Aksi Paku Pohon para Caleg

ilustrasi @kompas

Oleh Azhar

Di tahun politik 2018-2019, pohon menjadi subjek kampanye caleg di batang pohon. Kejadian ini terjadi hampir di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Aceh. Pelaku tebar paku di pohon ini gampang dikenali, karena mereka meletakkan poster wajah mereka di pohon. Inilah para pelaku tebar paku di pohon, pemasangan poster caleg di pohon ini merupakan aksi murah meriah untuk sosialisasi dan kampanye calon DPRK, DPR Aceh maupun DPR RI.

Secara umum, pemasangan paku di pohon dilakukan untuk berkampanye dengan pengenalan poster wajah para caleg tersebut ditempelkan ke pohon. Baik itu pohon yang berada di taman kota, gampong dan kebun masyarakat, hingga pohon di sekitar pagar kuburan. Wajah-wajah yang dikenal dan tak dikenal yang numpang nebeng dan mencari ketenaran di pohon, upaya ini gratis alias tidak dikenai pajak oleh pemerintah kota, khususnya di Banda Aceh.

Khusus di Banda Aceh, secara aturan hal ini telah melanggar, tertera dalam surat edaran Wali Kota Banda, tentang lokasi larangan pemasangan alat peraga kampanye di Kota Banda Aceh Nomor 270/0923 yang dikeluarkan 16 Agustus 2013 berisikan larangan alat kampanye di beberapa tempat seperti seputaran Masjid Raya Baiturrahman, Jln STA Mahmudsyah (dari simpang Kodim 0101/BS sampai Taman Putroe Phang) – Jln Tgk Abu Lam U – Jalan T Nyak Arief, gedung-gedung milik pemerintah, taman kota, dan fasilitas umum.

Selain itu juga melanggar peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 01 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Kampanye Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD. Pada Pasal 17 peraturan itu, dalam hal pemasangan alat peraga kampanye Pemilu DPR, DPD dan DPRD, KPU kabupaten/kota berkoordinasi dengan pemerintah kota. (kotabandaAceh.kpu.go.id/index.php)

Antara Caleg Paku dan Caleg Green

Beberapa tahun terakhir, Pemko Banda Aceh dan stakeholder (masyarakat, LSM dan korporasi) telah berusaha untuk memperindah kota dengan usah penanaman pohon, beberapa program di antaranya adalah implementasi Ruang Terbuka Hijau (RTH). Saat ini Pemko Banda Aceh telah memiliki 40 taman kota dan 19 hutan kota, tetapi jumlah itu belum mencukupi 30 % wilayah kota untuk ruang terbuka hijau sesuai yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dari 20,5 % RTH yang direncanakan untuk ruang publik, baru 12 % yang sudah terealisasi, masih ada 8 % wilayah kota yang harus ditanami pohon, ditambah lagi dengan permasalahan pengrusakan pohon oleh paku poster caleg. (sumber http://www.bandaAcehkota.go.id ).

Berbagai jenis pohon tumbuh di Kota Banda Aceh, mulai dari asam jawa, mahoni dan trembesi bahkan batang kuda-kuda, kini pohon tersebut yang telah jadi korban aksi tebar paku para caleg. Secara biologi dan struktur pohon, pemasangan paku berakibat fatal karena terjadi luka akibat penancapan paku, mengakibatkan pohon membusuk lapuk, luka dari paku tersebut dapat merusak sistem jaringan makanan pohon, hingga dapat memutus transportasi penyerapan makanan dari akar hingga ke daun. Hingga di kemudian hari pohon tersebut susah berkembang dan mati, konon lagi banyak paku yang menancap di pohon berkali-kali.

Seharusnya, kondisi itu tidak terjadi lagi, mengingat pemilih saat ini sudah cerdas. Pemilih di Kota Banda Aceh bukan berharap dari gambar wajah caleg yang wajah nongkrong di pohon, tapi yang dibutuhkan adalah program kerja setiap caleg untuk membangun Kota Banda Aceh.

Usaha caleg ini harusnya lebih baik lagi bukan dengan memaku pohon, tapi alangkah lebih indah jika program kampanye para caleg dengan menanam pohon dan membersihkan lingkungan sekitar atau program caleg lainnya seperti membagi-bagikan bibit pohon untuk ditanami di rumah. Dengan mengajak dan mengajarkan masyarakat untuk membudayakan menamam pohon maka akan lebih baik. Inisiatif ini juga merupakan program dari Pemerintah untuk menanam semiliar pohon di Indonesia, tidak perlu lagi usaha merusak pohon yang ada di kota ini, mari jaga dan tanam apa yang telah dipelihara oleh Pemko Banda Aceh dan masyarakat.

Apa yang sudah dibangun dan dikembangkan Pemko Banda Aceh agar jangan dirusak, program-program caleg harusnya menjadi insiator, motivator, dan pencerahan bagi kota dan warga pemilihnya. Sudah seharusnya para caleg mendukung Pemko Banda Aceh sebagai salah satu kota yang mengusung isu pembangunan yang berkelanjutan (sustainable city).[]

*Penulis adalah praktisi lingkungan dan alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Tgk Chik Pante Kulu, Darussalam, Banda Aceh