Atlit Muslimah Dunia dan Miftahul Jannah

Pejudo Putri Indonesia, Miftahul Jannah tidak jadi berlaga pada ajang Asian para Games 2018 usai didiskualifikasi karena enggan melepas hijabnya, Senin (08/10/2018). Foto: Bol,com

Oleh: Nia Deliana*

Perempuan berjilbab dalam dunia olahraga adalah minoritas. Kaum Minoritas dilindungi haknya dalam undang –undang Indonesia dan hukum internasional. Pihak yang merampas hak minoritas terikat dengan sederetan hukuman penjara. Harusnya, narasi inilah yang melindungi hak berjilbab Miftahul Jannah, seorang Judoka dengan cacat penglihatan yang bertanding mewakili Indonesia dalam Asian Games 2018. Namun realitanya tidaklah demikian. Dan ini bukanlah fenomena baru dalam dunia olahraga yang menganaktirikan kompetitor-kompetitor berjilbab dalam kancah internasional.

Ilmuwan-ilmuwan Barat sejak abad ke-19 melihat Jilbab sebagai simbol ‘terkungkung’, terbelakang, dan inferior terhadap suami. Di sisi masyarakat Muslim sendiri, perempuan berhijab merupakan tanda muslim yang taat yang apabila dilanggar akan berdampak pada konsekuensi pengucilan dari komunitas melalui label sesat, dan stereotip negatif lainnya. Lebih jauh lagi, terdapat kubu lain dalam masyarakat Muslim yang tidak mendukung sama sekali keterikutan perempuan dalam dunia olahraga kecuali olahraga panah, menunggang kuda, dan berenang, yang merupakan sunnah Rasulullah. Namun jika benar-benar olahraga ini punya peserta perempuan Muslimah berjilbab hari ini, saya yakin mereka tidak bisa berhenti mengomentari pakaian dan bagian tubuh perempuan berhijab yang tergambar lewat lompatan-lompatan kuda dan renang tersebut. Dalam kesempatan ini, mereka cenderung menekankan, itu hanya sunnah, aurat lebih penting!. Semua kubu ini pada dasarnya adalah kelompok utama yang menggagalkan perempuan sepanjang sejarahnya, disamping realita-realita lain seperti perang, kemiskinan, dan buruknya akses pada pendidikan. Intinya kritik yang dialami oleh perempuan perempuan yang memilih aktif diruang publik dengan berhijab ini dua kali lipat dibandingkan mereka yang tidak. Dalam gambaran lebih besar dapat dikatakan bahwa dalam satu sisi, hak azasi manusia tidak secara utuh berlaku bagi masyarakat Muslim, apalagi jika ia seorang Muslimah dan disisi lain, hak dan kewajibannya perempuan muslimah diukur dengan sepanjang mana jilbabnya diulurkan.

Kubra Dagli misalnya, merupakan seorang medalis Taekwondo asal Turki yang berhasil menaklukkan emas dalam pertandingan internasional tahun 2016. Selain mendapat hujanan pujian, tak sedikit yang melayangkan hujatan. Diantara hujatan itu adalah teriakan-teriakan menghasut soal jilbabnya dan panggilan-panggilan agar ia “kembali beraktifitas didapur dan temoat tidur sebagaimana peremuan muslimah lainnya” sebagaimana bias dilacak lewat beberaoa outlet media local dan luar negeri.

Selain Kubra Dagli terdapat juga Ibtihaj Muhammad. Berbeda dengan Kubra Dagli yang datang dari kalangan masyarakat dengan sejarah Yunani, Islam dan Sekulerismenya yang begitu kental, Ibtihaj Muhammad besar di Amerika, sebuah Negara yang dibangun oleh migran yang kemudian menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan sebagai dasar peradaban. Dengan nilai-nilai tersebut ia mendapatkan secara mutlak perlindungan hukum dan dukungan segala lini kemasyarakatan yang menumbuhkan rasa percaya diri untuk mampu bersuara lantang demi memulihkan haknya berjilbab dalam ajang Olimpiade tahun 2016 yang berakhir dengan penganugrahan Perunggu untuk ketangkasannya. Ia adalah atlit Muslimah berhijab Amerika yang pertama.

Dikarenakan suara Ibtihaj berhasil mendapat pengakuan dari negeri Amerika, banyak perempuan-perempuan lain yang terinspirasi untuk berani mendobrak persepsi-persepsi negative yang masih kencang disuarakan oleh kubu kubu tersebut diatas. Ada diantaranya Kulsoom Abdullah yang mewakili Pakistan dalam ajang Angkat Besi di Amerika dan juga Abul Fazl, seorang pemain sepakbola perempuan asal Alfghanistan.

Segala pengalaman atlit diatas tentunya jauh berbeda jika dibandingkan dengn Miftahul Jannah yang berasal dari Aceh Barat Daya, sebuah kawasan yang punya reputasi tak gemilang terutama saat berkaitan dengan perang, hukum dan korupsi. Dengan penglihatannya yang tidak baik, bertanding Judoka barangkali merupakan satu-satunya impian yang ingin ia capai. Jadi mengapa aturan dari Judo Indonesia tidak mengakomodasi hal ini?

Ahmad Bahar, sebagaimana dilansir dari sportdetik.com membenarkan larangan ini dengan alasan aturan. Aturan harusnya tidak menjadi penghalang bagi hak seseorang untuk maju dan meningkatkan kapasitas diri. Lebih buruk lagi jika didalihkan atas alasan cedera fisik. Dalam hal ini mengakomodir aturan bagi petanding berhijab tak mampu adalah dengan mensosialisasikan jenis jilbab yang dipakai jika memang kekhawatiran cedera yang diakibatkan naturalisme kebutaan melandasi aturan tersebut. bukan malah meminta ia mundur serta merta.

Perjuangan perempuan berhijab nampkanya masih begitu panjang. Meskipun begitu adalah penting untuk melihat dengan pertimbangan pemenuhan hak bagi setiap minoritas. Dengan ini diharapkan akan menjadi inspirasi bagi bangunnya peradaban Islami yang dipimpin juga oleh anak-anak perempuan kita.

*Ibu rumah tangga yang peduli pada persoalan dan perubahan sosial Aceh