Yuk, Berkenalan dengan Komunitas Pakaian Adat Aceh

istimewa

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Berbicara soal pakaian adat Aceh, barangkali yang terbayang di benak kita yaitu pakaian pengantin yang lengkap dengan segala aksesorisnya. Sehingga dianggap aneh bila ada yang memakainya sehari-hari.

Persepsi inilah yang ingin diubah oleh Komunitas Pakaian Adat Aceh. Sebuah komunitas yang berorientasi pada aktivitas seni, sejarah, dan pelestarian budaya Aceh, khususnya pakaian adat Aceh. Sejumlah anak muda di Pidie membentuk komunitas ini pada 2014 lalu.

“Pakaian Aceh bukan hanya pakaian yang dipakai oleh pengantin saat resepsi perkawinan, pakaian ini memiliki nilai etika dan estetika yang unik,” ujar Sekretaris Komunitas Pakaian Adat Aceh, Maria Ulva, kepada acehTrend, Senin (1/10/2018).

Sarung dan songket yang dipakai orang Aceh bertujuan untuk menutupi aurat. Walaupun kata Maria, ada yang berpendapat bahwa nilai keislaman dalam pakaian Aceh tidaklah sempurna.

“Akan tetapi jika kita merujuk pada referensi baju-baju Aceh yang dipakai oleh nenek moyang kita terdahulu sangatlah bersahaja, menutupi seluruh aurat mereka.”

Anggota komunitas ini memakai pakaian adat Aceh dalam segala kegiatan yang mereka ikuti. Sejak terbentuk, mereka konsisten mengampanyekan pemakaian baju Aceh hingga ke Malaysia. Mereka tak canggung memakai pakaian Aceh di acara-acara seperti World Clean Up, HUT PMI, pengukuhan pemuda antinarkoba, PKA, hingga di acara promosi produk kecantikan dan lainnya.

Namun mereka sudah memodifikasinya sedemikian rupa sehingga tak lagi terkesan glamour seperti yang sering kita lihat dalam resepsi perkawinan.

“Meskipun sudah dimodifikasi baik dari segi warna maupun jenis kainnya, tetapi tidak mengurangi nilai budaya dan estetika dari pakaian Aceh itu sendiri,” katanya.

Selain menyosialisasikan pakaian Aceh sehari-hari, komunitas yang dinakhodai Nadri Hamzah ini juga memiliki kegiatan rutin seperti, tarian tradisional Aceh dan kreasi, teater, monolog, puisi, dan jelajah budaya. Memberi pemahaman tentang sejarah dan budaya Aceh kepada seluruh anggota yang telah bergabung. Sekali dalam seminggu, komunitas ini juga memiliki kegiatan ngopi di kafe atau warkop yang ada di Pidie dengan mengenakan pakaian Aceh ini sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat Pidie.

“Awalnya memang merasa risih karena pandangan mata tertuju pada kita yang memakainya. Akan tetapi ketika diberikan pemahaman akan pentingnya menjaga budaya berpakaian, banyak yang akan menerima dan mengerti, bahkan kita akan merasa seperti artis karena banyaknya yang meminta foto bersama,” ujar ibu satu anak ini.

Maria berharap, komunitasnya bisa terus memperkenalkan pakaian ini kepada generasi muda Aceh. Bahkan Maria menyarankan agar pakaian Aceh bisa dikenakan para pramusaji di restoran, pekerja hotel, dan lainnya.[]