Saatnya KEK Pantai Barat Selatan! Mendunia dalam Perspektif IORA

Inilah saatnya bagi Kawasan Ekonomi Khusus, KEK Pantai Barat Selatan. Ada lebih dari cukup alasan bagi gagasan ini diwujudkan. Pertama, kawasan ini memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat melimpah, mulai dari komoditas kehutanan, pertanain, perkebunan, kelautan dan kemaritiman, perdagagnan, energi, hingga kepariwisataan. Lengkap. Semua modalitas ini perlu dikelola dan dikembangkan dalam skema industri untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka menyejahterakan masyarakat Pantai Barat Selatan.

Kedua, dari aspek legal, gagasan program ini sejalan dengan pertama, maspterplan dana otsus yang baru disusun oleh Bappeda Aceh dimana salah satu pointnya mengamanahkan pembangunan kawasan ekonomi. Kedua, dengan RPJMA 2017-2022. Target pertumbuhan ekonomi, iklim usaha dan investasi, perluasan lapangan kerja, pengembangan agroindustri industri manufaktur, industri jasa, sebagaimana termaktub dalam dokumen perencanaan lima tanun ini, semuanya sejalan dengan semangat KEK (Pantai Barat Selatan). Ketiga, sejalan dengan salah satu rekomendasi kajian dana otsus oleh KOMPAK : Pemerintah Aceh perlu mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, sebagai exit strategy paska dana otsus Aceh. Keempat, juga sejalan dengan paradigma baru pembangunan nasional sebagai terkandung dalam Permendagri No. 86 Tahun 2017 : HITS, Holistik, Integratif, Tematik, dan Spasial; yang pada tingkat teknisnya bermuara pada konsep pembangunan kawasan.

Ketiga, sejalan dengan program pemerintah Aceh, dimana pengembangan kawasan pariwisata unggulan Pulau Banyak, Aceh Singkil, telah ditetapkan sebagai program unggulan pemerintahan Aceh dibawah kepemimpinan Irwandi Nova. Dari sisi arah kebijakan, juga sejalan dengan salah satu prioritas pembangunan Pemerintah Aceh : Mengurangi disparitas antar wilayah. Dalam konteks ini menjadi relevan mengingat Pantai Barat Selatan Aceh adalah satu-satunya kawasan di Aceh yang belum diintervensi secara khusus dalam bentuk program khusus pembangunan ekonomi, seperti KEK Arun mewakili Pantai Utara Timur, Kawasan Strategis dan Khusus Dataran Tinggi Gayo dan Alas (KSK-DTGA) mewakili Poros Tengah dan Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang, termasuk kalau mau dimasukkan triangle pertumbuhan BASAJAN (Banda Aceh, Sabang, dan Jantho) mewakili kawasan ujung atau pusat Aceh.

Keempat, sejalan dengan program pemerintah pusat. Dengan letak geografisnya yang lanngsung berhadapan dengan Samudera Hindia, KEK Barat Selatan Aceh ini juga sangat selaras dengan program kemaritiman (tol laut) Presiden Jokowi. Juga dengan program jalan tol, jika Pemerintah Aceh dapat mengambil momentum rencana pembangunan jalan tol Medan-Danau Toba, dengan meyakinkan Pemerintah Pusat untuk melanjutkan ruas tol tersebut hingga ke Aceh Singkil melalui Tanah Karo dan Fak-Fak, dalam rangka mengembangkan pariwisata Pulau Banyak dalam sebuah skema konenktifitas dan diversifikasi destinasi wisata : Danau Toba (wisata danau), Tanah Karo (Wisata Agro), dan Pulau Banyak (wisata bahari). Skema ini pun semakin selaras dengan program pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang kebetulan juga sedang mengembangkan konsep Pariwisata Jalur Rempah, dimana untuk Aceh sebagai gerbang utama, jalur Pantai Barat Selatan dengan kota Tapaktan telah disepakati sebagai titik pusat pengembangan PJR Indonesia ke depan. Lalu juga sejalan dan selaras dengan program pemerintah pusat (melalui 6 kementerian/lembaga) yang telah menetapkan pantai Barat Selatan Aceh sebagai pusat kawasan kelapa nasional, dengan Simeulue sebagai hot spotnya. Juga komitmen Kemenristekdikti yang telah mencanangkan Aceh Jaya sebagai sluster inovasi nilam, dan pengembangan industri pengolahan minyak pala di Meukek, Aceh selatan, membuat ide program KEK Pantai Barat Selatan Aceh ini semakin relevan dan mendesak dan diwujudkan.

