim memilih menyampaikan 6 syarat memimpin, yaitu niat yang iklas, rasa tanggung jawab, tahu strategi, kepentingan umum, amanah dan berwawasan luas.

“Antene u langet, bek lam bumo. Akhe but ka jak peusalah rakyat. Padahai cit salah yang duk karena hana meuphom strategi meu ato, ” jelasnya terkait berwawasan luas.

Komandan Ibrahim juga menyampaikan pandangan yang penting dalam membangun. Menurutnya, boleh saja kita membangun relasin dengan semua orang, asal jangan bermusuhan dengan kawan seperjuangan.

“Bek ngon musoh ta meurakan, ngon kawan habeh ta meupake, han keumah maju tanyo, uro nyo bit hek bak tapeuteupat geunareh loem, kon gareh beuh, geunareh, ” tegasnya.

Komandan Ibrahim menegaskan betapa hebatnya Aceh jika saja semua bersatu. Menurutnya hanya butuh empat syarat saja agar Aceh aman. Lalu, dalam bahasa Aceh ia menyebut empat syarat mewujudkan keamanan di Aceh, yaitu: ureueng gasin ta peukaya, ureueng susah ta peuseunang, ureueng hina ta peu meugah, ureueng bangai ta peucarong.

“Nyan tugah pemimpin sehingga Aceh cukop syarat untuk aman, ” sebutnya.

Ibrahim lalu mengajak pemimpin di seluruh Aceh untuk bersedia menumbuhkan kembali rasa percaya pada diri semua orang, di seluruh Aceh. “Ini syarat, jika tidak maka Aceh akan terus berada dalam masalah,” tegasnya.

Kepada Bang Leman sebagai Wakil Ketua DPRA, Komandan Ibrahim berdiskusi tentang keadaan Aceh, perjalanan Dana Otsus, dan kondisi Aceh jelang Pilpres dan Pileg 2019.

“Beu sehat, bang. Beu troeh kiban tujuan,” doa Komandan Ibrahim.