Perilaku Manusia dan Bencana

Oleh: Baihaqi*

Menurut Undang – Undang Tentang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007, defenisi bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Sedangkan mitigasi bencana menurut Undang Undang tersebut pasal 1 ayat (9) adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan dalam menghadapi bencana.

Indonesia memang tak lepas dari bencana, karena secara geologis Indonesia terletak diantara pertemuan tiga lempeng dunia, sehingga bencana alam seperti longsor, gunung api, terlebih gempa bumi, bahkan tsunami akan menghampiri kita. Selain itu, karena masih berstatus negara berkembang, bencana non alam seperti gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit juga menjadi ancaman yang intensitasnya tinggi. Belum lagi bencana sosial yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian ulah manusia, yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat dan teror. Jenis jenis bencana tersebut kesemuanya terjadi dan dirasakan oleh masyarakat, sehingga masih sangat bayak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan.

Beberapa hari yang lalu, kita melihat saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa Bumi disertai Tsunami tersebut mengingatkan kembali pada Bencana serupa yang terjadi di Aceh tahun 2004 silam. Catatan musibah tersebut hanya sebagian bencana yang terjadi pada saudara-saudara kita di Indonesia, belum lagi bencana alam maupun non alam yang lainnya seolah silih berganti menghampiri negeri makmur Indonesia.

Kita dapat belajar dari musibah tsunami 14 tahun silam di Aceh. Masyarakat Aceh saat itu boleh dikatakan sangat tidak populer dengan kata-kata tsunami, sehingga upaya penyelamatan diri setelah gempa tektonik yang episentrumnya di Samudera Hindia tidak dilakukan oleh sebagian masyarakat kita. Hal ini dianggap wajar, karena Aceh dahulu dalam keadaan konflik dan masyarakat lebih paham dengan istilah-sitilah mengenai konflik daripada istilah bencana. Sebenarnya jauh sebelum manusia era modern mengkaji tentang bencana di dunia, istilah mitigasi dan bencana itu sudah diperingatkan oleh Allah dalam Alquran.

Istilah mitigasi yang kita kenal sekarang ini jauh sudah diperkenalkan didalam Al-Quran ribuan tahun lalu. Terdapat ayat- ayat Al-Quran yang menceritakan mengenai sejarah bencana yang pernah terjadi di dunia ini, mulai dari bencana yang pernah terjadi pada masa Nabi Nuh AS, Ibrahim AS, Luth AS, Syu’aib AS, Shalih AS dan Musa AS.

Semua itu dapat kita pahami, betapa kita harus mengambil hikmah dari kisah-kisah tersebut sebagai upaya mitigasi (pencegahan), agar bencana tidak serta merta menyinggahi kita.

Al-Quran juga banyak menyebutkan ayat-ayat mengenai pentingnya menjaga kestabilitasan alam dan lingkungan, salah satunya Surat Ar-Rum ayat ke 41-42.

Secara lengkap ayat-ayat Al-Quran menyebutkan, bencana yang terjadi di suatu daerah terjadi akibat ulah manusia, baik disebabkan karena manusia yang melanggar sistem alam yang terdapat di alam semesta, maupun manusia itu sendiri yang melanggar sistem Allah yang berkaitan dengan keimanan dan kemungkaran. Seluruh bentuk pelanggaran tersebutlah menjadi output teguran Allah terhadap manusia. Semakin besar pelanggaran yang dilakukan, maka semakin besar pula bencana yang akan dipetik. Jika kita baca tafsir-tafsir Alquran, sangat banyak peringatan-peringatan yang diberikan kepada manusia sebagai pelajaran agar manusia terhindar dari bencana. Bencana jangan hanya dipahami sebagai gejala alam saja, namun juga sebagai teguran dari Maha Pencipta untuk meningkatkan prepadness (kesiap-siagaan) manusia. Jadi mitigasi bencana sebenarnya sangat lengkap dalam Al-Quran.

Manusia terkadang hanya mempelajari kamus atau pengetahuan tentang bencana dari produk Barat saja, tanpa memperhatikan bahwa manusia melanggar sistem Allah misalnya dengan berbuat kemungkaran kemungkaran, berbuat dosa yang imbasnya adalah Allah menegur melalui bencana, dalam bahasa yang baiknya, bencana terkadang diartikan sebagai ujian dari Allah.

Saya kira, ujian hanya berlaku bagi orang-orang pilihan-Nya, yaitu orang – orang yang shalih dan bertaqwa. Jika seseorang yang mungkar lebih tepat kita sebut teguran. Kita dapat melihat betapa baiknya Allah SWT menegur kita yang sudah keterlaluan berbuat kemungkaraan. Allah SWT tidak mau manusia terjerumus terus-menerus kedalam kemungkaran. Namun masih sangat banyak teguran yang tak dihiraukan oleh manusia, sehingga bencana datang silih berganti.

Kita seringkali bertanya: kami telah menjaga alam, namun mengapa bencana masih juga terjadi? Karena itu, kita harus introspeksi, barangkali kita belum menjalankan dan menjaga sistim Allah dengan benar, maka bencana terus menerus menimpa kita. Jadi, menjaga alam bukan berarti mengabaikan keimanan, berbuat kemungkaran, namun menjaga alam adalah perpaduan dari kemampuan manusia menjaga sistim Allah dan juga menjaga sistim alam.

*Penulis adalah pendidik pada Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdhatul Ulama Aceh.