Catatan Iptek: Teknologi Aman Gempa

Masjid Al Amin di Dusun Sambik Jengkel Barat yang telah selesai dibangun. @Ihan Nurdin/aceHTrend

Oleh Ahmad Arif*)

​Gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin (13/8) telah merenggut 436 nyawa. Bencana ini kembali lagi mengingatkan tentang pentingnya bangunan tahan gempa. Bukan gempa yang mematikan, namun konstruksi bangunan yang rapuh menjadi penyebab jatuhnya korban.

​Dalam sejumlah gempa bumi beberapa tahun terakhir, kerusakan terutama terjadi pada bangunan tembok modern, baik rumah tinggal maupun bangunan publik. Data BNPB kerusakan akibat gempa kali ini mencapai 67.875 rumah, 606 sekolah, 3 rumah sakit, 10 puskesmas, 15 masjid, 50 mushola, 20 perkantoran, dan enam jembatan. Bahkan, bangunan Tempat Evakuasi Tsunami (TES) di Pemenang, Lombok Utara yang disiapkan sebagai tempat mengungsi saat gempa juga rusak.

​Laporan survei peneliti Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Mulyo Harris Pradono pada Minggu (5/8/2018) terhadap kerusakan Masjid Kerandangan di Lombok Barat menyebutkan, bangunan tembok ini mulai rusak saat intensitas gempa baru mencapai V MMI(Modified Mercalli Intensity).

Padahal, guncangan gempa saat itu menurut perhitungan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di atas skala VIII MMI. Lemahnya konstruksi Masjid Kerandangan ini, menurut Mulyo, disebabkan kuat tekan beton yang rendah (10,5 MPa) dan rasio tulangan yang kecil (0,013).

​Berada di zona pertemuan tiga lempeng besar dunia, hampir tak ada tempat yang aman dari gempa di negeri ini. Gempa juga menjadi pengalaman rutin nenek moyang kita. Pengalaman menghadapi gempa ini pula yang melahirkan teknologi arsitektur tradisional tahan gempa.

​Terbukti, rumah-rumah tradisional di Nusantara, seperti yang masih bisa ditemui di Nias, Aceh, Batak, Karo, Minang, Flores, hingga Sumba lebih bertahan dari berbagai kejadian gempa. Jika pun mengalami kerusakan atau bahkan sampai ambruk, dampak terhadap penghuninya tidak ada separah rumah bata.

​Fenomena serupa terjadi saat gempa Lombok. Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Irina Rafliana, Selasa (14/8/2018), dari surveiyang dilakukannya, rumah-rumah tradisional di Bayan yang berada tak jauh dari pusat gempa, kebanyakan masih baik kondisinya. Bahkan, Masjid Kuno Bayan Beleq dari kayu dan bambu yang berumur sekitar 300 tahun pun masih tegak berdiri.

Rumah-rumah tradisional Indonesia sekalipun bentuknya beragam, memiliki kesamaan pada penggunaan konstruksi kayu, dinding bambu atau papan, sambungan pasak atau teknik ikat, dan tiang ditumpukan di atas batu atau fondasi umpak. Dengan itu, gaya lateral gempa diserap fondasi rumah dengan sistem sendi dinamis.

​Daya tahan rumah tradisional di Sumatera dan daerah lain di Indonesia pada gempa, banyak dicatat di masa lalu. William Marsden (1783) menulis, ”Alasan kuat mengapa rumah-rumah memakai material kayu adalah karena seringnya terjadi gempa bumi di wilayah ini. Bangunan kayu di Sumatera tahan gempa, penduduk hanya sedikit merasakan bahaya.”​

Dalam bukunya Semasa Kecil di Kampung (1950), wartawan dan sejarawan Muhammad Radjab menggambarkan gempa yang dialaminya pada 28 Juni 1926. ”Rumah bata semuanya roboh oleh gempa. Beratus-ratus orang mati tertimbun,” tulisnya. Sementara Radjab yang berlindung di dalam surau selamat tanpa terluka. ”Untunglah surau kecil kami bukan dari batu.”

​Bangunan tembok sebenarnya bisa tahan gempa asal konstruksinya benar. Indonesia punya SNI Bangunan Gedung Tahan Gempa 2002 dan diperbarui pada 2012. Tahun 2006, Departemen Pekerjaan Umum menerbitkan buku Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan Gedung Tahan Gempa.

​Jika bangunan tradisional kayu mengikuti guncangan gempa, bangunan beton berprinsip melawan gaya gempa. Agar bertahan, rumah tembok perlu ”kekakuan” melebihi daya guncangan gempa serta penyaluran beban merata. Sambungan antara balok fondasi dan balok tiang harus benar. Batanya dijangkar dan diberi tulangan sehingga kalau diguncang gempa, bangunan bisa menanggung beban merata. Perlu tukang yang paham teknik sambungan dengan baik.

Sekalipun demikian, batu bata memang bukan material yang cocok bagi daerah rentan gempa karena lemah terhadap gaya lateral. Begitu rontok, hanya satu batu pun bisa mematikan. Dengan alasan itu, Jepang, misalnya, tak lagi memakai batu bata sebagai bahan utama bangunan. Jepang memilih kayu atau baja untuk konstruksi, papan atau komposit plastik dan karet untuk dindingnya, ataupun beton bertulang.

​Di Indonesia, sejak dipopulerkan kolonial Belanda, penggunaan batu bata sebagai bahan bangunan meluas sehingga upaya mengganti bahan bangunan lain tak mudah. Secara sosial budaya, rumah tembok juga jadi ukuran kesejahteraan.

Persoalan tren bangunan di Indonesia yang abai risiko gempa ini jelas mencerminkan hegemoni modes of thought modern terhadap langgam tradisional sebagaimana dikritik pemikir postmodernis Michel Foucault. Di Indonesia, hegemoni ini terjadi berlapis, karena dibawa melalui proses kolonialisasi. Budaya lokal dianggap inferior. Rumah tradisional non bata selalu dianggap sebagai semi permanen dan masih menjadi salah satu indikator kemiskinan Badan Pusat Statistik.

*)Penulis adalah wartawan spesialis analisasis bencana di Kompas, tulisan ini dikutip dari lama facebooknya. Versi ringkas tulisan ini ada di Kompas, 15 Agustus 2018.