Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, Kado Manis dari Puncak Frustrasi Azhari Aiyub

Azhari Aiyub @Facebook/Azhari Aiyub

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Novel Kura-kura Berjanggut karya pengarang Aceh, Azhari Aiyub, memenangi penghargaan bergengsi ajang Kusala Sastra Khatulistiwa ke-18 untuk kategori prosa. Kemenangan tersebut diumumkan pada Rabu malam (10/10/2018) di Jakarta.

Selain Azhari Aiyub ada dua penulis lainnya yang menjadi pemenang ajang tahunan yang pertama kali digelar pada 2001 silam itu. Keduanya, yaitu Avianti Armand lewat ‘Museum Masa Kecil’ untuk kategori puisi dan Rio Johan lewat karya berjudul “Ibu Susu” untuk kategori karya perdana atau kedua.

Sejak terbit pada April 2018 lalu, novel Kura-kura Berjanggut telah menjadi magnet bagi pecinta sastra, khususnya di Aceh. Novel ini menjadi buah bibir bukan hanya karena ide dan penggarapannya yang luar biasa, melainkan kekayaan bahasa yang disajikan Azhari telah memberikan sensasi berbeda bagi penikmat literasi.

Novel ini berkisah tentang sekelompok bajak laut di abad ke-17 yang menyusun rencana untuk membunuh seorang sultan yang dianggap telah membuat makar dan membunuh sultan sebelumnya karena ingin naik takhta.

Azhari Aiyub dalam sebuah diskusi yang digelar Forum Aceh Menulis (FAMe) pada 29 Mei 2018 lalu mengisahkan, setidaknya ada 40 tokoh dalam novel tersebut dengan tokoh sentralnya si Ujud.

“Tokoh-tokoh itu terus hidup dalam kepala saya, itu berlangsung hampir 12 tahun. Saya harus mengendalikan mereka, bila tidak mereka yang mengendalikan saya,” kata penulis kelahiran 5 Oktober 1981 asal Lamjame, Aceh Besar itu.

Ide untuk menggarap novel ini kata Azhari telah ada sejak sebelum tsunami melanda Aceh pada 2004 silam. Berawal dari obsesinya pada bajak laut dan berkaitan dengan sejarah Aceh yang ditulis oleh orang Asing yang selalu berhubungan dengan bajak laut. Inilah yang mengusik ruang batinnya, membuatnya mempelajari apa itu bajak laut, siapa yang mendefinisikannya. Dan ternyata kata Azhari, semua itu bisa diperdebatkan.

“Contoh Sultan Iskandar Muda adalah raja laut terbesar abad ke-17, reputasi ini terbangun karena memiliki satu pintu masuk ke tempat sumber utama rempah-rempah dunia yaitu Selat Malaka,” kata peraih Free Word Award dari Belanda itu.

Tiga karya pemenang KSK 2018 @Facebook/Richard Oh

Kura-kura Berjanggut merupakan buah dari obsesi Azhari Aiyub yang ingin menulis buku tentang maritim Nusantara. Menurutnya, dalam khazanah kesusastraan Indonesia sangat sedikit bahkan hampir tidak ada yang menulis tentang laut atau tema maritim, semuanya menuliskan tentang darat atau agraris.

Judul novelnya yang unik juga menggelitik rasa penasaran dari pembaca. Dari mana ia mendapatkan ide. Soal ini, orang pertama dari Aceh sebagai peserta pertemuan sastrawan internasional Ubud Writer and Reader Festival ini berkisah, di saat ia sudah membangun ‘sirkuit’ untuk menggarap novel ini, Aceh yang saat itu sedang dalam masa konflik tiba-tiba mendapat kabar terjadi gencatan senjata antara pihak yang bertikai yaitu Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka.

Untuk memastikan kabar itu, Azhari lantas menanyakan pada salah satu rekannya, Nezar Patria yang berprofesi sebagai jurnalis. Nezar lantas menjawab dan menyebut ‘baneng atau kura-kura berjanggut’. Istilah kura-kura berjanggut kemudian menginspirasi Azhari menjadi novel sekaligus nama komplotan bajak laut di dalam novel ini.

Setelah menggarap novelnya sejak 2006, Azhari sempat mengalami puncak frustrasinya pada 2012. Dalam setahun, kadang ia hanya berhasil menulis sepuluh halaman, kadang ada yang sampai 50 halaman. Bahkan ia sempat terpikir ide-idenya itu tidak bisa diselesaikan menjadi sebuah buku saking frustrasinya.

Di 2016, ia juga sempat mengalami masalah terkait plot dan penokohan untuk setiap karakter yang puluhan tersebut. Di tahun 2018, setelah penggarapan novel ini selesai ia merasa seperti menjadi orang yang bebas kembali. Setidaknya, bebas minum kopi tanpa perlu membawa laptopnya ke mana-mana.

Namun, apresiasi yang tinggi dari pembaca ditambah dengan penghargaan bergengsi yang diterima di bulan kelahirannya, tentu menjadi kado manis atas semua kerja keras dan rasa frustrasi yang pernah dialami seorang Azhari Aiyub.

Azhari Aiyub pernah memenangkan juara pertama lomba cerpen nasional yang dibuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Salah satu cerpennya Perempuan Pala telah melambungkan namanya di dunia sastra. Sederet prestasi lain yang pernah ia terima yakni mendapatkan beasiswa residen penulis ke Kuba, pearih Anugerah Sastra dari Balai Bahasa, dan peraih Free Word Award dari Belanda. Ia juga menjadi dewan kurator UWRF.

Dalam sebuah kesempatan lain Azhari pernah bercerita, keseriusannya di dunia literasi berawal dari tekadnya yang tak ingin menjadi ‘orang kebanyakan’ di lingkungannya yang tumbuh sebagai anak pesisir di pinggiran Banda Aceh.[]