Uniknya Rumah Suku Sasak, Terbuat dari Tanah Liat dan Polesan Kotoran lembu

ACEHTREND.COM, Mataram – Suku Sasak merupakan suku asli yang mendiami wilayah pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Suku ini memiliki rumah adat yang unik. Terbuat dari bahan baku tanah liat sebagai fondasi, dan polesan kotoran lembu atau kerbau di permukaan tanah, serta atap yang terbuat dari jalinan daun ilalang.

Hari terakhir berada di Lombok pada Jumat (28/09/2018), saya dan beberapa rekan jurnalis dari Aceh menyempatkan berkunjung ke Desa Wisata Sasak Ende di Sengkol, Lombok Tengah. Inilah perkampungan adat yang dihuni 35 kepala keluarga dengan total 135 jiwa.

Alamsyah, salah satu pemandu wisata di sana yang sebelumnya duduk di balai langsung menyapa begitu kami turun dari kendaraan. Pria berumur 45 tahun itu mengenakan kain sarung dan baju batik lengan pendek warna merah muda bermotifkan lumbung padi khas suku Sasak.

Ia langsung menggiring kami memasuki gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Sasak Ende”. Gerbang ini merupakan replika dari bentuk lumbung padi khas suku Sasak yang menjadi pelengkap setiap rumah masyarakat Sasak.

Menurut penjelasan Alamsyah, desa ini berada di area seluas 1,5 hektare dan sudah berusia sekitar seratus tahun. Sejak 20 tahun silam kata Alamsyah mulai dikembangkan sebagai desa wisata dan menjadi salah satu magnet wisatawan ke Lombok. Di desa ini wisatawan bisa melihat segala hal yang berkaitan dengan aktivitas suku Sasak seperti menenun.


Lumbung padi dan musala di Kompleks Desa Wisata Ende di Sengkol, Lombok Tengah.

Karena telah disulap sebagai desa wisata, perkampungan ini pun dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti musala yang berada di bagian depan dekat gerbang masuk, bangunan untuk pertunjukan seni, dan pusat oleh-oleh yang menjual aneka pernak-pernik dan kain tenun khas Lombok.

“Inilah rumah asli suku Sasak,” kata Alamsyah saat kami memasuki rumah milik Inak Lenip, seorang perempuan berusia lanjut yang telah dijadikan ikon desa wisata tersebut.

Saat kami tiba menjelang siang hari itu, Inak Lenik sedang menyirih di beranda rumahnya. Mengenakan pakaian khas Sasak dan berkain sarung, perempuan itu memamerkan senyumnya kepada kami sebagai bentuk keramahtamahannya. “Warga di sini sudah terbiasa dengan wisatawan,” ujar Alamsyah.

Di dalam rumah yang gelap karena tanpa jendela dan tanpa penerangan apa pun, Alamsyah menceritakan proses pembuatan rumah adat suku Sasak. Beberapa teman menyalakan lampu ponsel mereka agar bisa melihat-lihat isi ruangan yang hanya terisi dengan beberapa perlengkapan memasak dan tumpukan padi di dalam karung.


Bentuk rumah adat suku Sasak, bagian depan yang rendah sebagai bentuk penghormatan tamu kepada pemilik rumah.

Bagian pertama yang dibangun ialah pondasi yang terbuat dari tanah liat. Umumnya rumah adat suku Sasak ini hanya terbagi menjadi dua ruangan. Satu ruangan yang berfungsi sebagai ruang tidur perempuan sekaligus untuk dapur, satu ruangan lagi sebagai tempat tidur kaum pria di bagian depan.

“Saat masih menjadi pengantin baru mereka tidur bersama di satu ruangan, tetapi setelah punya anak satu mereka akan tidur terpisah,” kata Alamsyah. “Tetapi bukan berarti suku Sasak anaknya sedikit karena tidur terpisah, justru di sini KB itu diartikan sebagai Keluarga Besar karena anak orang Sasak umumnya banyak,” kata dia.

Di atas pondasi tanah liat inilah didirikan tiang-tiang sebagai kerangka bangunan dari kayu dan bambu untuk kerangka atap. Untuk menghaluskan permukaan lantai dan agar tidak berdebu, dioleskan kotoran sapi sebagai ‘semen’. Pemilihan kotoran sapi ini kata Alamsyah, juga memiliki filosofi tersendiri.

Masyarakat Sasak tak bisa jauh dari ternak, khususnya lembu. Sebagai bentuk penghormatan untuk hewan tersebut makanya diberikan campuran kotoran lembu sebagai perekat lantai. “Kalau di luar ada semen Tiga Roda di sini ada istilah semen empat kaki,” ujar Alamsyah bergurau.


Salah satu warga sedang memasak di dapur yang terpisah dengan rumah induk.

Tak semua rumah memiliki pawon atau dapur di dalam, sebagian dibuat terpisah di luar rumah. Setiap rumah juga memiliki lumbung padi berbentuk panggung, di atas digunakan untuk menyimpan gabah, di bawahnya digunakan untuk duduk sehari-hari. Simbol dari lumbung padi inilah yang menjadi ciri khas Lombok. Banyak diaplikasikan pada gedung-gedung pemerintahan di Lombok.

Dengan struktur bangungan yang seluruhnya terbuat dari tanah liat, kayu, dan bambu, serta atap dari ilalang, tak hanya membuat rumah adat ini sejuk tetapi juga tahan gempa. Hal ini diakui Alamsyah, saat gempa mengguncang Lombok akhir Juli dan awal Agustus 2018 lalu, tak ada satu pun rumah di desa itu yang runtuh atau rusak.

Nama kampung ini yakni Ende diadopsi dari bahasa lokal yang bermakna perisai. Perisaian merupakan salah satu pertunjukan seni yang diadaptasi dari pertarungan yang pernah dilakukan di masa kerajaan terdahulu. Perisaian menjadi salah satu pertunjukan andalan di desa wisata ini. Biasanya ditampilkan bila pengunjung yang datang mencapai jumlah tertentu dan harus diberitahukan lebih awal untuk persiapan.

Di Sengkol terdapat beberapa perkampungan khas suku Sasak lainnya. Bahkan ada yang jumlah penduduknya lebih banyak dari yang di Ende. Menariknya, wisatawan yang masuk ke tempat ini tidak dipatok biaya. Mereka cukup membayar jasa pemandu wisata seikhlasnya saja.[]