Pemberian Kompensasi Korban Salah Tangkap Terhambat karena Trauma

Anggota Komisi I DPRA Abdullah Saleh. @Taufan Mustafa/aceHTrend

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Anggota Komisi I DPR Aceh, Abdullah Saleh, mengatakan hingga saat ini korban salah tangkap terkait kasus setan botak oleh anggota Polres Aceh Utara masih belum bisa diajak komunikasi oleh anggota Yayasan Advokasi Rakyat Aceh.

DPR Aceh meminta YARA untuk mengadvokasi kasus tersebut. Akibatnya hingga saat ini korban belum mendapatkan kompensasi seperti yang dijanjikan oleh negara.

“Korban salah tangkap di Aceh Utara sudah kita minta YARA untuk mengkomunikasikan, namun yang bersangkutan masih menutup diri, jadi tidak mau ditemui untuk dikomunikasikan. Kita tunggu keadaannya kondusif sampai korban dalam posisi tenang, baru kita coba bangun komunikasi kembali,” kata Abdullah Saleh saat ditemui aceHTrend di ruang kerjanya, Jumat (5/10/2018).

Berdasarkan cerita anggota YARA kata Abdullah Saleh, korban sempat dijemput kembali oleh pihak kepolisian. Namun tidak diketahui apakah untuk diberikan santunan atau untuk keperluan lain karena belum bisa dimintai keterangan.

“Kita memberi saran untuk menunggu kondisi korban pulih, kemudian mau untuk diajak bicara, kemudian mau untuk kita advokasi, untuk hak ganti rugi terhadap korban salah tangkap, secara aturan negara itu harusnya sudah berjalan,” katanya.

Ia menambahkan, untuk kasus ini idealnya ada instansi yang bisa mengawalnya misalnya Kementerian Hukum dan HAM, untuk melakukan verifikasi terhadap kasus salah tangkap atau tindakan hukum lainnya.

“Kalaupun ada usulan dari kita yang verifikasi berkasnya juga Kemenkumham, lalu kemudian diusul kepada Kementrian Keuangan, untuk dana kompensasinya,” sebut Abdullah Saleh.

Untuk sementara, kasus ini belum dilakukan verifikasi oleh Kemenkumham karena menunggu hasil pendekatan yang dilakukan YARA. Sehingga belum ada kejelasan apakah korban mau diajak diskusi, advokasi, dan diurus haknya karena korban masih trauma.

“Karena bisa saja dianggap kita membuat konfrontatif dengan kepolisian, dipikir apa yang akan menimpa dia lagi, kita berharap setelah korban agak tenang akan dikomunikasikan lagi, dan dijelaskan tentang kompensasi negara untuk hak dia, tapi ini belum berjalan kita sedang menunggu kabar dari YARA,” katanya.

Untuk kompensasi, sambungnya, itu beda halnya dengan kasus pidana yang dialami oleh korban, itu ranahnya ke Pro Pam Polda Aceh bagi korban yang ingin melanjutkan upaya hukum.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK