Mengungkap Kerja “Spionase” Agen Tak Tuk P2K APBA

Kisah mirip-mirip agen rahasia James Bond 007 tidak hanya ada di film, juga ada di “markas” kendali P2K APBA. Di sinilah “agen tak tuk” diorganisir untuk melakukan kerja operasi terbuka, mengumpulkan informasi 3.195 paket proyek senilai Rp 5,03 triliun milik SKPA yang tersebar di 23 kabupaten/kota.

Seperti aktifitas di markas MI6 yang ada di pinggir Sungai Thames, Vauxhall, London, di “markas” P2K yang juga terletak di dekat Krueng Titi Payang, komplek kantor Gubernur Aceh, aktifitas “James Bond” Aceh diorganisir oleh Leginem yang memiliki panggilan khusus Bu Gin.

Bu Gin bagai sosok “M” yang diperankan oleh Dame Judi Dench dalam serial film James Bond yang berkerja di markas M16. Di markas P2K, Gu Gin tidak sendiri, ada sejumlah Penjab SKPA, dan juga Penjab Data. Penjab Data atau tim data bertanggung jawab terhadap informasi yang masuk, baik dari teklap maupun dari Penjab SKPA, sekaligus bertugas membuat rekap, berikut analisisnya.

Jadi, Bu Gin-lah yang mengorganisir “Agen Tak Tuk” P2K, salah satunya untuk melakukan kerja kunjungan lapangan (kunlap), dengan dibantu tim teknis lapangan (teklap) yang sudah stanby di daerah. Dalam waktu tertentu, biasanya jelang akhir tahun, juga ada kunjungan kerja yang melibatkan Gubernur Aceh atau Wakil Gubernur Aceh.

Kunlap P2K APBA

Tentu saja alat yang mereka gunakan tidak secanggih yang dipakai James Bond untuk menjalankan secret operationnya, misalnya cincin kamera, sensor sidik jari, meja ksrja multi-touch, hp bersenjata, jam tangan peledak, atau kendaraan yang bisa dikendalikan lewat hp.  

Meski begitu, operasi terbuka (non spionase) yang dilakukan oleh “Agen Tak Tuk” P2K memiliki alat pandu yang sudah diakui, pernah masuk dalam Top 9 Inovasi Pelayanan Publik 2014. Namanya adalah Format Kendali Hulu Hilir (FKHH).

Meski untuk mengumpulkan informasi paket proyek APBA dengan opererasi terbuka, kisah-kisah “dramatis” ala James Bond juga dialami oleh para “Agen Tak Tuk” P2K.

Dari penelusuran aceHTrend plus testimoni tertutup dari mantan “agen tak tuk”, dan pengakuan staf di salah satu SKPA yang minta namanya disamarkan, maka diketahui sejumlah kisah yang dialami “agen tak tuk” P2K.

Kunlap P2K APBA

Berburu informasi ribuan paket proyek di 23 kabupaten/kota jelas tidak mudah. Tanpa kerja yang terkendali maka sudah pasti kerja update informasi paket proyek APBA akan gagal, minimal tidak akurat, plus tidak cepat.

Dari pengakuan yang terekam oleh aceHTrend, dulunya ada kasus seperti pihak rekanan yang belum pernah ke lokasi proyek. Bukan hanya rekanan, pernah juga ditemui kasus pengawas proyek yang belum mengunjungi ke lokasi. Bahkan, dulu ada saja Kadis, KPA, PPTK yang tidak tahu paket proyek.

“Saya dulu pernah saksikan tim kunlap yang dicoba gertak, bahkan dicoba takuti dengan ancaman, ada juga yang hampir terjadi duel ala James Bond haha. Jadi, saya salut mereka (Tim P2K APBA) mampu menghadapi dengan tenang,” ungkap salah seorang yang mengaku pernah dekat dengan rekanan, dan mengaku melihat langsung kejadian, Senin (1/10).

“Semua tantangan mesti kami hadapi dengan baik, tujuannya agar informasi yang diperlukan bisa segera mungkin dikirim ke “markas” P2K APBA,” ungkap Roni, salah seorang mantan “agen tak tuk” P2K, Selasa (2/10).

