“Martir Hoax”

Ratna Sarumpaet @detik

Kebohongan Ratna Sarumpaet (RS) dalam teori gempa, adalah wujud gempa tektonik, gempa yang berpotensi menimbulkan kerusakan, bahkan memicu tsunami, yang dapat menelan korban.

Dan drama tipu RS, secara politik telah menimbulkan tsunami politik kepada kubu Jokowi. Mereka, dengan tuduhan penganiayaan yang dialami RS, telah mengerus kepercayaan yang ujungnya berpotensi mengerus pula elektabilitas pasangan Jokowi – Ma’ruf.

Bukan hanya soal Pilpres, kebohongan RS juga menjadi tsunami bagi Polri yang diklaim gagal melindungi warganya. Lebih dari itu, tsunami politik juga menimpa kubu pendukung Jokowi – Ma’ruf. Mereka diduga sebagai pendukung fanatik yang menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan.

Pengakuan yang disertai permintaan maaf RS atas kebohongannya memang membuat air tsunami surut sejenak. Tapi, tidak berselang lama, tsunami politik justru menyerang kubu Prabowo – Sandi, kubu yang didukung RS.

Tidak ada yang mampu menahan laju gerak tsunami politik ini. Prabowo diklaim gagal memimpin bahkan sebelum menjadi presiden. Prabowo disematkan sosok tidak jantan karena meninggalkan RS setelah ia tidak mampu lagi menjadi mesin pendulang suara.

Serangan tsunami politik juga terjadi kepada tokoh kunci pendukung Prabowo yang disebut sebagai penyebar hoax. Tuduhan kubu Jokowi – Ma’aruf sebagai pusat hoax nasional, kini justru dibalikkan ke alamat kubu Prabowo – Sandi.

Perang kedunguan yang selama ini saling klaim melalui julukan kampret dan cebongan telah kehilangan daya serangnya setelah RS mengungkap fakta kebohongannya, yang diperkuat pula dengan gerak cepat pengungkapan fakta-fakta keberadaan RS oleh Polri.

Lebih bahaya lagi, gelombang tsunami balas dendampun terjadi. Permintaan maaf RS dan elit kubu Prabowo-Sandi sebagai pihak penyebar hoax hingga tersebar melalui media tidak menyurutkan langkah hukum.

Pihak kubu Jokowi kembali mengingat kejadian yang dialami Ahok, yang meski telah meminta maaf tapi tetap diseret ke meja hijau, yang berujung masuk penjara. Luka hati para pendukung Ahok kembali menyala-nyala dan suasana batin ini akan melahirkan upaya yang sama untuk menyeret RS dan lainnya ke meja hijau guna mendapatkan hukum akibat telah menjadi pencipta dan penyebar hoax.

Andai boleh meminjam kacamata positif dan agama, pengakuan RS atas kebohongannya plus permintaan maafnya, jika tidak berlebihan, patutlah RS disebut Martir Hoax.

Pengakuannya ibarat bom bunuh diri bagi dirinya sendiri. Seluruh prestasi terbaiknya selama ini bahkan ikut hancur oleh kelakuan yang diakuinya. Kepercayaan pun ikut terkubur. Seluruh pembelaan menjadi sia-sia. Ratna yang ahli drama telah menempatkan drama politik kebohongannya sebagai karya terakhir, bagi dirinya sendiri. Orang-orang pun berkata: “To say good by to you. ”

Tidak hanya RS, keluarganya pun menjadi sasaran kemarahan, dan tidak tertutup kemungkinan akan mempengaruhi karir perjalanan keluarganya. Rasa malu yang ikut ditanggung, bisa saja membuat mereka tidak memiliki semangat dalam berkarir apalagi bila menghadapi “hukuman sosial” akibat ulah RS.

Namun, sebagai bangsa yang harus belajar terus untuk ke depan, “kemartiran” RS adalah pelajaran, kini kita menjadi punya contoh betapa bahayanya hoax yang dalam agama bisa disebut fitnah yang dipercaya lebih kejam dari pembunuhan. RS sebagai Martir Hoax akan menjadi sejarah yang akan dijadikan perbincaraan oleh generasi masa depan, setiap kali membahas soalan bahaya HOAX. Bukan tidak mungkin, akan ada monumen Ratu Hoax dengan patung wajah mirip RS.

Namun, dari semua itu ada yang patut kita renungkan, yaitu betapa bahayanya bila politik kita terus bertahan dengan pola gerak gempa tektonik. Alam saja tidak mampu melindungi penghuninya jika terjadi gempa yang diakibatkan oleh gerak lempeng yang terus menumbuk, apalagi politik. Mungkin perlu kita pikirkan pola gerak politik yang saling menahan diri, sehingga jikapun terjadi gempa, bukan gempa yang sifatnya tektonik.