Cerita Warga Banda Aceh yang Selamat dari Gempa dan Tsunami Palu

Rahmat Saiful Bahri berbincang dengan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman (kemeja putih). Yelli Sustarina/aceHTrend

ACEHTREND.COM. Banda Aceh – Sejumlah Pejabat Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh yang terdiri atas Wali Kota Aminullah, Ketua Majelis Adat Aceh Banda Aceh Bachtiar Arahas, dan Kabag Humas Setdako Taufiq Alamsyah, mempeusijuk atau menepungtawari Sekretaris MAA Banda Aceh, Rahmat Saiful Bahri, yang selamat dari bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/09/2018).

Peusijuek berlangsung di ruang kerja Wali Kota Banda Aceh di Balai Kota pagi tadi, Rabu (3/10/2018).

“Kegiatan ini merupakan sebagai rasa syukur kami atas kembalinya salah satu pejabat dari Pemko Banda Aceh yang bertugas ke Palu. Setelah enam hari dia di sana dan kehilangan kontak selama dua hari, akhirnya pada hari ini bisa kembali lagi ke Aceh dalam keadaan selamat. Kita pun langsung menyambutnya dengan acara peusijuk,” ujar Aminullah kepada awak media.

Saiful Bahri tiba di Palu pada tanggal 27 September 2018, pukul 22.00 WIT untuk mengikuti workshop yang diadakan Pemko Palu pada 28 Oktober 2018.

“Karena kedatangan saya lebih cepat sehari sebelum acara, maka saya menginap di Hotel Gajah Mada Kota Palu. Siangnya saya pindah ke Swiss-Belhotel tempat penginapan yang disediakan pihak panitia,” ujar Saiful Bahri saat menuturkan kisahnya di hadapan Wali Kota dan sejumlah awak media.

Saat terjadi gempa tersebut, Saifullah sedang berada di kamar hotel di lantai tiga. Menurutnya, pada pukul 15.00 WIT terjadi gempa dan hanya terasa sedikit. Namun, gempa semakin kuat hingga menimbulkan tsunami setinggi kurang lebih dua meter. Belajar dari pengalamannya yang pernah mengalami tsunami di Aceh, ia pun menuju ke tempat yang lebih tinggi naik ke lantai lima hotel.

“Sempat saya ingin naik lagi ke atap lantai lima tersebut, tapi pihak hotel mengarahkan kami untuk segera turun setelah lebih setengah jam berada di situ. Kami pun diungsikan ke Bukit Silae sekitar 1 km dari tempat tersebut.”

Selama satu hari semalam Saiful bertahan dengan makanan yang dibantu oleh warga sekitar. Pasokan makanan dan minuman pun juga terbatas, sehingga pada saat itu semua pada kekurangan. Ia kemudian diizinkan kembali ke hotel untuk mengambil barang-barangnya yang tinggal di sana.

“Saya hanya bawa baju di badan, semua barang-barang saya tinggal di hotel. Waktu kami kembali saya lihat lantai satu hotel sudah ambruk. Semua berkas-berkas peserta dan panitia hilang di dalam tumpukan bangunan tersebut. Alhamdulillah, barang-barang saya yang berada di lantai 3 selamat dan tidak ada yang hilang.”

“Pada saat itu saya tidak bisa menghubungi siapa pun karena jaringan telekomunikasi rusak, listrik pun padam, dan semua aktivitas di Kota Palu lumpuh total. Saya berharap bisa balik ke Aceh dengan menggunakan pesawat Hercules, tapi banyak warga Palu juga ingin ke luar dari Kota Palu sehingga saya terpaksa tinggal di Palu empat hari empat malam.”

Terbatasnya pasokan makanan dan minuman di Palu membuat warga Palu melakukan esksodus sehingga aktivitas penerbangan pun semakin padat. Warga dari daerah lain seperti Saiful, terpaksa harus mengantre untuk menunggu giliran penerbangan ke luar Kota Palu bersama dengan warga Palu yang secara besar-besaran meninggalkan daerahnya.

Sampai tibanya keberangkatan Saiful pada 2 Oktober 2018 dari Palu ke Makasar dan dari Makasar ke Jakarta karena semua penerbangan di Palu harus diberhentikan di Makasar. Berbagai rasa pilu dan kesedihan dirasakan oleh pejabat Pemko Banda Aceh ini. Termasuk dia harus rela meninggalkan barang-barang bawaannya berupa koper dan hanya membawa barang seminimal mungkin.

“Saya melihat dua hal yang berbeda dari musibah gempa dan tsunami Aceh dangan Palu. Saat musibah gempa dan tsunami di Aceh dulu penanganannya cukup cepat sehingga pihak BPBD Provinsi dan Kota langsung bertindak cepat untuk evakuasi korban. Termasuk untuk menyalurkan bantuan makanan, minuman, dan obat-obatan. Namun, di Palu tidak ada perhatian dari pemerintah setempat, sehingga banyak korban yang selamat dari gempa dan tsunami, tapi harus menghadapi masalah berikutnya yaitu kekurangan bahan makanan. Bahkan saya harus bertahan dengan makanan seadanya selama empat hari, empat malam di Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie Palu untuk menunggu keberangkatan pulang ke Aceh.”

Begitulah pengalaman Sekretaris MAA Rahmat Saiful Bahri yang tujuannya ke Palu hendak mengikuti workshop, malah diuji dengan bencana gempa dan tsunami. Ia pun akhirnya kembali ke Aceh dalam keadaan selamat pada Rabu, 3 Oktober 2018 dan langsung disambut oleh para pejabat Pemko Banda Aceh untuk dipeusijuk.[]

Editor : Ihan Nurdin