Kerja kunlap terbilang tidak mudah. Dari salah seorang staf SKPA terungkap, jika dirinya pernah minta ikut kunlap bersama Tim P2K APBA, namun karena berat, langsung menyerah, dan memilih kembali ke Banda Aceh.

“Baru dua hari, saya langsung minta pulang. Tidak kuat jika harus mwngikuti kunlap urut kacang. Awalnya, pingin tahu lokasi paket proyek, habis malu kan jika saya tidak tahu lokasi proyek, ” kata Arif, nama samaran saat bincang-bincang di warung, Senin (1/10) malam.

Ia mengaku kagum dengan personil P2K yang berkerja cekatan, termasuk di lapangan. Selama ini, diakuinya perilaku oknumlah yang masih ada saja yang mencoba bermain-main dengan proyek APBA. “Mengikuti kunlap P2K saya jadi tahu perilaku di lapangan, ada temuan yang mesti diselesaikan, tapi ada saja KPA yang berani PHO,” kata Arif mengungkap kisah pengalamannya melakukan kunlap P2K.

Ia berharap personil P2K tidak memarahinya karena mengungkap cerita ini. Dia tahu, personil P2K sangat kuat amanah mengelola informasi, sebab informasi kasat mata yang mereka kumpulkan hanya disampaikan ke sekretariat P2K APBA.

“Tapi, Aceh harus berubah, fakta masih ada perilaku penghambat implementasi proyek APBA harus diakhiri, kita berharap Pak Plt Gubernur dan juga Kepala SKPA makin kuat mengelola paket proyek berbasis fakta, ” tambah Arif yang langsung mohon pamit.

Bu Gin, tidak bersedia mengkomentari temuan aceHTrend. Kepada aceHTrend ia menegaskan bahwa Kunlap tidak muncul tiba-tiba.

“Gubernur melalui Sekda memerintahkan Tim P2K APBA melakukan Kunlap. Lalu, kami membentuk tim kecil per kab/kota untuk memonitor kegiatan secara berkala,” jelasnya.

Hasil monitor dilapangan ini disebutnya menjadi dasar menyusun bahan Rapat Pimpinan (Rapim). Bahan Rapim ikut pula didukung dokumentasi, baik berupa foto maupun video singkat.

Bu Gin menekankan, posisi Kunlap P2K tidak untuk menilai kualitas kerja proyek, melainkan rekaman kasat mata. “Tugas menilai kualitas ada di konsultan pegawas. P2K hanya memastikan paket sudah kerja dan melihat secara kasat mata,” katanya, Rabu (3/10).

Jika proyek yang sudah tanda tangan kontrak lebih dari 14 hari belum taktuk (kerja), maka tim Kunlap segera mengirimkan foto dan kondisi terkini dari lapangan kepada kepala SKPA dan para pihak berkepentingan lainnya.

Berdasarkan penelusuran aceHTrend, terhadap kondisi kasat mata lamban kerja, segera dicari apa penyebabnya. Masalah umum yang kerap muncul misalnya tukang yang bekerja tidak memadai, material sedikit atau malah tidak ada, lahan belum bebas, atau bisa jadi belum tuntas prosedurnya, atau ada juga soal utang gaji pekerja tahun lalu, biasanya untuk paket lanjutan, bahkan pernah ada juga dokumen dan gambar belum final, dan lainnya.

“Atau, terkadang Tokenya yang jarang ke lokasi proyek, atau karena ganti tukang baru di tengah perjalanan proyek, dan bisa jadi juga salah metode kerja, jadi kita diskusikan pemecahannya, ” kata Bu Gin lagi.

Kondisi kasat mata lain yang biasa dicaritahu adalah apakah sarana jalan ke proyek sangat tidak baik sehingga material sulit di lansir, atau ada masalah di rekanan yang habis modal, sehingga untuk melanjutkan kerja harus menunggu uang muka cair atau pencairan tahap selanjutnya.

Diakui oleh mantan Kepala Bappeda (2015-2016) Zulkifli HS, bahwa Kunlap P2K APBA sangat positif. Dengan kunlap kemungkinan proyek fiktif bisa diminimalkan. Dengan adanya papan proyek dan atau plang arah pihak manapun yang berkepentingan dapat dengan mudah mengetahui informasi singkat pelaku proyek dan kepemilikan proyek.

