Pesan Wali Negara Aceh Hasan di Tiro

Oleh Faisal Ridha, S.Ag., MM*)

Tepatnya, April 2005 silam, saya diundang oleh para petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk menghadiri Rapat Kerja Pemerintah Negara Aceh Ban Sigom Donya di Denmark yang diselenggarakan oleh petinggi GAM di pengasingan Eropa. Rapat tersebut membahas kondisi politik dan status Aceh sebagai wilayah Darurat Sipil pasca musibah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan sebagian wilayah Aceh pada Desember 2004.

Selepas menghadiri acara itu, saya bersama rombongan langsung menuju ke Negara Swedia untuk menghadap Wali Negara Aceh. Kala itu, Wali Negara Hasan Tiro, menerima kehadiran kami di tempat kediamannya kawasan Norsborg Stockholm. Di sanalah Hasan Tiro berteduh dan mengasingkan diri dari Pemerintah RI dengan memanfaatkan suaka politik yang diberikan oleh pemerintah Swedia kepada setiap warga dunia yang ingin mendapatkan hak politiknya.

Hasan Tiro adalah deklarator Gerakan Aceh Merdeka yang kemudian juga dikenal sebagai Wali Negara. Saat itu, Hasan Tiro mampu menyatukan rakyat Aceh dalam upaya melawan ketidakadilan pemerintah Pusat terhadap rakyat Aceh.

Keberhasilannya itu tidak lepas dari pengaruh konsep nasionalisme Keacehan yang dituangkannya dalam beberapa buku karangannya, dan konsep-konsep itu juga sering diucapkan dalam pidatonya di berbagai kesempatan di saat rakyat Aceh sedang tidak percaya terhadap Pemerintah Indonesia.

Salah satu kalimat yang populer dari Hasan Tiro adalah “geutanyou bangsa Aceh, beu ta thei droe dan beu ta tusoe dro, bek sampoe jeut keu bangsa lamit yang dijajah dan diboh atoe lei bangsa laen.” Kalimat tersebut seakan menjadi daya ‘magic’ bagi rakyat Aceh khususnya bagi saya sendiri untuk lebih kenal terhadap diri sendiri dan bangsa sendiri. Kalimat itu pula yang membuat rakyat Aceh bersatu padu dalam satu barisan memperjuangkan keadilan; politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, dan agama dari Republik Indonesia.

***

Wali Muhammad Hasan di Tiro menerima kehadiran kami dengan penuh kehangatan dan keteduhan. Tatkala memandangnya, kami menjumpai dalam diri Hasan Tiro sesosok pemimpin rakyat yang berjiwa besar, tegas dan berwibawa. Kami yang hadir di sana di antaranya Muzakkir yang pada saat itu berdomisili di Swedia. Selanjutnya, ada Zulkifli (Doli), dan Tgk. Abdul Muthalleb sebagai delegasi Komando Pusat GAM di Tiro saat itu.
Adapun dari kalangan sipil Aceh, turut hadir Ruslan Razali yang pada hari ini sedang menjabat sebagai Ketua DPP PNA, Nasruddin Abu Bakar Sekjen Partai SIRA yang juga pernah menjabat Wakil Bupati Aceh Timur (2007-2012), dan saya sendiri Faisal Ridha yang dipercayai sebagai ketua delegasi sipil pada pertemuan itu.
Pada kesempatan itu, saya beserta delegasi yang hadir bisa berbicara secara terbuka dengan Wali Negara untuk menyampaikan berbagai persoalan yang sedang dihadapi rakya Aceh dengan kondisi politik Aceh dalam status Darurat Sipil, ditambah dengan kondisi Aceh yang sedang porak-poranda pasca gempa dan tsunami.

Dari laporan yang kami sampaikan itu, jelas terlihat di wajahnya rasa keprihatinan terhadap bangsanya. Ia tidak menginginkan rakyat Aceh hidup dalam penderitaan, dan tidak ingin rakyatnya diperlakukan secara tidak adil. Atas dasar itu, Wali memberikan ‘peuneutoh‘ kepada kami untuk menyampaikan pesannya kepada rakyat Aceh untuk terus berjuang demi mewujudkan cita-cita perjuangan.

Namun di sisi lain, Wali tetap mengharapkan kepada kami untuk melakukan upaya diplomasi agar konflik yang sedang terjadi di Aceh tidak menambah korban nyawa di kalangan sipil. Hingga pada akhirnya, empat bulan setelah pertemuan itu, upaya penyelesaian konflik Aceh terwujudkan dengan adanya perjanjian perdamaian antara Aceh dan Pemerintah RI pada 15 Agustus 2005 di kota Helsinki Finlandia.

Dengan demikian, apa yang disampaikan oleh Wali Negara Hasan Tiro kala itu, membuat saya tidak pernah melupakannya sampai sekarang. Pesan-pesan tersebut masih terngiang di benak ini. Maka, dalam kondisi apa pun dan dalam setiap kesempatan, saya sebagai rakyat Aceh akan selalu berusaha melakukan apapun sesuai dengan amanah Wali Negara Teungku Hasan di Tiro yakni menggapai kemerdekaan yang hakiki. Dengan harapan, Aceh selalu damai dan tentram.

*)Penulis adalah Aktivis Sipil Aceh, dan sekarang aktif sebagai Ketua DPW Gerbang Tani Aceh.

Foto: Penulis (kanan) dan Teungku Muhammad Hasan di Tiro, deklarator Aceh Merdeka cum Wali Negara.