Warga Diminta Jauhi Radius Bahaya Gunung Soputan

Letusan stromboli Gunung Soputan dengan estimasi ketinggian 400 m dari puncak, terpantau dari Desa Lobu, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Rabu (3/10). Foto: Antara/Adwit B Pramono

MANADO — Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) melarang masyarakat melakukan aktivitas di radius bahaya Gunung Soputan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Hal ini bertujuan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan pascaletus pada Rabu (3/10/2018).

Dalam laporan yang disusun Steve SM Rotti, personel Pos Pengamatan Gunung Soputan, Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan beberapa hal. Pertama, masyarakat tidak beraktivitas di seluruh area di dalam radius empat kilometer dari puncak Gunung Soputan. Masyarakat juga diminta tidak masuk ke dalam area perluasan sektoral ke arah Barat-Barat daya sejauh 6,5 kilometer dari puncak yang merupakan daerah bukaan kawah. Hal ini untuk menghindari potensi ancaman guguran lava maupun awan panas.

Selanjutnya, warga di sekitar Gunung Soputan dianjurkan menyiapkan masker penutup hidung dan mulut mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu. Lainnya, masyarakat mewaspadai potensi ancaman aliran lahar yang dapat terjadi setelah terjadinya erupsi. Material erupsi dapat terbawa oleh air, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng Gunung Soputan, seperti Sungai Ranowangko, Sungai Lawian, Sungai Popang dan Londola Kelewahu.

“Status Gunung Soputan masih siaga level III,” kata Steve, Jumat (5/10).

Dalam laporan pukul 00.00-06.00 Wita, gunung tampak jelas dengan asap kawah bertekanan lemah hingga sedang. Asap teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang setinggi 200 meter di atas puncak kawah.

Gempa guguran tercatat sebanyak 14 kali dengan amplitudo 6-30 milimeter berdurasi 21-150 detik. Gempa embusan sebanyak 12 kali dengan amplitudo 10-41 milimeter selama 10-63 detik.

Gempa vulkanis dalam tereman sebanyak dua kali dengan amplitudo 31-40 milimeter selama 12-15 detik. Sementara gempa tektonik jauh sebanyak satu kali dengan amplitudo tiga milimeter selama 67 detik, tremor terus-menerus terekam dengan amplitudo 1-5 milimeter dominan dua milimeter.

Pos pengamatan, pada Rabu mencatat terjadinya empat kali erupsi. Letusan pertama terjadi pukul 08.47 Wita, kedua terjadi pukul 10.44 WITA, letusan ketiga pukul 11.12 WITA, dan letusan keempat terjadi pukul 11.52 Wita.[]

Sumber : Republika