Kisah Tipu-Tipu Itu, dulu Soeharto, Kini Prabowo

ACEHTREND. COM, Banda Aceh – Ratna Sarumpaet akhirnya mengakui bahwa informasi tentang dirinya yang dianiaya oleh beberapa orang saat berada di Bandung adalah bohong.

Bersebab kebohongannya, banyak orang yang kena tipu, termasuk Prabowo Subianto, calon presiden yang berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Prabowo, demi pengakuan pendukungnya Ratna Sarumpaet yang mengaku dipukuli bersedia menggelar konperensi pers, memberi membela dan berniat menemui Kapolri.

Prabowo rupanya tertipu. Dan, untuk itu dirinya harus menanggung malu termasuk menanggung konsekuensi di klaim sebagai calon presiden yang tidak memiliki kemampuan menyaring informasi yang masuk kepada dirinya.

Bagi pendukung Prabowo, apa yang disampaikan oleh Ratna Sarumpaet ditelan sebagai kebenaran, bahkan usaha Tompi yang ahli bedah dibantah mentah-mentah. Barulah kepercayaan mereda begitu pihak polisi mengungkap sejumlah temuan. Ujungnya, kutukanpun mengalir usai Ratna Sarumpaet mengakui tipu-tipunya.

Apa yang dialami oleh Prabowo juga pernah dialami Soeharto. Dulu pada tahun 1970-an, Cut Sahara Fona nyaris sempurna mengabarkan kebohongan. Informasi bayi dalam kandungan yang bisa membaca Al Quran dipercaya banyak orang.

Si ibu sang bayi, Cut Sahara Fona, pun langsung menjadi terkenal. Orang ramai-ramai berdatangan ke rumah Cut Sahara Fona untuk sekedar menempelkan telinga ke perut perempuan itu demi mendengarkan suara sang bayi melantunkan ayat suci Alquran. Kabarnya, Wakil Presiden Adam Malik termasuk salah satu tokoh yang menempelkan kupingnya di perut Cut Zahara Fona. 
 
Saat itu nyaris banyak orang percaya, bayi ajaib itu memang tanda kekuasaan Tuhan. Hanya Kakanwil Kesehatan DKI Dr Herman Susilo yang bersuara berbeda. Dr Herman menyatakan, bayi dalam perut bisa mengaji merupakan hal yang mustahil. Sebab bayi dalam kandungan tidak dapat membuka mulut atau bernafas normal sehingga tidak akan dapat mengeluarkan suara. 
 
Karena berpendapat melawan arus, Dr Herman sampai harus bersembunyi sebab terancam dibunuh oleh orang-orang yang mempercayai bayi dalam perut bisa mengaji. Tapi belakangan terbukti Herman Susilo-lah yang benar. Bayi ajaib yang bisa membaca Alquran ketika masih dalam rahim ibunya adalah bohong alias dusta belaka. 
 
Cut Sahara Fona yang tidak tamat SD itu berhasil menipu banyak orang, para ulama, dan ujungnya termasuk Soeharto. Ternyata Sahara Fona menempelkan tape recorder kecil (biasanya dipakai oleh wartawan) yang ketika itu masih barang langka di balik kainnya.

Cut Sahara dengan alasan agama menolak kainnya disingkapkan karena itu berarti membuka auratnya di depan orang yang bukan muhrimnya. Dengan dalih ini Sahara Fona sukses membangun alibi. Setelah ketahuan kedoknya, Cut Sahara pun masuk penjara.

Kabarnya, pada zaman Mega, pada Agustus 2002, bangsa ini kembali geger dengan kasus harta karun di Situs Batutulis di Bogor. Menteri Agama (waktu itu) Said Agil Al-Munawar memimpin penggalian situs purbakala Batutulis di Bogor karena yakin dengan informasi di situs itu ada harta karun peninggalan Prabu Siliwangi. 
 
Said Agil mengaku tindakan dirinya itu atas sepengetahuan Presiden Megawati Soekarnoputri. Menteri Said menyatakan penggalian situs itu mempunyai tujuan mulia yakni harta karun yang ditemukan akan dipakai untuk melunasi utang negara. Setelah dilakukan penggalian, ternyata Pak Menteri tidak mendapatkan harta karun malah yang ada dia mendapatkan kecaman.
 
Begitulah kisah tipu-tipu yang tidak hanya berhasil menipu orang biasa, calon presiden bahkan presidenpun bisa juga menjadi korban penipuan. Dunia, sejak awal mula sampai kini masih akrab dengan tipu-tipu. Begitulah!

Dari berbagai sumber