Tak Ada Ruangan, 19 Pelajar MTs Tangan-Tangan Belajar di Gubuk

Pelajar MTs sedang belajar dalam kelas darurat (acehtrend/Masrian Mizani)

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Sebanyak 19 pelajar MTs Swasta Tangan-Tangan, Abdya terpaksa harus belajar di gubuk darurat akibat keterbatasan ruang belajar.

Kepala MTs Swasta Tangan-Tangan, Kamaruzzaman, mengatakan total murid di madrasah itu sebanyak 148 orang. Sebanyak 129 pelajar belajar di dalam gedung permanen, sisanya 19 orang terpaksa di kelas darurat berupa gubuk karena tidak terampung di kelas permanen.

“Bila hujan turun, banjir selalu menggenangi lokal darurat ini. Kalau matahari sedang terik, anak-anak tidak sanggup menahan panas,” kisah Kamaruzzaman kepada awak media, Kamis (4/10/2018).

Kelas darurat tempat proses berlangsungnya belajar 19 siswa kelas dua tersebut dibangun secara swadaya di tahun 2012 lalu. Hingga kini, kelas itu masih berlantaikan tanah, tidak memiliki dinding, dan beratap seng bekas alakadarnya.

Padahal, kata Kamaruzzaman, sekolah swasta di Kecamatan Tangan-Tangan ini merupakan salah satu sekolah tertua di Kabupaten Abdya. Sekolah itu dibangun pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, kemudian disulap menjadi MTs di tahun 1999.

“Kami sudah sampaikan kepada pihak Kementerian Agama (Kemenag) Abdya, tapi hingga kini belum ada tanda-tanda pembangunan lokal baru,” tuturnya.

Kamaruzzaman menyampaikan, gedung MTs swasta tersebut awalnya berada di pinggir jalan nasional, tepatnya di samping SMP Negeri 1 Tangan-Tangan. Kemudian tahun 2012, bangunan MTs itu dialihfungsikan untuk Madrasah Aliyah Swasta (MAS). Sementara MTs dipindahkan ke Gampong Padang Bak Jeumpa.

Setelah dipindahkan, sejak itu pula sebagian murid terpaksa harus belajar dalam lokal darurat, lantaran ruangan kelas permanen yang tersedia sangat terbatas, yakni hanya lima ruang. Sementara jumlah siswa-siswi di madrasah itu setiap tahun terus bertambah.

“Tahun 2016 lalu, madrasah ini ada dapat satu bangunan permanen. Pembangunan gedung itu belum siap seratus persen. Jendela belum ada, plasteran juga belum, tapi sudah kami gunakan lantaran ruang lokal terbatas,” sebutnya.

Terkait anggaran, dirinya mengaku tidak mengetahui jumlah yang dikucurkan pemerintah untuk pembangunan satu gedung untuk ruangan belajar tersebut.

“Saya tidak mengetahui sumber anggarannya. Karena saya menjadi kepala MTs ini tahun 2017, sejak sekolah ini masuk dalam Yayasan Sigupai Tanjong,” pungkas Kamaruzzaman.[]

Editor : Ihan Nurdin