Kelima, kondisi infrastruktur di Pantai Barat Selatan sebagai faktor pendukung utama, juga sudah cukup baik dan mendukung. Jalan nasional yang melintasi Pantai Barat Selatan yang dibangun kembali pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh paska bencana, jalan nasional kini kualitasnya jauh lebih baik. Pantai Barat Selatan juga memiliki lima bandara perintis, bandara Cut Nyak Dhien di Nagan Raya, bandara Kuala Batu, bandara Teuku Cut Ali di Aceh Selatan, bandara Hamzah Fansuri di Singkil, dan bandara Lasikin di Simeulue. Lalu pelabuhan laut tersebar di Aceh Barat, Abdya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Simeulue. Modala dukungan infrastruktur ini dapat terus dikembangkan dan ditingkatkan kapasitasnya sesuai kebutuhan seiring berkembangkan KEK Barat Selatan Aceh nantinya.

Jadi dengan semua faktor pendukung ini, point-point justifikasi mengapa program KEK Barat Selatan Aceh ini relevan dan dibutuhkan, itu bukan hanya sekadar ada, tapi surplus. Oleh karena itulah ide program KEK Pantai Barat Selatan Aceh ini bukan hanya sekadar layak, tapi wajib direspon oleh Pemerintah Aceh, dengan kebijakan-kebijakan konkrit untuk memastikan ide ini dapat terealisasi.

Perspektif IORA
Bak gayung bersambut, diluar dukungan faktor-faktor internal di atas, ide KEK Barat Selatan ini juga sangat prospektif jika dilihat dalam perspektif IORA. IORA, Indian Ocean Rim Association, adalah perhimpunan negara-negara yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Berangggotakan 20 negara, Australia, Bangladesh, Komoro, India, Indonesia, Iran, Kenya, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Mozambik, Oman, Seychelles, Singapura, Afrika Selatan, Sri Lanka, Tanzania, Thailand, Uni Emirat Arab, dan Yaman.

Berpijak pada prinsip regionalisme terbuka, tujuan organisasi ini adalah memperkuat kerjasama ekonomi kawasan, pengembangan investasi, dan promosi. Organisasi ini berkomitmen menjadikan Samudera Hindia menjadi pusat perekonomian dunia. Pada 2017 lalu di Jakarta, IORA menyelenggarkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang menghasilkan kesepakatan Jakarta Concord. Point-point Jakarta Concord ini adalah : Memajukan keamanan dan keselamatan maritim, meningkatkan kerjasama perdagangan dan investasi, memajukan pengembangan dan pengelolaan perikanan yang berkesinambungan dan bertanggung-jawab, memperkuat pengelolaan resiko bencana, memperkuat kerjasama akademis dan ilmu pengetahuan, dan memajukan kerjasama di bidang pariwisata dan kebudayaan.

Semua point Jakarta Concord ini secara umum sejalan dan relevan dengan ide program KEK Barat Selatan. Kalau mau spesifik, point-point 1,2,3, dan 6, sangat menarik untuk ditempatkan konteks kepentingan KEK Barat Selatan. Kemudian jika dilihat dari peta negara-negara anggota IORA, posisi Aceh, khususnya Pantai Barat Selatan Aceh, persis berada di tengah atau pusat kawasan! Ini adalah keunggulan dan keuntungan geografis yang harus betul-betul bisa kita manfaatkan.

Jadi posisi tawar Pemerintah Aceh sangat kuat terkait ide KEK Barat Selatan ini, karena dalam konteks IORA, program KEK Barat Selatan Aceh ini bukan hanya penting dalam lingkup lokal dan nasional, tapi juga regional dan internasional. Dengan demikian program KEK Barat Selatan bukan hanya strategis buat Aceh tapi juga Indonesia. Dengan posisi strategisnya di tengah kawasan, bahkan KEK Barat Selatan Aceh bahkan bisa diproyeksikan sebagai pusat magnet ekonomi kawasan IORA. Dalam perspektif Indonesia, pemerintah pusat berkepentingan menjadikan ini branding dalam rangka memperkuat posisi tawar Indonesia dalam hubungannya dengan negara-negara anggota IORA. Tinggal sekarang, dengan segala momentum ini, bagaimana Pemerintah Aceh bisa meyakinkan pemerintah pusat untuk menyahuti ide program yang sangat strategis ini.

Bulman Satar adalah Praktisi Pembangunan. Penggagas KEK Barat-Selatan