“Papan proyek ini berguna sebagai informasi awal bagi pihak berkepentingan seperti saat kunjungan kerja DPRA, Gubernur, Dinas itu sendiri, Bappeda, Inspektorat, Biro Adpemb, LSM, dan,” sebutnya.

Dengan kunlap juga bisa dipastikan apakah Pengelola Anggaran (PA), Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan PPTK pernah ke lokasi proyek dan senantiasa peduli pada proyek yang menjadi tanggung jawab mereka.

“Jika ada kendala, misalnya lamban atau berhentinya kerja paket maka dapat segera dideteksi sejak dini dan solusi penyelesaian segera didapat,” katanya lagi.

“Hal positif lain dengan adanya kunlap P2K dapat mendorong semua pihak untuk sejak dini menjauhi hal-hal negatif yang kemungkinan akan menjerumuskan mereka dikemudian hari,” tegasnya.

Kepada aceHTrend Bu Gin, yang kini dipercaya menjabat Kepala Bagian Monitoring Evaluasi dan Pengendalian Administrasi Pembangunan pada Biro Administrasi Pembangunan Sekda Aceh merinci metode kerja P2K terkait Kunlap.

P2K APBA menempatkan satu orang Staf Khusus Teknis Lapangan (Teklap) yang bertanggung jawab mengawal pelaksanaan proyek di 1 atau 2 kab/kota.

Laporan awal taktuk baik dari SKPA atau pihak manapun, dilakukan cross check oleh teklap, kemudian teklap melaporkan realisasi fisik ke Sekretariat P2K APBA untuk di entry ke database.

Sekretariat melakukan analisis, atau sesuai request Gubernur atau Sekda, maka diputuskan untuk melakukan kunjungan lapangan/kerja disertai dengan kunjungan supervisi terhadap paket yang dianggap perlu Perhatian Khusus (Perkus).

Setiap malam, Tim Kunlap langsung mengirimkan laporan via aplikasi whatsapp ke Sekretariat untuk kemudian direkap, hasil rekap ini dikirim kepada Gubernur, Wagub, para Kadis, para Kaban, para Karo. Khusus untuk paket yang dianggap sangat bermasalah, laporan langsung dikirim dari lokasi paket.

“Dalam kunlap, pihak rekanan, KPA dan pengawas diajak bangun komitmen agar ada jadwal penyelesaian. Pada kunlap berikutnya akan ditagih komitmennya. Pada bulan-bulan tertentu, untuk paket strategis, perkus atau paket besar yang masih juga lambat akan dilibatkan Gubernur untuk melakukan kunjungan kerja, ” sebut Bu Gin.

Dijelaskan juga, jumlah paket yang dikunjungi adalah semua paket konstruksi yang sudah tanda tangan kontrak. Dan setiap periode, P2K memberikan grade nilai pemacu kinerja yang disimbolkan dengan warna Biru, Hijau, Kuning dan Merah.

Hasil rekapitulasi laporan kunjungan (realisasi fisik) dan realisasi keuangan dari Dinas Keuangan Aceh (DKA), diramu sedemikian rupa kemudian di publish di website P2K, dengan alamat http://p2k-apba.acehprov.go.id

Website P2K APBA

Baru-baru ini, Ketua DPRA, Teuku Muharuddin pernah menyampaikan update kinerja proyek APBA. Menurutnya masih ada 704 paket proyek yang belum terealisasi dilapangan. Informasi itu diperoleh dari Website P2K hasil update Kamis (28/9).

Begitu juga keterangan Plt Gubernur Aceh kepada media tentang progres fisik paket proyek APBA 2018, mulai dari realisasi rendah hingga realisasi tinggi berdasarkan SKPA, juga berasal dari “markas” P2K APBA.

“Unit kerja yang sudah ada sejak 2010 ini berfungsi sebagai ‘mata’ pimpinan untuk secara cepat dan akurat mengetahui perkembangan paket proyek APBA sehingga pimpinanpun bisa ambil bagian dalam mengatasi hal-hal yang tidak bisa diatasi oleh bawahan, ” tutup Zulkifli HS.