Kesulitan Ekonomi, Masalah Baru Korban Gempa Lombok

Salah satu petani strauberi di Kecamatan Sembalun yang turut merasakan dampak berkurangnya kunjungan wisatawan ke daerah itu. @Ihan Nurdin/aceHTrend

ACEHTREND.COM, Mataram – Gempa yang mengguncang Lombok dua bulan lalu tidak hanya menyisakan trauma di hati masyarakat, tetapi juga berdampak pada kesulitan ekonomi yang kini mulai dirasakan warga. Terutama mereka yang selama ini menopang hidup dari sektor pariwisata.

Hal ini diakui Anah, salah satu pengelola homestay di kaki Gunung Rinjani di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Selain pendakian ke Gunung Rinjani yang ditutup sampai waktu yang belum ditentukan sejak 29 Juli 2018 lalu, banyak penginapan atau homestay milik masyarakat di kawasan ini hancur akibat gempa. Akibatnya, warga tak hanya kehilangan tempat tinggal tetapi juga kehilangan mata pencarian.

“Paling banyak hancur itu di Pergasingan, sekarang mereka terpuruk, rumah hancur, sekarang mulai terasa dampaknya,” ujar Anah kepada aceHTrend, Kamis (27/09/2018).

Di kawasan Pergasingan yang berada di kaki Gunung Pergasingan ini kata Anah, terdapat sebuah kompleks yang disebut sebagai Geo Homestay. Masyarakat di kawasan ini mendapatkan bantuan dana CSR dari BNI.

Setiap rumah terdapat satu atau dua kamar yang disulap sebagai homestay untuk menopang ekonomi warga. Namun gempa yang mengguncang Lombok pada 29 Juli dan 5 Agustus 2018 lalu membuat rumah warga hancur.

Padahal kata Anah, sejak Juli hingga September merupakan puncak kunjungan wisatawan ke Sembalun yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Gunung Pergasingan yang puncaknya tidak terlalu tinggi itu menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan yang datang ke Lombok. Di kawasan ini terdapat beberapa gunung selain Rinjani dan Pergasingan, yaitu Nanggi, Anak Dara, Selong, dan Gunung Telaga.

“Gunung ini tidak setinggi Rinjani, lebih aman bagi mereka yang nggak sanggup mendaki tinggi-tinggi. Biasanya wisatawan datang ke sini untuk berkemah. Sekarang sepi,” ujar Anah.

Di akhir pekan pendakian ke gunung tersebut bisa mencapai ribuan, bahkan di musim-musim tertentu seperti libur tahun baru dan libur nasional lainnya bisa mencapai belasan ribu pendaki.

Tak hanya di Kecamatan Sembalun, sebagian masyarakat di Kabupaten Lombok Tengah yang tidak begitu parah terkena dampak gempa juga mengeluhkan hal yang sama. Hal ini diakui Alamsyah, pemandu wisata di Desa Wisata Sasak Ende, Sengkol, Lombok Tengah. Pascagempa kata dia, kunjungan wisatawan ke desa wisata ini menurun drastis. Padahal, sama seperti pengakuan Anah, antara Juli-September biasanya merupakan puncak kunjungan wisatawan ke Lombok.

Dengan kondisi tersebut, warga berharap pemerintah bisa mencarikan solusi terkait hal ini. Salah satu warga di Dusun Sambik Jengkel Barat, Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, Murniati (45), yang sehari-hari berjualan lupis, pascagempa tak lagi berjualan. Perempuan yang telah berstatus sebagai janda tersebut mengaku kebingungan karena sama sekali tidak punya pemasukan untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari.[]