Ketika Surga dan Neraka Dicaplok Pendukung Capres

Sumber iluatrasi dikutip dari website: nu.or.id

Oleh Khairil Miswar*)

Sampai saat ini pertarungan wacana antarpendukung capres di Indonesia semakin “menggila.” Beberapa oknum pendukung terlihat begitu bersemangat melemparkan wacana-wanana unik nan nyeleneh yang bermuara pada “pemujaan” berlebihan kepada capres pujaannya. Akal sebagian mereka seketika saja mati dan kewarasan pun terbenam ke dalam lumpur “kegilaan.” Anehnya sebagian mereka mengaku paling waras atas “lawan-lawannnya.”

Isu agama adalah salah satu senjata paling seksi yang digunakan oleh kedua pendukung capres untuk “menghantam” satu sama lain. Teks-teks suci menjadi sedemikian murah dan dijejal bebas tak terkendali. Tiba-tiba saja beberapa oknum pendukung capres beralih profesi menjadi mufassirin yang seolah menguasai kitab suci sehingga “mengalahkan” mufassir-mufassir ternama semisal Ibn Katsir. Kesucian agama telah pun “dinodai” demi kepentingan politik praktis pragmatis dengan pikiran “picik” beberapa oknum yang tak tahu malu.

Beberapa waktu lalu, salah seorang oknum caleg DPR RI dari PKB, Farhat Abbas mengeluarkan statemen yang olehnya disebut pantun, bahwa “pilih Jokowi masuk surga dan pilih mereka masuk neraka” (detik.com, 12/09/18). Belakangan “tukang pantun” ini telah minta maaf atas pantunnya yang sama sekali tak santun.

Tidak hanya Farhat, penggunaan istilah-istilah agama dalam pentas politik juga dimainkan oleh oknum politisi lain semisal Ali Mochtar Ngabalin yang menyebut pembangunan infrastruktur era Jokowi menuju sidratul muntaha (suaranasional.com, 27/09/18). Masih untung Ngabalin tidak mengatakan infrastruktur sudah sampai ke Asrays. Apa tidak konyol? Seperti diketahui, Ngabalin sendiri adalah pendukung Jokowi.

Aceh yang terletak jauh dari Ibu Kota Republik pun tak tinggal diam. Jika sebelumnya, sebagian besar masyarakat Aceh tampak “tidak peduli” dengan kontestasi politik nasional, tapi sekarang kondisi telah berubah dengan munculnya semangat “nasionalisme baru” dalam kehidupan sosial politik Aceh pasca konflik. Saat ini “pertarungan” di tingkat nasional juga disambut meriah oleh sebagian masyarakat Aceh dengan berlangsungnya “diskusi” dan dawa-dawi tanpa henti, baik di media sosial maupun di kedai kopi. Jika dulu Aceh memiliki isunya sendiri, saat ini Aceh justru larut dalam gelombang isu nasional.

Terkait pilpres, seperti halnya di daerah lain, sebagian masyarakat Aceh pun tampak “terbelah” ke dalam dua kubu politik yang saling berseberangan. Dalam hal ini, penggunaan isu agama dalam “pertarungan” antarpendukung capres di Aceh pun menyeruak tajam. Nama Jokowi dan Prabowo juga sudah sedemikian fasih terucap dari mulut sebagian masyarakat Aceh yang telah mendedikasikan dirinya untuk menjadi pendukung salah satu dari mereka.

Baru-baru ini, sebagaimana dirilis aceHtrend.com (30/09/18), seorang lelaki berpakaian mirip teungku telah mengeluarkan sebuah pernyataan unik nan nyeleneh. Dalam video yang viral itu, dia berujar: “Ganti presiden 2019 benar-benar kebutuhan agama, maka ganti presiden 2019 adalah jihad fisabilillah. Siapa yang mendukung Prabowo ditunjukkan tanda-tanda oleh Allah dan diberi petunjuk. Siapa saja yang tidak mendukung Prabowo itu tandanya mata sudah buta, hati sudah buta, telinga sudah tuli, bukan lagi manusia dan isi neraka tulen.”

Dalam pernyataan itu, si tukang pidato ini secara tidak sadar telah memosisikan dirinya sebagai “pegawai neraka” yang di tangannya terdapat daftar penghuni neraka sehingga ia paham betul siapa yang akan masuk neraka dan siapa yang akan masuk surga. Uniknya lagi, pidato ini mendapat dukungan dari para pendengar.

Bagi pendukung Prabowo tentunya pernyataan ini sudah sangat benar dan akan dibela habis-habisan sekuat tenaga. Berbagai argumen akan dicari guna membenarkan pernyataan yang pada hakikatnya telah “mendahului” Tuhan. Beginilah jadinya ketika agama dijadikan komoditas politik. Demi kepentingan politik, ukhuwah dirusak dan diinjak-injak oleh mereka yang mengaku paling beragama.
Nah, kira-kira bagaimana memahami pernyataan para oknum pendukung capres yang tampak lebay itu? Para oknum pendukung Jokowi menyebut pemilih Jokowi akan masuk surga dan pemilih Prabowo masuk neraka. Sementara oknum pendukung Prabowo meyakini para pemilih Prabowo masuk surga dan pemilih Jokowi masuk neraka?

Jika kedua oknum pendukung sama-sama berpegang teguh pada keyakinannya masing-masing dan Allah mengabulkan keyakinan kedua kelompok ini, maka menurut logika mereka sendiri semuanya akan masuk surga dan neraka sekaligus. Artinya, sebagian badan mereka berada di surga dan sebagian lagi berada di neraka. Yang selamat hanyalah orang-orang yang golput, sebab mereka berada di luar dua keyakinan itu. Menggunakan logika konyol mereka, masyarakat yang golput nantinya akan berada antara surga dan neraka, seperti keyakinan Mu’tazilah dalam Ushulul Khamsah yang dikenal dengan manzilah baina manzilatain.

Gilanya lagi, nanti pada pilpres selanjutnya lima tahun ke depan, ketika pilihan politik kembali berbeda, apakah para pemilih Jokowi dan Prabowo akan keluar dulu dari surga atau neraka dan kemudian masuk lagi? Apa tidak pungo?

Sebab itulah, sudah selayaknya para pendukung capres, khususnya di Aceh untuk berhenti “menjual” agama dengan harga murah demi kepentingan politik praktis yang tujuan akhirnya adalah kekuasaan duniawi. Kewarasan dan akal sehat harus terus dijaga jangan sampai tergoda dengan “syahwat” kekuasaan sehingga agama terkorbankan.

*)Penulis adalah peminat kajian sosial, politik dan hukum. Guru sekolah rendah yang aktif menulis artikel di berbagai media massa. Penggiat literasi serta mantan aktivis mahasiswa di era konflik dan bergabung dengan Forum Jeumpa Mirah.